Hilangnya Kurikulum Kontekstual

“Sistem pendidikan dan pengajaran di Indonesia harus disesuaikan dengan kepentingan rakyat, nusa dan bangsa, kepentingan hidup kebudayaan dan hidup kemasyarakatan dalam arti yang seluas-luasnya. Maka harus diingat adanya perbedaan bakat dan keadaan hidup antara anak didik yang satu dengan yang lain [daerah pertanian, perdagangan, pelayaran, dan lain-lain]. Maka perlu diadakan diferensiasi untuk memperbesar kemanfaatan bagi anak didik, maupun bagi masyarakat dan negara.”

Ki Hajar Dewantara

Sewaktu tinggal dan menetap di Jakarta sejak lahir hingga lulus SMA, saya memiliki teman bermain yang rumahnya berdempetan dengan rumah orang tua saya. Namanya Imran, usianya setahun lebih tua dari saya. Rumah kami tak jauh dari Pasar Kembang (berjarak kurang dari 1 kilometer), sentra penjualan bunga dan tanaman hias terbesar di Asia Tenggara hingga saat ini. Biasanya, pasar akan mulai ramai pada malam hari. Puncak keramaian terjadi mulai subuh hingga terbit matahari.

Foto: Yanuar Surya.

Sejak usia Sekolah Dasar, Imran setiap hari beraktivitas di Pasar Kembang. Berangkat dini hari, menawarkan jasa mengangkat bunga yang dibeli para pembeli dengan upah Rp250 sekali angkut. Dalam sehari ia bisa menghasilkan uang antara Rp2000 hingga Rp5000. Di waktu-waktu tertentu dengan pembeli membludak (Lebaran, Natal, Paskah, Valentine, dll) penghasilan Imran dari jasa mengangkut belanjaan pembeli bisa naik 2 hingga 3 kali lipat. Saya pernah diajak Imran sekali dua untuk ikut bekerja di Pasar Kembang sebelum akhirnya orang tua saya melarang dengan alasan harus fokus belajar dan sekolah.

Saat memasuki usia SMP, selain menjadi kuli angkut, Imran mulai belajar merangkai bunga, dipekerjakan untuk ikut menata taman saat ada hajatan pernikahan di rumah atau di gedung lokasi resepsi. Hingga akhirnya ia memiliki keahlian merangkai bunga yang ia pelajari dari hasil bergaul dengan para pedagang bunga di pasar, bukan dari bangku sekolah. Keseriusannya menggeluti pekerjaan di Pasar Kembang membuatnya mengambil keputusan yang sangat berani, memutuskan berhenti sekolah formal dan fokus bekerja di Pasar Kembang.

Saat saya tanya keputusannya ini, Imran menjawab, “Biar dah adek-adek gue aje yang sekolah. Gue nyari duitnye buat bantu adek-adek gue bayar sekolah. Emang elu pikir bayar sekolah murah? Lagian, sekolah buat gue udah kagak ada manfaatnye. Ape yang gue pelajarin kagak ada gunanye sama sekali buat hidup gue sehari-hari.” Imran memiliki 6 orang adik dan 1 orang kakak.

Foto: Yanuar Surya.

Saat ini, Imran sudah memiliki kios yang menjual bunga. Ia juga rutin merangkai bunga dan mendekorasi taman untuk acara-acara resepsi pernikahan di berbagai tempat di Indonesia. Dengan usaha dan keahliannya ini, ia bisa merekrut lebih dari 5 orang untuk bekerja bersamanya.

Sewaktu saya bertugas menjadi sukarelawan pengajar di Sokola Rimba dan ditugaskan di Taman Nasional Bukit 12, Jambi, saya hidup dan tinggal bersama komunitas adat Orang Rimba. Bagi Orang Rimba, berburu dan meramu adalah keterampilan yang harus dimiliki, terutama untuk kaum laki-laki. Sejak dini anak-anak belajar membuka lahan, berburu, membaca jejak, mengenali ciri-ciri hewan dan tumbuhan, dan bermacam pengetahuan lainnya yang terkait langsung dengan hidup dan lingkungan mereka. Semua keahlian itu tentu saja tidak bisa didapatkan dari sekolah formal yang disediakan di desa-desa terdekat. Malah sebaliknya, sekolah formal mengalienasi mereka dari kehidupan sehari-hari yang mereka jalani. Mereka jadi asing dan gagap dengan cara hidup komunitas mereka.

Maka, pendidikan baca, tulis, dan hitung serta turunan-turunannya menjadi kurikulum tambahan yang diberikan kepada anak-anak rimba. Kurikulum utama tentu saja tentang pelajaran-pelajaran bagaimana bisa menjalani kehidupan keseharian dengan gaya dan pola hidup yang sudah biasa mereka jalankan. Baca, tulis, hitung dan ragam turunannya dimanfaatkan untuk mengadvokasi hak-hak mendasar komunitas yang selalu diabaikan pemegang kuasa.

Foto: Yanuar Surya.

Lain halnya dengan kasus yang saya temui di Dusun Sumbercandik, Kabupaten Jember. Desa yang terletak di lereng selatan Pegunungan Iyang (Argopuro). Saat pertama kali kami datang untuk memulai program pendidikan bagi anak-anak dan orang tua yang buta huruf, warga Sumbercandik sedang menghadapi masalah lain (di luar tingkat buta huruf yang tinggi) yang cukup pelik. Kampanye-kampanye tentang pekerja anak, perbudakan anak dan eksploitasi anak keras berdengung di dusun.

Anak-anak tak boleh bekerja, dilarang mencari rumput untuk pakan ternak, mencari kayu bakar, dan kerja-kerja lainnya di kebun dan di ladang karena dianggap mengeksploitasi anak. Tugas anak-anak itu sekolah dan bermain, lain tidak. Kampanye-kampanye semacam ini membuat orang tua takut. Anak-anak mereka yang sebelumnya ikut membantu kerja-kerja dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga pelan-pelan dilarang ikut. Parahnya lagi, pelayanan pendidikan bagi anak-anak mereka belum bisa terpenuhi dengan baik.

Tanpa adanya pelayanan pendidikan yang memadai, ditambah larangan untuk bekerja membantu orang tua, tentu saja masa depan anak-anak akan semakin suram. Mencari rumput untuk pakan ternak, mencari kayu bakar, menanam dan merawat kebun kopi, menanam berbagai jenis tanaman produktif lain, ikut panen kopi, sesungguhnya adalah pelajaran-pelajaran mendasar yang mesti diterima anak-anak. Keahlian-keahlian prinsip yang harus dimiliki mereka sebagai bekal untuk menjalani kehidupan ke depan. Jika tahapan ini saja sudah dilarang dengan alasan eksploitasi anak, saya kira ada kesalahan mendasar dalam paradigma berpikir kebanyakan kita.

Foto: Yanuar Surya.

Apa salahnya anak-anak yang membantu orang tua setelah usai sekolah? Apa yang dilanggar jika sejak dini anak-anak sudah berlatih mandiri dan bisa mendapat penghasilan sendiri untuk uang jajan mereka? Anak-anak yang bekerja di perkebunan tembakau misal, di saat musim panen tembakau, mereka tetap sekolah, mereka tetap bisa bermain, selain itu mereka bisa mendapat penghasilan tambahan dari bekerja saat musim panen. Lebih dari itu, semua itu adalah proses belajar mereka. Karena di wilayah pertanian, saat musim panen, apapun komoditasnya, momen itu dimanfaatkan anak-anak untuk belajar, mencari uang tambahan, bermain bersama teman-teman, dan bersenang-senang. Jadi musim panen selalu dinantikan.

Pekerja anak, perbudakan anak, dan eksploitasi anak terjadi saat kesempatan belajar dan bermain anak hilang. Mereka dipaksa bekerja, diperas tenaga dan hilang waktu belajar dan bermainnya karena harus bekerja dengan upah yang sangat rendah. Ini memang harus dilawan, dihalangi, diadvokasi hingga anak-anak tak lagi diperlakukan seperti itu. Tetapi, anak-anak yang tinggal di desa, di kawasan pertanian dan perkebunan, juga di wilayah pesisir yang dihuni nelayan, anak-anak yang ikut bekerja membantu orang tua mereka, mencangkul, mengarit, menjala ikan, dan lain sebagainya di sela kesibukan mereka di sekolah, sama sekali tidak bisa dianggap sebagai praktik perbudakan anak. Malah sebaliknya, seharusnya semua itu menjadi mata pelajaran, kurikulum utama yang menjadi kerangka materi belajar mereka di sekolah.

Mencangkul, mengarit, memanen, pengetahuan tentang musim tanam dan ilmu-ilmu pertanian dasar lainnya, semestinya menjadi materi ajar yang diberikan kepada anak-anak petani di sekolah. Keahlian merajut jaring, menjaring ikan, membaca angin, navigasi laut, dan jenis-jenis ikan, sudah barang tentu dibutuhkan oleh anak-anak nelayan. Semua itu baiknya memang menjadi materi yang mereka terima di bangku sekolah. Semua itu jauh lebih penting dan berguna bagi mereka dibanding misalnya, pelajaran matematika hingga bilangan desimal, integral dan diferensial, atau ilmu fisika tentang galaksi dan tata surya dengan pelajaran yang diterima bagaimana menghitung jarak bumi ke matahari dan planet-planet lainnya. Bukan berarti yang saya sebut terakhir tidak penting, namun ada yang jauh lebih penting dan mendasar tapi nyatanya diabaikan.

Foto: Yanuar Surya.

Tak pelak lagi, penyeragaman sistem dan materi pendidikan yang diberikan, mau tak mau menjadi alat utama yang mengalienasi anak-anak dari komunitas mereka, mencerabut anak-anak dari laku keseharian komunitas. Anak-anak merasa asing, terasing dan memang diasingkan dari keseharian komunitas mereka dengan dicekoki utopia modernisme dan westernisasi di bangku sekolah. Pada akhirnya, mereka digiring untuk masuk pada arus besar pekerja yang melayani kebutuhan tenaga kerja para pemilik modal, gelombang besar kapitalisme.

Maka, apa yang sudah dirumuskan dengan sangat baik oleh Ki Hajar Dewantara, yang saya kutipkan di muka tulisan ini, dirusak dengan sangat brutal oleh sistem pendidikan yang seragam di segala lini.

**Penulis saat ini adalah sukarelawan di SOKOLA, lembaga yang bergerak untuk memfasilitasi pendidikan bagi komunitas masyarakat adat di Indonesia.