Mengelola Rasa Takut

Di setiap grup WhatsApp, berbagai media sosial bahkan dalam setiap perbincangan selalu disampaikan jangan lagi menulis, memberitakan, membagi tentang covid-19. Alasannya karena itu akan menimbulkan rasa takut dan panik. Sehingga kemudian yg muncul, membuat kelucuan-kelucuan dan membuat berita-berita baik yang konon katanya untuk meningkatkan imunitas karena hati bahagia.

Apakah takut itu selalu buruk?

Benarkah begitu? Ketika secara tak sadar kita tahu betapa penyebaran wabah virus itu semakin merajalela membawa kematian di penjuru dunia, efektifkah anjuran untuk tidak takut tersebut?

Salahkah kita punya rasa takut? Rasa panik? Saya kira, sungguh manusiawi kita punya rasa takut dan panik. Tak ubahnya dengan rasa-rasa lain sebagai ekspresi emosi kita. Kenapa harus ditutup-tutupi dan dimanipulasi, dan membohongi diri sendiri bahkan dengan acuan religiusitas, padahal senyatanya itu semua adalah keadaan senyatanya, riil ada terjadi di hadapan kita bersama, yang memang menimbulkan rasa takut.

Saya mungkin agak beda melihat hal ini, saya lebih suka kalau kita tidak melawan rasa takut itu, tapi mengelolanya untuk bisa mengolahnya agar rasa takut itu tidak menjadi tindakan kontraproduktif. 

Mestinya kita tidak menghindar dari segala pemberitaan tentang kengerian covid 19 yang telah merenggut banyak nyawa itu, tapi justru mencoba memahami, mempelajarinya dan menjadikan sebagai media belajar dalam segala aspek kehidupan, sosial, agama, pendidikan dari sumber2 yang kredibel. Sehingga kita tahu, paham dan tidak paranoid menghadapi, kita tahu apa yang harus kita lakukan, baik dalam menjaga diri untuk tetap sehat, maupun ikut bergerak dalam tindakan keterlibatan secara sosial.

Sekian minggu kita melalui masa sulit ini, jelas sekali bedanya bagi mereka yang mampu mengelola rasa takut menjadi tindakan produktif yang berguna bagi sesama. Seperti kawan2 Kerabat Salam, ada Lucia Pujiastuti atau biasa dipanggil Mimi, dengan posko berbagi sembakonya, atau Mbak Endah Palupi dengan berbagi nasi, Bu Elisabeth Heydy dan  Mbak Gernatatiti dengan Rencang Rancangnya, sampai Sinau Barengnya # Jogja Bergerak punya Mas Nanang Sumaryadi dengan menyalurkan sembako. Mereka melampaui rasa takut karena mampu mengelolanya, sehingga muncul kepekaan dan kepedulian, kemudian mengubahnya menjadi gerakan produktif untuk membantu sesamanya sebisa mereka mampu. 

gerakan membantu bisa dalam bentuk apa saja.

Bayangkan ketika rasa takut itu tidak terkelola dengan baik. Jelas yang kemudian muncul adalah manipulasi rasa, grusa grusu dan tindakan yg justru semakin menimbulkan rasa takut yg meluas. Contohnya sangat banyak, penimbunan masker, panic buying ( bagi yg berduit, yg miskin dpt panic doang, buying-nya???). Paranoid yang lain akibat rasa takut yang tak terkelola adanya penolakan paramedis yg pulang ke rumah, penolakan pasien yg sdh sembuh, bahkan yang lebih miris adalah penolakan pemakaman jenazah korban covid 19. Orang sudah kehilangan akal sehat dan kemanusiaannya. Salah siapa?

So, menurut WHO wabah covid 19 masih akan berlangsung hingga bulan Mei atau Juni, tapi dampaknya bisa lebih lama lagi. Dampak sosial, ekonomi maupun psikhologis. Itu nyata, dan harus kita hadapi.

Salut untuk teman2 yang sudah mampu mengelola rasa takut menjadi gerakan optimis dan peduli sesama. Hormat setinggi2nya bagi para dokter dan relawan yg gugur dalam perjuangan kemanusiaan ini. Mari kita sebagai komunitas terbawah, menjadi pejuang di garis depan untuk mencegah penularan wabah ini agar tak semakin meluas dengan mematuhi anjuran pemerintah, tetap hidup sehat, menjaga jarak namun tetap membangun kepedulian dengan sekitar kita. Semoga tetap sabar, semangat dalam doa, dan menjadi lebih bijaksana. Insya Allah semua akan segera berlalu, tapi mumpung belum berlalu mari kita belajar dari semua pengalaman bersejarah ini. Kita ambil hikmahnya. 

Salam sehat!