GURU

Dalam ilmu othak-athik gathuk-nya orang Jawa, suku kata gu dari kata guru itu berarti digugu dan ru, artinya ditiru. Barangkali benar, guru memang digugu (dianut) dan ditiru, diteladani para murid. Dari sana, barangkali Ki Hajar Dewantara merumuskan peran guru yang terkenal: ing ngarso asung tulodo, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani itu.

Lukisan Ivan Sagita

Barangkali dari sana pula pepatah kita “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” itu memperoleh inspirasinya. Sardono W. Kusumo pernah mengatakan kepada saya bahwa di masyarakat Jawa, guru tidak harus merupakan sebuah sosok pribadi, melainkan bisa juga cuma berupa citra atau sosok bayangan. Dalam sebuah lakon disebutkan, ketika Resi Durna sedang mengajar para satria Pandawa dan Astina memanah, seorang satria lain datang hendak berguru memanah kepada resi tersebut. “Tidak bisa, ki sanak,” sahut Begawan Durna. “Saya sudah teken kontrak untuk hanya mengajar para satria ini, dan tak akan lagi pernah menerima murid lain.” Satria itu kemudian pergi dengan rasa kecewa. Namun, tekadnya untuk berguru kepada Begawan Durna tetap membara. Citra Durna sebagai guru sakti tak ada duanya sangat mempengaruhinya. Syahdan, sang satria pun kemudian membuat patung Pandita Durna Ia lalu mulai belajar memanah, sambil membayangkan bahwa ia sedang benar-benar belajar kepada pandita sakti itu. Dan konon, kehebatan satria ini tak kalah dari para murid yang belajar dari Durna secara langsung.

Mudah diduga, andaikata Durna menerimanya sebagai murid, pasti satria itu bakal menjadi murid yang taat kepada guru. Apa pun perintah sang guru, murid itu pasti akan mematuhinya. Dengan kata lain, murid itu pasti akan mampu memanggul tugasnya sebagai murid yang harus senantiasa membuktikan bahwa guru memang seyogianya digugu lan ditiru. Tapi, masihkah sekarang ini guru memperoleh kehormatan sebagai orang tua yang tetap digugu lan ditiru (didengar petuahnya, ditiru tindakannya?). Zaman berubah. Musim pun berganti. Dan dalam pergantian itu, kita tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan yang tak lagi sejalan dengan tafsir ideal tentang guru sebagai yang digugu lan ditiru. Kita dibuat terkejut oleh sejenis pemberontakan moral dan penjungkirbalikan tatanan ideal dalam tafsir Jawa tadi. Dan, kita sepertinya tak siap menghadapi kenyataan ketika guru bukan cuma tak lagi digugu lan ditiru, melainkan juga digebuk oleh sang murid. Kita belum punya jawaban, apa yang mesti kita katakan sekarang ketika kita melihat murid datang kepada guru sambil membawa parang, golok, atau belati untuk mengancam sang guru, ketika gurunya tak bersedia memberinya nilai bagus atau menaikkannya ke kelas tinggi Kondisi sosio-psikologis macam apa yang mendorong ada murid mengamuk melempari kaca dan jendela, merusak sekolah, dan mengeroyok gurunya sendiri? Apa yang salah dalam diri guru?

Dan, apa sebenarnya yang sedang terjadi dalam masyarakat kita? Ringkasnya, mengapa kewibawaan guru merosot serendah itu? Guru-guru berjumpalitan, mencoba berakrobatik untuk menyesuaikan diri dengan panduan dari pusat. Mereka tergencet situasi: mengejar target yang besar dari pusat akan selalu berarti menemui kesulitan dengan murid-muridnya sendiri, tapi bila ia mencoba memberi murid sedikit keleluasaan ia akan terbentur dengan atasan. Guru memang masih tetap disanjung sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”. Ada bahkan yang mengatakan bahwa umumnya tiap orang besar pernah menjadi guru. Mungkin benar, tapi guru dalam masyarakat kita sekarang jelas bukan orang besar. Jadi, apakah gunanya menghibur guru dengan ucapan seperti itu? Bagi saya, gelar pahlawan tanpa tanda jasa lebih terasa ejekan, bukan penghormatan, karena seolah-olah guru memang tak berhak memperoleh tanda jasa itu. Guru bukan manusia merdeka. Ia tidak bebas. Ia tidak mempunyai otonomi dalam memutuskan nasib murid-muridnya, meskipun tak seorang pun berani membantah bahwa dialah yang paling tahu tentang kemampuan murid-muridnya. Orang-tua murid yang tidak tahu ujung pangkal persoalan tak jarang campur tangan, melakukan intimidasi, atau menyogok sang guru dengan materi. Ini sekali lagi, membuktikan juga betapa guru memang bukan orang yang bebas. Ia tak merdeka. Tampaknya guru, dalam kondisinya, tak bisa berkata tidak seperti dulu ketika Durna menolak satria, calon murid yang hendak berguru kepadanya. Guru-guru tarekat yang tak terikat panduan atasan, yang tak menggantungkan kurikulum pendidikannya kepada kekuasaan orang pusat, tampaknya masih memiliki kharisma yang besar di mata para muridnya. Guru-guru tarekat, dengan kata lain, masih tetap pengejawantahan dari konsep ideal tentang guru sebagai yang digugu lan ditiru. Petuah sang guru tarekat didengarkan. Perintahnya disimak. “Sabda” mereka disetengahsucikan oleh para murid.

Guru tarekat adalah sejenis raja yang paling berkuasa. Namun, mereka memperoleh kekuasaannya bukan dengan paksa, melainkan dengan wibawa. Begitulah, sejarah yang digali Sartono Kartodirdjo bercerita kepada kita bahwa sebagian guru tarekat bukan cuma didengar komando jihatnya untuk menyembelih si kafir Belanda, melainkan juga dipandang sebagai penjelmaan Ratu Adil yang bakal mengembalikan harmoni dalam masyarakat serta menjanjikan ketentraman dan kemakmuran hidup mereka. Murid-murid tarekat pernah rela mempertaruhkan leher demi melaksanakan perintah guru. Dan, murid-murid tarekat, sampai saat ini, rela mencium tangan sang guru, bahkan berebut sisa makanannya untuk ngalap berkah. Kemandirian, kebebasan, kharismanya yang besar, dan keteladanan moralnya itu yang membuat murid tarekat rela mencium tangan bahkan sungkem, menyembah, di hadapan sang guru.