Salam Kebebasan

Apa arti kebebasan anak di Sanggar Anak Alam Jogja (SALAM)?

“Liar”
“Sakgeleme”
“Ra aturan”
“Ngeyelan”

Suasana TA, Taman Anak SALAM

Itu ungkapan-ungkapan yang sering saya dengar sebelum dan sesudah saya menjadi keluarga SALAM. Banyak orang masih memiliki stigma negatif terhadap siswa-siswa SALAM. Namun tak sedikit orang khususnya orang tua SaALAM yang justru memandang positif karena melihat wajah anak-anak yang riang gembira berekspresi tanpa dibuat-dibuat, dengan “seragam” khas Salam yaitu tanpa seragam, bermain dan belajar tanpa dikekang, tanpa beban pekerjaan rumah atau ujian yang menjadi momok serta mimpi buruk di waktu mata lelah mereka terpejam.

Sebenarnya, kebebasan macam apa sih yang ingin dikembangkan di SALAM? Berikut ini tulisan hasil pengamatan saya sebagai orang tua mengenai metode belajar yang digunakan di SALAM, di kelas TA (Taman Anak), semoga dapat menjawab pertanyaan teman-teman ortu lain yang ingin tahu lebih banyak tentang KEBEBASAN di SALAM.

Secara umum, jam belajar efektif di TA dimulai pukul 8.00-11.00, setiap hari Senin-Jumat. Sabtu dan Minggu disebut hari keluarga, yang diharapkan anak-anak punya waktu berkualitas bersama keluarga masing-masing. Di hari Jumat, sering diadakan kegiatan luar kelas seperti berenang, minitrip, home visit dan parenting session.

Contoh aktivitas yang saya amati pada hari ini, 23 Januari 2019, kira-kira begini susunannya:

  1. Pukul 8.00, fasilitator TA (5 orang) sudah menyiapkan kelas dengan beberapa pilihan aktivitas, sambil menunggu anak-anak yang berdatangan. Berdatangan? Iya, jam kedatangan anak-anak memang berbeda, disesuaikan masing-masing kondisi di rumah. Apakah ada yang terlambat? Saya lebih sreg menyebutnya jam kesiapan. Di SALAM memang tidak saklek harus datang jam 8, dan jika ada anak yang datang setelah jam 8, tetap disambut dengan hangat, tidak dipermalukan/diberi hukuman. Bagi anak-anak yang masih ingin ditunggu, ortu diperbolehkan bebas menunggu di dalam atau luar kelas.
  2. Anak-anak yang sudah datang, boleh memilih aktivitas yang disukai. Dalam pengamatan saya, ada banyak pilihan bagi mereka, mulai dari bermain papan luncur, main bola, membaca buku, bermain puzzle, bermain lego, menggambar, mewarnai, bermain boneka, berkreasi membuat sesuatu atau diberi tantangan oleh fasilitatornya.

Seperti pada hari ini, Bu Hesti, Bu Ririn, Bu Widhi, Mbak Ayu dan Mbak Virgie (para fasilitator TA yang saya sebut the Big Five ) sibuk menemani anak-anak, selalu mengamati kebutuhan anak-anak. Gara, anak saya yang juga sedang ingin ditunggui di sekolah, mengerjakan tantangan dari Bu Hesti, yaitu membuat garis di atas kertas yang sudah diberi lukisan tetes lilin. Anak-anak yang membuat garis tidak boleh mengenai tetesan lilin di kertas. Anak-anak jadi penasaran, dan banyak yang merubung Bu Hesti.

Ada pula seorang anak yang ditunggui secara personal oleh Bu Widhi, dengan serius dia berusaha menyelesaikan gambarnya. Sementara Bu Ririn banyak menemani anak-anak yang ingin beraktivitas di luar ruangan. Bu Ririn bahkan sering ikut bermain bola bersama teman-teman kecil.

  1. Kira-kira pukul 9.30-10.00, fasilitator kemudian mengajak anak-anak berkumpul, melihat kesiapan anak-anak juga, mereka berdoa, menyanyi dan kegiatan keakraban lainnya. Berdoa bersama merupakan hal rutin yang dilakukan sebelum memulai dan mengakhiri kegiatan, bisa dilakukan di mana saja, dan anak-anak diberi kesempatan memimpin bergantian.
  2. Setelah berdoa, fasilitator menjelaskan kegiatan bersama yang akan dilakukan. Hari ini agendanya membuat lukisan dari tetes lilin (mengucap kata lilin saja bagi saya kok terdengar syahdu ya). Anak-anak dikekompokkan menjadi dua, yaitu kelompok TA Kecil dan kelompok TA Besar. Mereka masing-masing didampingi untuk berkreasi dengan kertas dan lilin. Jika ada anak yang belum mau ikut kegiatan, fasilitator tidak akan memaksa. Lagi-lagi ini adalah sebuah kebebasan yang mahal, eksklusif, dan mungkin tak banyak guru akan legowo bila anak didiknya mogok kegiatan (saya saja gemessss kalau lihat anak saya ga mau ngapa-ngapain )
  3. Pukul 10.30 kira-kira, anak-anak selesai beraktivitas terpimpin, lalu diajak cuci tangan dan berdoa sebelum makan snack. Mereka kemudian antre untuk mendapatkan snack. Setia hari kecuali Kamis, para ortu bergantian membawa snack sehat sesuai jadwal yang sudah dibuat. Jadwal snack bisa ditukar dengan konfirmasi dan saling mengingatkan. Setiap ortu yang mendapat jatah snack, dapat menukarkan voucher subsidi snack dengan sejumlah uang yang sudah ditetapkan sekolah. Untuk hari Kamis, sekolah menyediakan makan sehat untuk anak-anak, tujuannya memperkenalkan juga beragam makanan khususnya pangan lokal yang selalu dikedepankan sekolah biasa saja ini.
  4. Pukul 11.00 (dan seringnya lebih sih karena anak-anak begitu antusias beraktivitas), fasilitator akan mengajak anak-anak berkumpul kembali untuk berdoa sebelum pulang, kemudian menunggu satu per satu dari mereka dijemput. Wahhh kadang-kadang ada juga anak-anak yang terlambat dijemput atau bahkan tidak mau pulang kemudian lanjut bermain ke sana ke mari. Weleh-weleh pastinya fasilitator punya cadangan energi superpower sehingga tetap lincah menemani anak-anak bermain. Padahal usia mereka sebagian tak lagi muda lho, salut untuk ibu-ibu penuh kesabaran ini.
Mereka menggambar jalan berbeda menuju rumah

BEBAS di SALAM, saya rumuskan seperti ini:

BEBAS berekspresi, saat senang saat sedih, saat malas, tidak mood, ingin sendiri, tidak ingin apapun. Di sini perasaan anak sangat dihargai, dan tidak ada yang salah jika sewaktu-waktu anak tidak mau ikut kegiatan bersama. Mereka pun boleh mengungkapkan keinginan atau berpendapat. Fasilitator hanya mengingatkan  ketika sesuatu sudah keluar batas seperti menyakiti diri atau orang lain, serta kemungkinan merusak barang.

Antisipasi agar tidak keluar batas yaitu dengan adanya KESEPAKATAN dan PRINSIP ANAK HEBAT (Jaga diri, jaga teman, jaga lingkungan).

ORTU BEBAS memutuskan, mau berangkat sekolah atau tidak, di jam berapa kesiapannya, mau menyediakan snack apa, mau merencanakan kegiatan apa untuk home visit, parenting, minitrip, pasar ekspresi, dan kegiatan lain sehubungan dengan pembelajaran selama tahun ajaran yang berlangsung.

Yang perlu dijadikan pedoman adalah selalu berkomunikasi dengan para fasilitator, karena pendidikan di Salam akan berhasil jika ada kerja sama yang baik di antara ortu, fasilitator dan anak.

Selain itu, keinginan dan minat anak diselaraskan dengan kebutuhan sesuai usia mereka. Dalam menyusun kegiatan program belajar, menyesuaikan kalender akademik serta tema-tema belajar yang telah disampaikan fasilitator di awal semester.

Sering saya jumpai di grup WA bersama ortu-fasi TA, para ortu mohon izin tidak masuk sekolah karena anaknya ingin belajar di rumah, atau anak-anak sedang ingin ikut ortunya bekerja. Di sekolah lain, mungkin kenyataan seperti ini akan dianggap terlalu santai dan tidak mendidik. Namun ketika saya ber-refleksi lebih dalam, yang muncul di benak saya adalah pertanyaan, “Bukankah anak-anak itu tanggung jawab orang tua, orang tua adalah pendidik utama dan terutama?”
Dengan begitu selesai sudah, semua terjawab. Seorang anak apalagi di usia 4-5 tahun, bukankah wajar jika ingin selalu bersama ortunya. Tidak masalah jika suatu hari anak saya hanya ingin ikut kegiatan saya mengantar pesanan, tidak masalah jika anak ingin belajar di rumah bersama ortunya. Di Salam kami BEBAS merencanakan dan memutuskan, lagi-lagi yang harus diutamakan adalah anak. Dan anak-anak sebetulnya belajar apapun dari keseharian mereka. “Jangan sok serius dan berpikiran sempit ah mengartikan kata belajar,” kata hati saya mengingatkan.

BEBAS bukan berarti sakgeleme tanpa batasan, melainkan ditetapkan bersama batasannya, disepakati bersama apa yang boleh dan tidak boleh, dan jika melanggar maka perlu saling mengingatkan, jika perlu kesepakatan dievaluasi, direvisi.

BEBAS bukan berarti liar tak terkendali, melainkan anak-anak (dan ortu) diajak berdisiplin diri, swadisiplin, tahu tanggung jawab yang harus dilakukan, mandiri memutuskan apa yang menjadi minat dan melakukan yang terbaik untuk mengembangkan potensi.

BEBAS bukan berarti ra aturan, melainkan setiap peraturan yang dibuat masih bisa dikomunikasikan dan disesuikan kondisi anak-anak.

BEBAS bukan berarti ngeyelan, melainkan anak-anak tidak perlu diseragamkan mau apa dan bagaimana, bebas mengeluarkan pendapat yang berbeda dari para fasilitator atau ortunya. Ngeyel itu sejatinya proses anak-anak berpikir juga bukan? Anak-anak pun perlu didengarkan apa yang menjadi argumentasi atau pemikiran mereka.

Untuk menutup tulisan ini, saya hendak mengutip kata-kata dari Charlotte Mason, seorang pendidik Inggris yang terkenal dengan metode pendidikan karakter CM (banyak dipakai praktisi homeschooling):

“Jiwa semua anak – apa pun ras, strata sosial , dan gendernya – selalu sedang menunggu untuk digugah. Dan sekali tergugah, mereka akan selamanya terbangun untuk mencintai pengetahuan dan kehidupan. Anak-anak yang seumur hidup mencintai proses belajar, yang belajar bukan demi imbalan pujian, gengsi, atau keuntungan material lainnya, melainkan terutama karena kegembiraan dalam belajar itu sendiri, yang tumbuh menjadi pribadi berwawasan luas penuh ide-ide akbar dengan karakter luhur yang berangkat dari tertanamnya kebiasaan-kebiasaan baik, tidakkah itu yang seharusnya dicita-citakan oleh sistem pendidikan? Visi itu hanya bisa digapai jika sistem pendidikan ditegakkan di atas asumsi-asumsi dan konsep-konsep yang benar, lalu dibangun dengan metode yang tepat. “Konsekuensi dari kebenaran itu terlalu besar, kita tidak boleh lalai menimbangnya,” berulang-ulang Charlotte mengingatkan hal itu (hal. 5 dalam buku Cinta yang Berpikir).

Semoga kita sebagai orang tua, selalu memandang anak sebagai pribadi yang utuh dan mengingat betapa pentingnya kebebasan dan jiwa merdeka seorang anak untuk dapat berkembang sesuai potensinya. Semoga anak-anak kita pun menjadi anak-anak yang mencintai proses belajar, mencintai kehidupan. []

Salam kebebasan!