Maafkan, Nak

Tulisan ini disarikan dari percakapan Toto Rahardjo dengan temannya Dadang Cristanto dan dari grup Whatshap Perdikan (kawan-kawan sejawat Toto Rahardjo)—menarik menjadi catatan dalam pembelajaran hidup kita.

Barusan ngobrol dengan anakku, saling melaporkan keadaan dan kesehatan masing-masing. Terlepas dari situasi yang memprihatinkan bagi manusia di bumi yang tengah dilanda pandemik Corona.

Aku lantas berseloroh dengan masgul, “Aku beruntung ikut menyaksikan dan dapat mengalami kepanikan manusia di bumi terhadap Corona. Ini situasi yang luar biasa. Tak pernah terjadi sebelumnya.”

Melalui Corona, banyak hal yang perlu dikaji dan direnungkan ulang mengenai nilai hidup global manusia di bumi. Segala yang dianggap menjadi kemajuan seperti mesin perang yang beranggaran tinggi untuk pertahanan negara atas nama nasionalisme menjadi dipertanyakan kembali. Ternyata mesin perang sekalipun tak mampu menahan serangan mahluk kasat mata yang dinamakan virus Covid-19, yang sekarang menjadi musuh bersama manusia berbagai bangsa.

“Eh, jika ayah tertular, karena orang tua rentan tertular bukan? Tak bisa diketahui tertular dari siapa dan dimana? Lalu tak tertolong dan mati. Rasanya ayah rela mati dalam situasi dunia yang ‘menakjubkan’ seperti sekarang ini. Dapat melihat drama reaksi umat manusia menyelamatkan diri melawan virus Corona,” ujarku lagi.

 “Sudah?” Anakku bertanya tegas apakah ocehanku sudah tuntas.

“Gini, Ayah. Kau bisa rela mati dengan situasi Corona yang menakjubkan lewat imajinasimu. Rela mati dalam usiamu yang telah tua. Lha, aku yang masih muda? Jelas nggak maulah mati muda karena Corona.” Ia lalu melanjutkan, “Dan ingat, generasimu termasuk generasi yang rakus dan tak pernah puas mengeruk kekayaan bumi. Warisan generasimu adalah  pencemaran lingkungan akut dan perubahan iklim yang nyata. Itu warisan generasimu bagi generasiku.”

Aku lantas teringat pembicaraan bersama kawan-kawan di media daring beberapa waktu yang lalu. Kami saling mengingatkan bahwa kami semua harus berhati-hati karena usia kita semua sudah di atas 50 tahun dan termasuk kelompok risiko.

Jadi yang sekarang harus ditanamkan bahwa kita semua ini bisa jadi sudah positif Covid-19 tapi memang tidak sampai sakit karena kebetulan daya tahan tubuh sedang bagus. Tapi ingat, kita tetap dapat berperan dalam penyebaran dengan menjadi carrier. Itu artinya walau sehat, kita tetap bisa menularkan virus ini pada orang lain. Itu sebabnya kita tidak pergi-pergi. Bukan karena agar tidak tertular, namun juga agar tidak menularkan.

Ini sebetulnya kesadaran solidaritas. Jika ini menjadi kesadaran banyak orang, maka bisa kita maknai sebagai ‘gerakan solidaritas’.

Jadi sekali lagi, rakyat seperti kita ini jangan Gedhe Rumangsa (GR). Jika sampai terjadi lonjakan jumlah pasien melebihi kapasitas kemampuan layanan kesehatan, dokter terpaksa harus membuat skala prioritas. Mana yang dirawat di ICU, mana yang ditaruh di lorong saja. Mana yang perlu dipasang ventilator, mana yang dibiarkan megap-megap hingga maut menjemputnya. Tentu saja jika pasien umur 50-an tahun ke atas ‘diadu’ dengan pasien usia 20 – 40 tahun, maka dokter akan memilih yang lebih punya harapan hidup dan lebih bermanfaat hidupnya. Jadi nasib kita rakyat yang tak punya nama dan punya uang sangat terbatas bisa ditinggal di lorong-lorong sunyi.

Selain itu, realitanya kita semua tahu bagaimana mutu dan kapasitas pelayanan kesehatan di lingkungan di mana pun di keseharian kita. Itu sebabnya yang terpenting adalah kita harus menjaga daya tahan tubuh dan menghindari bepergian ketemu banyak orang. Semata-mata untuk menjaga agar COVID-19 tidak meledak.

Pikiranku kembali dalam percakapan bersama anakku dan gugat yang baru saja ia lontarkan. Bisa jadi memang kita, umat manusia, adalah hama sesungguhnya di planet ini. Covid-19 lantas menjadi ‘antivirus’ atas keserakahan kita. Keserakahan yang tak kunjung membuat kita puas, sekaligus membawa kita tak pernah sedekat saat ini dengan keluarga. Dan ketika kita harus tinggal di rumah, seringkali masih saja terasa seperti terpenjara. Percakapan yang sempat terhenti sejenak kututup dengan jawaban lirih, “Maafkan, Nak.” []