Buku Kosong

“Buku kosong” adalah dua kata yang ternyata malah menari-nari dalam pikiran saya setelah mengikuti sarasehan orang tua pada hari Sabtu, 5 Oktober yang lalu di ruang Taman Anak SALAM, dalam rangka refleksi bersama menjelang usia Sanggar Anak Alam yang akan genap 20 tahun, di tahun 2020 nanti.

Mengapa buku kosong? Karena buku kosong ini merupakan bagian dari cerita Bu Agnes, ibu dari Angel, yang baru tahun ini bergabung dengan Salam. Sebelumnya Angel masuk ke sekolah formal sejak TK sampai SMA. Saat hampir kenaikan kelas ke kelas 2 SMA, tiba-tiba Angel meminta pindah sekolah. Akhirnya Angel bergabung dengan SALAM.

Pertanyaan menggelitik di benak Bu Agnes yang diungkapkan saat sarasehan tersebut, mengundang senyum dan heran di wajah beberapa orang tua. Mungkin ortang tua yang sudah lama menjalani proses di SALAM tak banyak heran karena sudah terbiasa. Namun bagi Bu Agnes tentu berbeda.

“Mengapa buku tulis anakku kosong? Tak seperti saat bersekolah di sekolah formal?”

Ngapain aja ya di Salam? pikir sang ibu.

Ternyata Bu Agnes belum punya gambaran lengkap seperti apa sekolah di Salam, hanya saja ia merasa senang karena anaknya sudah kembali bersemangat untuk sekolah. “Yang penting dia mau sekolah dulu,” ungkap Bu Agnes.

Moderator sarasehan yaitu Bu Dede yang juga sudah malang melintang di dunia per-SALAM-an, mengambil momen ini untuk menyampaikan kekhawatiran Pak Toto yang pernah diceritakan padanya, “Jangan-jangan masih ada orang tua SALAM yang belum paham betul bagaimana sih belajar di SALAM? Jangan-jangan masih ada orang tua SALAM yang memasukkan anaknya ke sini karena kepepet, semata-mata karena tidak ada sekolah formal yang dapat mengakomodir kebutuhan anaknya?”

Bu Dede pun kembali mengingatkan bahwa tujuan sarasehan ini sebagai sarana untuk orang tua Salam merefleksikan kembali apakah sudah menjiwai prinsip Urip Bebrayan di sekolah yang sudah mereka pilih ini. SALAM bukanlah tempat untuk menitipkan anak semata-mata. Urip Bebrayan seperti diceritakan Bu Wahya pendiri SALAM, dimaksudkan bahwa Salam merupakan sekolah keluarga.

Awalnya SALAM didirikan untuk  mengakomodasi kegelisahan orang tua, mulai dari beban sekolah yang terlalu berat, ada anak mogok sekolah dan sebagainya, tapi mereka tidak tahu bagaimana memulai sesuatu yg baru. Maka semua harus dikerjakan bersama. Bisa dikatakan bahwa SALAM sebagai eksperimen dalam membuat sekolah yang menyenangkan, anak-anak bisa belajar tanpa merasa dibebani. Jadi, sejak awal orang tua punya peran bersama. Orang tua mendampingi proses pembelajaran, proses penyelenggaraaan dan kontinuitas SALAM ke depannya.

Bu Agnes kembali bercerita tentang perbedaan anaknya sebelum dan sesudah bersekolah di SALAM. Saat ini Angel sudah terlihat nyaman, sudah mulai mengenali cara belajar di Salam. Angel menunjukkan minatnya ke batik shibori. Menurut Bu Agnes, ada kemajuan yang dirasakan. Beliau pun mendapatkan cara pandang baru, bahwa sebagai orang tua ternyata memang harus banyak belajar.

Nah hal yang tak kalah mengundang tawa dari para orang tua lain, yaitu saat Bu Agnes bercerita mengalami kesulitan menjawab pertanyaan dari orang di sekitarnya tentang sekolah Angel. Maka dengan singkat beliau menjawab, “Datang aja ke SALAM!”

Bu Dede sebagai moderator kembali mengajak peserta diskusi ber-refleksi atas hal yang dialami Bu Agnes tadi, “Sudahkah orang tua mampu menjawab Sekolah apa sih SALAM itu?”. Ada yang berpendapat, baca saja buku “Sekolah Biasa Saja” dan buku “Sekolah Apa Ini”. Ada yang berkomentar, datang saja ke Bu Wahya. Ada yang menjawab, Salam itu yaa sekolah keluarga.

“Tapi ada gak sih kepekan (contekan) supaya jawaban saya itu bisa memberi gambaran tentang SALAM tanpa berpanjang-panjang kata? tambah Bu Agnes. Semua pun tertawa.

Memang untuk mengenal SALAM, tidak cukup hanya mendengar kabar atau berita media sosial, atau sekadar cerita teman. Datang langsung, amati proses dan ikut terlibat adalah cara yang lebih akurat untuk memahami proses belajar di SALAM. “Kalau Anda mau tahu SALAM, saya butuh waktu 365 hari untuk menceritakannya,” kata Bu Dede.

Salah satu kegiatan belajar di SALAM

Anak di sekolah formal, seperti yang saya alami sendiri atau amati sejak kecil, memang berbeda kondisinya. Masalah buku itu menjadi hal yang sangat penting. Ada buku latihan, buku ulangan dan buku catatan. Itu baru untuk 1 mata pelajaran. Padahal ada banyak mata pelajaran di sekolah. Tak heran tiap mulai tahun ajaran baru, toko buku dan alat tulis sukses menuai berkah karena meningkatnya omset penjualan buku tulis. Oh My God!

Ini baru soal buku, belum kelengkapan sekolah yang lain. Belum lagi menghadapi guru yang aneh-aneh, minta buku disampul plastik, kertas cokelat, bahkan ada yang minta sampul kertas kado motif garis. Lalu guru yang suka anak-anak didiknya mencatat secara lengkap, paragraf baru menjorok ke dalam, garis tepi sekian cm. Setiap waktu tertentu catatan dikumpulkan lalu diberi nilai. Oh My God jilid 2!

Jika ada yang tidak mencatat atau ribut di kelas, akan ada hukuman tertentu. Tidak mengerjakan PR dihukum. Saat ulangan tidak siap, dapat nilai jelek, disuruh minta tanda tangan orang tua. Sudah jatuh tertimpa tangga, sudah dimarahi guru, dimarahi orang tua. Bagi anak yang sering menerima hukuman, sering pula menjadi ejekan teman-temannya. Oh My God jilid 3!

Ah sudahlah! itu zaman saya sekolah dulu. Barangkali sekarang sudah tidak. Semoga.

Kembali ke tema buku kosong. Bu Agnes yang mendapati buku anaknya masih kosong memang wajar terheran-heran, mengingat pengalaman sebelumnya di sekolah formal. Justru inilah poin penting yang sangat layak direfleksikan, bukan hanya untuk orang tua SALAM, melainkan untuk siapa saja yang punya keprihatinan atau ganjalan yang sama.

Anak bukan buku kosong! Sebuah buku kosong belum bisa menggambarkan segala yang dirasakan, dialami, dipikirkan atau diharapkan seorang anak. Pun begitu dengan buku penuh coretan atau tulisan, juga belum tentu bisa mengungkapkan semuanya.

Saya meminjam tulisan dari Bukik Setiawan, seorang penulis dan pemerhati pendidikan; dalam pengantar bukunya “Anak Bukan Kertas Kosong” yang di dalamnya banyak mengungkapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara,

“Kegelisahan saya menemukan jawabannya di gagasan dan praktik pendidikan Ki Hajar Dewantara. Tiga pemikiran Ki Hajar Dewantara yang saya catat dan semakin meyakinkan saya untuk menulis buku ini. Pertama, bahwa setiap anak itu istimewa. Beberapa kali beliau menjelaskan bahwa anak bukanlah kertas kosong. Anak mempunyai kodratnya sendiri, yang tidak bisa diubah oleh pendidik. Pendidik hanya bisa mengarahkan tumbuh kembangnya kodrat tersebut.”

“Kedua, belajar bukanlah proses memasukkan pengetahuan ke dalam diri anak. Belajar adalah proses membentuk pengetahuan, mengkonstruksikan pemahaman. Ki Hajar Dewantara sering menggunakan metafor tumbuhan untuk melukiskan proses belajar yang dialami seorang anak. Belajar bukan menanamkan pengetahuan, tapi menumbuhkan potensi anak. Pendidik tidak bisa mengubah kodrat anak, pendidik hanya mengarahkan tumbunya kodrat tersebut.”

“Ketiga, Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya peran keluarga dalam pendidikan anak. Keluarga adalah pusat pendidikan. Orangtua mungkin bisa mendelegasikan pengajaran pada kaum ahli, tetapi pendidikan anak tetaplah menjadi tanggung jawab orangtua. Peran orang tua tidak tergantikan oleh sekolah, lembaga pendidikan, pun lembaga bakat.

“Saat ini, pemikiran Ki Hajar Dewantara dipinggirkan oleh arus besar. Anak-anak diseragamkan dan distandarkan melalui serangkaian proses belajar dan ujian. Anak dipaksa belajar, bukan karena gemar, tapi agar lulus ujian. Peran keluarga diminimalkan hanya untuk urusan mikro dan teknis. Kebijakan pendidikan yang berdampak pada anak tidak melalui proses mendengarkan pandangan orang tua. Orang tua hanya menjadi objek penderita, yang pontang-panting membantu anaknya ketika sebuah kebijakan pendidikan diluncurkan.”

Dari beberapa ungkapan pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut, sudah bisa kita simpulkan bersama, bahwa buku kosong anak tidak perlu menjadi soal karena pendidikan itu bukanlah menanamkan pengetahuan melainkan bagaimana pendidik mengarahkan potensi setiap anak yang tentu berbeda satu sama lain. Tinggal kita, khususnya orang tua sebagai pendidik PERTAMA dan TERUTAMA yang mengarahkan dan mendampingi tumbuh kembang minat dan potensi anak.

*****

“Bermainku..belajarku…

Jangan buat aku duduk terpaku…

Hanya mendengar…kemudian berlalu…

Biarkan aku pahami dengan caraku.”

–Ditulis sebagai bagian dari refleksi bersama dan dokumentasi Divisi Buku Panitia 20 Tahun Salam–