Noto Ati lan Ora Rumongso Iso

Ketika menjadi orang tua SALAM dan menjadi fasilitator SALAM ternyata menjadi pengalaman yang sangat berbeda. Itu dirasakan oleh Aji Prasetyo yang baru enam bulan ini memberanikan diri menjadi volunteer di SMA Eksperimental SALAM.

Belajar kapan dan di mana saja

Kenapa berbeda? Menurut Aji, saat menjadi orang tua SALAM prosesnya lebih pada belajar bersama. Dalam artian beradaptasi dengan lingkungan SALAM, berusaha membuka pikiran untuk ilmu yang 180 derajat sangat berbeda dengan yang didapat selama mengenyam pendidikan formal dulu, dan memahami keperluan anak. Komunikasi pun lebih pada hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran dan dukungan yang diberikannya sebagai orang tua. Misalnya saja mengikuti perkembangan riset anak, berusaha hadir dalam kegiatan yang diadakan SALAM atau FORSALAM.

“Komunikasinya ya paling sering ke fasilitator dan anak tentu saja. Kalau pun dengan sesama orang tua lain, lebih pada belajar bersama saja terkait parenting dan infomasi lain,” ujarnya.

Aji sendiri saat masih berstatus sebagai orang tua SALAM pernah mengisi kelas editing foto setiap Kamis. Kala itu, dia menggantikan jadwal kelas fotografi yang masih diampu oleh salah satu orang tua lain, Yanuar Surya.

Lantas apa yang membuatnya tertarik untuk menjadi fasilitator? Menurutnya, dia ingin membagikan knowledge-nya kepada anak-anak. Meski pada akhirnya, justru Aji sendiri yang mendapatkan transfer knowledge dari siswa-siswa SMA Eksperimental SALAM. Kok bisa?

“Ya, justru saya yang belajar banyak dari anak-anak. Belajar bagaimana noto ati (menata hati), tidak menjadi sosok yang rumongso iso atau dalam kata lain menggurui. Karena anak-anak ini adalah guru untuk diri mereka sendiri dan justru jadi guru untuk saya,” ungkapnya.

Aji sendiri mengaku dalam mendampingi anak-anak harus bisa menahan diri untuk tidak mengajari atau memberikan petunjuk praktis bahkan mengarahkan. Misalnya saja, saat ada anak yang ingin tahu program atau software untuk desain, dia benar-benar harus menahan diri untuk tidak mengarahkan siswanya menggunakan satu software andalannya. Tapi bagaimana membuat si anak memiliki referensinya sendiri dengan mencoba banyak software, karena ini merupakan bagian dari proses pengumpulan data si anak tersebut.

Menjadi fasilitator juga mengajarkannya untuk menahan emosi. Juga mengasah skill-nya dalam berkomunikasi. Menurutnya, berkomunikasi dengan anak-anak remaja membutuhkan pendekatan khusus. Begitu pula mengomunikasikan perkembangan anak-anak kepada orang tuanya. Apalagi, tiap anak memiliki tantangan yang berbeda-beda. Dan, tiap orang tua juga memiliki pola pikir berbeda pula. Di situlah peran fasilitator berada.

Aji bersama murid-murid SMA Eksperimental SALAM

Dalam perjalanannya menjadi fasilitator, Aji menuturkan sebisa mungkin bisa memberikan dukungan kepada siswanya. Berusaha menjadi teman, karena anak-anak yang didampinginya merupakan remaja yang akan beranjak dewasa. Pendekatan yang dilakukan pun selayaknya bisa menyelami dunia remaja.

“Secara umum, dunia remaja sekarang dan dulu sama saja. Hanya mungkin media dan tantangan pergaulannya saja yang sedikit berbeda dari zaman saya muda dulu,” tuturnya.

Dukungan yang Aji maksud ini misalnya saja menjadi teman diskusi si anak. Tak hanya tentang proses belajar dan riset saja, tapi juga hal lain terkait pergaulan, gaya hidup, dan lainnya. Dia mengaku ingin hadir di setiap proses yang dilalui oleh teman-temannya yang saat ini masih belajar di bangku SMA itu.

“Saat mereka sedang workshop maupun ketika magang, saya sesekali datang. Say hai saja. Terkadang saya mengajak anak dan istri untuk menyaksikan anak-anak SMA Eksperimental SALAM berkarya,” ujarnya.

Aji menegaskan bahwa fasilitator bukanlah sebuah pekerjaan. Tapi ini adalah prosesnya untuk memberikan perhatian lebih pada anak-anak, sampai menerapkan ke kehidupan pribadi dan keluarganya. Sebuah perjalanan panjang untuk menjadi manusia yang bisa bermanfaat untuk orang lain. (*)