”jembatan”-ku Ambrol

Kemarin merupakan hari yg sangat bersejarah. Itu adalah hari ketiga belas, yang biasanya angka 13 dianggap sial. Not for me, not for my son—Itu memang hari ketiga belas, sejak Gara masuk sekolah. Menjadi istimewa karena dia sudah bisa ditinggal, tidak ditemani, meskipun hanya selama 1,5 jam. Tapi ini sangat penting untuk membangun kepercayaan di antara kami, seperti yang ditekankan oleh para fasilitator di SALAM.

Sanggar Anak Alam (SALAM)

Percaya

Akan ada saatnya
Akan tiba waktunya
Biarlah anak yg menyadarinya
Merasakan nyaman dan bahagia yang tidak dipaksa
saat-saat tak bersama orang tua
Menjadi alami
dan memang seperti itulah seharusnya
Proses Belajar

Gara hanya minta dipetikkan beberapa buah talok, sebelum kami berpamitan. 2 atau 3 buah dia memakannya, lalu kami saling mencium dan memeluk erat, lalu dia berkata,” Ibu nanti ke sekolah lagi kan? Jangan lama-lama ya perginya.” Dan kuyakinkan bahwa aku akan kembali segera. “Love you ,Bu,” katanya sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Sedetik kemudian dia berlari menuju kawan-kawan barunya.

Setiap hari aku melewatinya, si pohon talok, dengan buah-buah kecil yang sudah banyak memerah, mengundang setiap tangan untuk meraihnya, memetik dan merasakan manisnya di lidah, mengingatkan betapa manisnya masa sekolah, masa anak-anak, bermain dan bergembira

Betapa aku ingin memanjatnya, menduduki dahan tertinggi kemudian bergelantung manja, hingga tak mau menuruni batang kuatnya.

Namun, sepertinya aku sudah terlalu tua dan pasti mengundang banyak tawa jika melakukannya. Aku rasa pohon itu milik anak-anak, tempat para pemilik masa depan, di mana mereka bisa menggantungkan mimpi dan segala harap, meski hanya dengan melamun atau bernyanyi kecil di dahannya

Biar anak-anak matahari itu saja yg memanjat dan bermain di bawah naungannya.

Hai pohon talok nan rindang, kutitipkan harapanku dalam naungan daun-daunmu, semoga siapapun yang memandangmu, memanjat, memetik buah dan mengecap manisnya, bisa merasakan energi bahagia, yang membuat setiap insan semakin mencinta dunia sekitarnya.

Wahai pohon talok yang manis,
terima kasih telah membantuku dan anakku membangun sebuah jembatan di antara kami, jembatan untuk saling percaya, bahwa semua akan baik-baik saja

Hari ini Gara sudah bisa ditinggal sampai jam sekolah usai, tanpa derai air mata and he didn’t want to back home

23 Januari 2019

Tulisan lampau (3 Agustus 2018) di atas adalah sebentuk rasa syukur karena anak saya Gara sudah bisa ditinggal saat bermain dan belajar di sekolahnya.

Namun dua minggu terakhir ini merupakan saat-saat yang cukup berat bagi saya karena jembatan kepercayaan yang sudah kami bangun sebelumnya ternyata kurang kuat, alias ambrol brol.

Gara mengalami kesulitan beradaptasi kembali setelah liburan. Tampak tidak nyaman saat melangkahkan kaki menuju kelasnya, meskipun sudah cukup mengenal para fasilitator dan teman-teman sebaya.

Pohon talok rindang yang selalu menaungi hari-harinya pun kini tak mampu lagi menjadi primadona yang kerap dilirik dan menjadi tempat bermanja, pusing ini semakin terasa, apalagi usaha sampingan saya sedang ramai-ramainya, banyak pesanan yang harus diantar segera. Belum lagi jika dihubungkan dengan cuaca yang tak bersahabat bagi ibu-ibu pedagang macam saya.

Agenda delivery yang sudah saya janjikan sebelumnya harus saya jadwal ulang menjadi sore-malam, karena pagi hari saya mesti menemani Gara di sekolah. Siang hari biasanya Gara tidur atau minta ditemani bermain. Tak apalah, kan saya harus membuktikan bahwa saya siap berproses dengan segala konsekuensinya.

Terdengar heroik? Begitulah salah satu cara ampuh untuk menyemangati diri sendiri. Jembatan ambrol ini pada akhirnya harus segera diganti dengan yang baru.

Bukan lagi dari pohon talok, dahan dan buahnya yang merah manis lagi yang saya jadikan bahan membangun jembatan baru, melainkan bekerjasama dengan fasilitator di kelas.

Gara mengatakan bahwa dia akan merasa sangat senang jika di awal didampingi beraktivitas bersama ibu dan fasilitatornya, diberi suatu tantangan yang harus dia kerjakan. Setelah dia nyaman, baru saya boleh sedikit menghilang dari pandangannya. Hanya saja, syaratnya saya harus bilang ke mana akan pergi dan tetap berada di sekolah. “Okay, nak.” Meskipun tampak ribet dan mengancam kesabaran diri, akhirnya saya lakukan juga seperti permintaannya.

Memang jembatan kepercayaan yang baru ini sepertinya akan lebih lama prosesnya, apalagi keluarga kami juga baru saja pindah rumah, dan Gara sempat sakit selama 1 minggu di awal semester dua ini.

Meskipun kesulitan ini berpengaruh terhadap pekerjaan dan sikap saya sebagai orangtuanya, namun saya kembali menyadari bahwa apa yang akan terjadi nanti tidak ada yang bisa menduganya. Sebagai orang tua saya harus selalu siap membangun lagi, bangkit lagi, mencari lagi, berjuang lagi, bagaimana menemukan kenyamanan bersama, yang tidak ada seorang pun bisa menjaminnya bagi kami.

Saya bersyukur berada di Sanggar Anak Alam, yang tidak mudah menuding atau menghakimi anak-anak yang belum nyaman, atau orang tua seperti saya yang kebingungan.

“Memberi kebebasan seluas-luasnya kepada anak, agar mereka bisa berekspresi serta menemukan potensi dan jari dirinya, tanpa paksaan dan penyeragaman dari orang dewasa” adalah credo yang selalu saya putar di kepala manakala saya alpa memahami Gara anak saya. []