Sebuah Diskusi Kecil yang Berawal dari Sedikit Kegelisahan

Catatan kecil dengan makna yang besar dari salah satu siswa SMA Eksperimental SALAM Raissa Kanaya. Tulisan ini merupakan buah pikir sekaligus kegelisahannya pada pendidikan, tak hanya di lingkup sekolah saja tapi secara menyeluruh. Catatan kecil ini bisa berupa sebuah pengingat, atau bahkan penyengat, untuk kita semua.

Keluarga besar Sanggar Anak Alam.

Pendidikan di Indonesia didominasi dengan model pendidikan guru-murid. Di mana guru menjadi sumber belajar dan pusat pengetahuan. Sampai-sampai melahirkan stigma, kalau proses belajar harus bersama guru dan berada di sekolah. Dalam upaya mengkritisi model pendidikan guru-murid, pak Toto dan bu Wahya merancang dan mengonsepkan pendidikan yang kritis sehingga memerdekakan sang pembelajar. Pak Toto menggunakan hal yang “tidak menyenangkan” sebagai pijakannya mengonsepkan proses belajar di SALAM.

Aku beberapa kali membuka topik obrolan tentang proses belajar di SALAM dengan teman-teman yang kebanyakan adalah seorang mahasiswa. Salah satu dari mereka berargumen bahwa sekolah non-formal seperti SALAM kedepannya akan menjadi sebuah trend. Argumennya terekam dan terus menerus terulang di kepalaku membuat keresahan. Betapa mirisnya ketika sekolah seperti SALAM hanya menjadi sekedar trend. Menomer-sekiankan latar belakangnya sebagai upaya mengkritisi model pendidikan yang dibangun pemerintah.

Argumen temanku juga diperkuat dengan hal-hal yang kuperhatikan di SALAM. Cara belajar SALAM yang berbeda dengan sekolah formal memang akhir-akhir ini menjadi sorotan media. Hal ini membuat keluarga baru SALAM bertambah lebih banyak dari semester-semester sebelumnya. Mereka beragam ada yang sudah mengenal dan familiar dengan sistem belajar di SALAM ada pun yang masih asing dengan sistem belajar di SALAM. Beberapa dari mereka yang masih asing kulihat menetapkan ekspektasi yang jauh bersimpangan dengan SALAM. Para orang tua berharap setelah menyekolahkan anaknya di SALAM , akan menjadikan putra-putrinya pintar (pintar seperti dalam sudut pandang mereka). Ditambah lagi mereka enggan menyempatkan hadir dalam proses belajar anaknya. Padahal, SALAM menyakini keluarga memiliki peranan penting pada proses belajar si anak. Juga mahasiswa-mahasiswa yang merasa keren ketika menjadi fasilitator di SALAM. Penyimpangan niat ini pula yang membuat mereka terlihat tidak sungguh-sungguh dalam memfasilitasi. Bahkan, datang perginya tanpa pamit. Hanya saja aku menyayangkan, kalau kalau mereka tidak mendapatkan hal apapun setelah bergabung di SALAM. Eman-eman, Kak, huhuhu..

Aku sendiri pun enggak paham, apa alasan orang-orang bergabung dalam suatu komunitas tanpa mengetahui seluk beluknya. Tapi setelah membaca-baca artikel yang ditulis pak Toto di web salamyogyakarta.com, ternyata dari seluruh keresahan itu ujung persoalannya ada di cara berpikir, dan cara berpikir merupakan produk dari pendidikan.