Diuji Oleh Pandemi

Minggu ini adalah minggu ke empat proses belajar mandiri diberlakukan di SALAM. Pekan ini dengan bertambahnya jumlah kasus pasien positif Covid-19, Pasien Dalam Pengawasan, serta Orang Dalam Pemantauan, praktis masa penghentian kegiatan belajar di sekolah diperpanjang paling tidak hingga akhir Mei mendatang.

Belajar di rumah

Pada tulisan sebelumya (“Tetap Belajar Meski di Rumah”) saya sudah bercerita soal proses-proses belajar yang kami lakukan selama diberlakukannya physical distancing. Tapi itu kan baru berlangsung dua minggu ya, lalu apakabar setelah empat minggu? Apa yang bisa kami refleksikan melalui peristiwa ini?

Proses belajar mandiri ini sebenarnya adalah ujian yang sesungguhnya buat SALAM, yang selama ini melabel dirinya sebagai sekolah biasa saja, sekolah keluarga, sekolah yang memerdekakan manusia, dan sekolah yang memanusiakan manusia. Sederhana saja, ketika proses belajar mandiri ini berhasil dilakukan berarti konsep-konsep tersebut di atas sudah benar-benar kami lakoni. Sebaliknya jika tidak, dengan berbesar hati harus kami akui bahwa label-label tersebut ternyata hanya “abal abal”.

Wabah virus Corona bagi SALAM merupakan “seleksi alam” bagi seluruh warganya, terutama bagi fasilitator dan orangtua. Fasilitator pada masa ini diuji apakah proses fasilitasi yang dilakukan selama ini adalah proses merawat dan menumbuhkan keinginan belajar atau sama saja dengan sekolah kebanyakan hanya mentransfer dan mencekoki pengetahuan. Fasilitator yang masih tidak percaya bahwa anak mampu membangun pengetahuannya sendiri akan merasa kesulitan di masa ini. Khawatir anak-anak tidak akan “belajar” lalu ujung ujungnya ingin selalu memberi tugas demi memastikan bahwa mereka “belajar”.

Selain fasilitator, orangtua SALAM tak luput juga dari proses “seleksi alam”. Mereka yang pada masa ini masih bingung dan khawatir anaknya tidak “belajar” kalau tidak sekolah sejatinya belum sepenuhnya siap untuk merawat kemerdekaan dan kemandirian belajar anak. Karena, disengaja atau tidak makna belajar sering disempitkan menjadi persekolahan. Anak yang sekolah adalah anak yang belajar. Belajar berarti mengerjakan tugas sekolah. Tidak sekolah berarti tidak belajar.

Jadi apa sebenarnya arti belajar? Belajar adalah proses membentuk pengetahuan dan mengkonstruksikan pemahaman, bukan proses memasukkan atau mencekoki pengetahuan ke diri anak. Tidak perlu jauh-jauh, proses belajar ini sangat alamiah dan melekat pada diri setiap manusia. Ingat saja peristiwa anak belajar merangkak, kemudian berdiri, berjalan, dan berlari. Atau cerita tentang anak yang tadinya hanya bisa menangis, lalu bisa mengucap “”Ma – Ma’, lalu bisa mengucap sebuah kata dengan jelas, kemudian mulai bisa mengucapkan kalimat. Semuanya mengingatkan bahwa sebetulnya manusia akan sangat banyak mengalami proses belajar.

Peristiwa-peristiwa belajar di atas menjadi bukti bahwa sejak lahir sesungguhnya manusia adalah seorang pembelajar sejati, yang tidak puas hanya berhenti pada satu anak tangga saja, ada dorongan yang kuat untuk menaiki tangga berikutnya. Bahwa manusia sejatinya adalah pembelajar mandiri, menentukan sendiri apa yang menjadi kebutuhan belajarnya pada masanya tanpa dipaksa.

Ironisnya modal kuat ini seringkali diperlemah atau justru perlahan-lahan dimatikan secara “tidak sadar” oleh orangtua atau lembaga bernama sekolah. Lama kelamaan belajar dipersempit bahkan berubah makna menjadi transfer pengetahuan, melalui pengajaran, hafalan, kemudian ujian. Di sinilah kemandirian dan kemerdekaan belajar yang sesungguhnya telah direnggut semena-mena.

Pandemi Covid-19 akhirnya memaksa SALAM membuktikan apakah sebenarnya para warga belajarnya sudah siap untuk merdeka dan mandiri. Merdeka dari pikiran-pikiran ingin menyetir dan mengendalikan. Bebas dari pikiran-pikiran yang mengkhawatirkan apakah anak-anak belajar atau tidak. Percaya bahwa keluarga adalah pusat perguruan yang terutama dan  bahwa alam semesta menyediakan sumber belajar yang teramat kaya. Jika kami lulus dari ujian ini bukan tidak mungkin ke depannya akan terjadi transformasi. Mungkin saja SALAM tak lagi berbentuk sekolah, cukup sebagai payung saja bagi tempat berkumpulnya pembelajar-pembelajar mandiri. Ya, kita lihat saja nanti.