Apa Daya Tak Masuk Kuota

Dari sawah turun ke hati, dari hati menjelma menjadi suka. Namun apa daya tak semua suka berakhir sesuai harapan. Ingin sekolah di tengah sawah, namun apa daya tak masuk kuota. Mungkin itu pula yang dirasakan salah seorang anak berusia sekitar lima tahun, Bumi Ing Raga, anak sahabat saya semasa SMA.

Namaku Bumi

“Besok Bumi mau sekolah di sekolah yang dekat rumah budhe Reren. Itu lho yang di sawah,” begitu ujarnya setiap orang bertanya dia akan bersekolah di mana saat TK.

Si ibu, Dini, sudah beberapa kali datang ke SALAM. Pertama untuk kelas Kelompok Bermain, sayang kelasnya sudah penuh. Kemudian saat Taman Anak, ternyata sudah penuh juga. Kayaknya belum jodoh memang dengan SALAM. Sad story banget.

Saat ini Bumi masuk TK di sekolah dekat rumahnya di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Menurut sang ibu, setiap kali akan berangkat ke sekolah, anaknya baik-baik saja. Semangat juga saat akan ke sekolah. Di sekolah juga bisa mengikuti semua kegiatan yang diadakan di sekolahnya. Namun, saat ditanya bagaimana tadi di sekolah, dia seolah enggan untuk membahasnya.

“Bahkan saat ditanya Bumi sekolah di mana? Jawabnya selalu “Bumi SD di sekolah sawah”. Dia bahkan tak mau membahas sekolahnya yang sekarang,” ujar Dini suatu kali.

Dini memang terlihat galau, bagaimana tidak, hampir setiap pagi Bumi bertanya kapan dia akan masuk SD. “Besok aku SD?” atau “Kapan aku SD-nya?” kadang juga bertanya “SD ku kok masih lama banget Nin?”.

Sampai-sampai sahabat saya ini, berulang kali bertanya ke saya, kira-kira dia harus daftar berapa bulan sebelum pendaftaran agar Bumi bisa diterima SD di SALAM. “Waduh, mungkin tiga bulan sebelumnya mungkin ya. Atau langsung ketemu Bu Wahya saja gimana,” jawab saya.

Kesukaan Bumi terhadap SALAM mungkin bermula dengan suasana persawahan yang asri. Kebetulan Bumi merupakan anak yang aktif dan jarang sekali bisa duduk diam. Jadi suasana SALAM sesuai dengan jiwanya yang aktif.

Bumi memang sudah beberapa kali bermain di SALAM. Apalagi setiap ada Pasar Ekspresi, Bumi dan orang tuanya kerap datang ke SALAM. Dari situ mungkin dia merasa jatuh cinta dengan SALAM. Kalau dipikir-pikir lucu juga ya, jatuh cinta kok dengan sekolah. Hehe. Yah tapi itulah SALAM, pesonanya mampu membuat orang klepek-klepek. Saya pun berharap, semoga tahun depan dia bisa masuk ke SD SALAM.

Anak-anak SALAM mengikuti Kepanduan

SALAM, sepengetahuan saya, saat ini memang hanya menerima satu kelas di setiap angkatannya. Satu kelas untuk SD terdiri dari maksimal 15 anak dengan dua sampai tiga fasilitator. Alasannya, agar ada komunikasi intens antara fasilitator dan anak serta orang tua.

Disamping itu, dalam sebuah diskusi Pak Toto Rahardjo sempat mengungkapkan bahwa komunitas belajar SALAM tak akan lebih dari 500 orang, termasuk orang tua, anak, dan fasilitator. “Nek luwih seko 500 engko do ra saling kenal,” begitu ujar Pak Toto di sebuah diskusi yang diadakan di salah satu rumah orang tua di Kasihan, Bantul.

SALAM pun tak menutup kemungkinan pihak lain untuk mengadopsi sistem yang diterapkan oleh SALAM. Tak heran pula, tiap periodenya SALAM mengadakan wokrshop Sekolah Merdeka dengan harapan akan muncul komunitas-komunitas belajar lain. Dari workshop pertama yang diadakan SALAM, muncul “adiknya” SALAM yakni Sekolah Akar Rumput (SEKAR), Sekolah yang sepenuhnya didirikan dan dikelola oleh orang tua siswa di area Kampung Dolanan Panggungharjo, Bantul []