Melukis Kenangan

Pagi ini diawali dengan cuaca yang menyedihkan untuk cuci baju, karena sejak subuh langit sudah berderai menurunkan hujannya yang cukup lebat. Saya kawatir karena hari ini ada agenda home visit TA (Taman Anak) SALAM di rumah keluarga Angger. Untunglah rasa kawatir itu tidak perlu berkepanjangan karena sekitar jam 8 langit sudah lelah menangis. Mentari juga mulai senyum manis, siap membuat kulit terasa hangat kembali.

ORTU megantar Anak-anak Home Visit

Rumah Angger sangat dekat dengan rumah kami, di Kweni, Panggungharjo, Sewon, Bantul, hanya 3-5 menit jika ditempuh dengan naik motor. Kegiatan yang sudah direncanakan tim home visit kali ini (Ortu Angger, Awa, Ael dan Arunda) yaitu melukis di atas batu dan berpetualang di sekitar rumah Angger. Setelah para ortu dan anak-anak cukup banyak yang datang, maka kegiatan pun segera dimulai. Kira-kira pukul 9.30, anak-anak diajak berkumpul untuk kegiatan pembuka (salam, doa, lagu). Lalu yang istimewa dari home visit bulan ini, pemandunya bapak-bapak, ada Pak Mahendra (Pampam Mahendra) ortu Arunda dan Pak Sea ortu Awaloka.

“Teman-teman, hari ini kita akan menggambar, melukis di batu, tapi syaratnya harus seneng dulu lho ya, supaya bisa berkreasi nanti,” kata Pak Mahendra mengawali kegiatan lukis batu tadi.

Pak Sea dengan gayanya yang khas dan lebih senang disebut sebagai bapak rumah tangga, turut sigap membantu Pak Mahendra, layaknya seorang asisten handal, baik menjelaskan alat dan bahan sekaligus mendistribusikannya kepada anak-anak.

Saya bertanya di mana batu-batu untuk melukis itu didapat. Ternyata kata Pak Sea, batu-batu aneka ukuran tersebut diambil dari Kali Opak, yang alirannya sampai di dekat rumah Pak Sea di Kalasan sana.

Anak-anak melukis batu

“Wowwwww…” mantap jiwa kan ambilnya dari Kalasan.

Sebelum anak-anak mulai melukis, Pak Mahendra terlebih dahulu menjelaskan alat-alat dan bahan yang diperlukan. Ada kuas dan palet, cat dan tentu saja batu.

Dari Mbak Nur, ibu Arunda, yang artinya juga adalah istri Pak Mahendra, saya jadi tahu ternyata cat yang dipakai merupakan campuran bahan-bahan sisa yang ada di rumah. Hal ini tidak mengherankan karena Pak Mahendra ini memang berprofesi sebagai pekerja seni/ pelukis. Jadi tak perlu membeli yang baru, lebih baik memanfaatkan semua yang masih bisa digunakan.

Anak-anak pun mulai melukis dengan asyik. Sampai ada anak yang merasa masih kurang melukis 1 batu, kemudian melukis di tempat yang lain, seperti di tem….bok…upsss dan di batu-batu lain. Wahhhh untung saja Pak Angga sang pemilik rumah sangat baik hati dan baik budi, sudah sangat memaklumi anak-anak. “Lha itu…di sana sudah ada karyanya Angger juga di tembok,” kata beliau dengan bahagia sambil menunjuk arah tembok yang digambari putranya.

Selesai mengecat batu, anak-anak masih butuh menyalurkan energi mereka yang tak terbendung. Maka Pak Sea segera mengajak anak-anak keluar untuk bermain bola di samping rumah keluarga Angger. Lapangannya luas sekali, sangat sesuai untuk anak SALAM yang gemar berlari ke sana ke mari tak kenal henti. Ada pula yang memilih bermain gendong-gendongan dengan kawannya.

Sementara di sebuah sudut nan syahdu, tampak beberapa orang tua duduk santai sambil mengobrol. Para orang tua yang kerap menyebut diri SELO (punya banyak waktu luang) ini, bertukar pikiran dan guyon melepas lelah, sambil mengawasi anak-anak yang berlarian.

Pak Sea yang sejak tadi sudah berkalung atau bersabuk selendang gendongan batik itu, lalu mempimpin diskusi tentang kegiatan akbar SALAM yang akan dilaksanakan sekitar akhir Maret nanti. Pasar Pangan adalah inti diskusi orang tua siang ini, yang diharapkan dapat menjadi penguat hubungan kekeluargaan khususnya warga TA Salam, sekaligus membantu propaganda:

“Kurangi Konsumsi Gandum”
“Kurangi Penggunaan Plastik”
“Kurangi Konsumsi Makanan dengan bahan pewarna, pengawet, penyedap dan pemanis buatan”

Pak Sea bilang, “kelas TA punya potensi yang bagus untuk mengembangkan pasar pangan nantinya,” kemudian membuat kami ibu-ibu kembang kempis hidungnya karena mendengar tantangan pengelolaan pasar pangan ini.

Diskusi selanjutnya yang tak kalah menarik dipimpin oleh Mbak Bekti (ortu Bumi), yang juga menjadi mbak ketua kelas TA. Kami membahas tentang kegiatan minitrip untuk bulan depan. Ide-ide pun bermunculan. Namun yang harus dipastikan adalah hasil survei setiap tempat calon tujuan minitrip dan keinginan anak-anak, bukan keinginan ortunya.

Ahhh senangnya hari ini, ditemani semilir angin persawahan dekat rumah keluarga Angger. Kami bisa bersenang-senang, makanannya banyak dan membuat kenyang, serasa kami tak ingin pulang, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang.

Mbak Butet, ibu Angger juga tak kalah bahagia, sambil menggendong Pandu buah hatinya yang baru lahir, putra ketiganya, beliau tetap berusaha mengikuti kegiatan hari ini hingga selesai. Si bayi mungil juga sepertinya mengerti sedang ada acara di rumahnya, dan tetap tenang tanpa tangisan.

Momen bahagia ini perlu kami lestarikan, maka kami minta Pak Sea yang menganggap selfie itu konyol, untuk mengambil foto bersama, hehehe.”

“Pak…pakai boomerang, Pak,” seru kami.
“Boomerang itu gimana?” kata Pak Sea kebingungan.

Boomerang adalah aplikasi untuk mengambil serangkaian foto dan merangkainya menjadi video mini berkualitas tinggi yang bisa diputar maju-mundur.

Lalu, kami berfoto lagi pakai boomerang, namun yang melakukan setting bukan Pak Sea, hihhihi.

langit semakin tampak gelap, angin juga berhembus makin kencang. Sebelum hujan badai menerjang, kami pun satu per satu pamit pulang.

Terima kasih untuk tim home visit dan semua saja khususnya keluarga Angger yang sudah merelakan rumah besarnya dipenuhi hiruk pikuk suara dan tingkah kami.

Dunia yang berwarna dengan keindahan sendiri mari kita warnai dengan suka cita dan hari ini kegembiraan terbagi karena warna-warni yang kita miliki (Widhi)

“Melukis batu
melukis indahnya hari ini dengan penuh warna
membaca makna
keluarga tak cuma dari satu atap
yang terikat hubungan darah
keluarga serupa ikatan tawa air mata
silih berganti mengisi hari
penuh kenangan tak boleh dilupa
TA SALAM keluarga selamanya”