Memperingati Hari Lahir Kartini di Sanggar Anak Alam (SALAM)

“Kartini Hebat Karena Pena, Bukan Karena Kebaya”. Kata-kata itu saya baca setahun yang lalu dan rasanya menohok ulu hati. Karena puluhan tahun saya hanya disuguhi dan melakoni ritual hari kartini yang lekat dengan euforia kebaya, baju adat, pawai dan beragam lomba. Pernah merasa jengah, namun saya abaikan . Tetapi sejak hari itu saya disadarkan bahwa penting untuk tahu mendalam apa yang diperjuangkan, dengan apa memperjuangkan dan bagaimana saya dapat meneruskan perjuangan yang telah dilakukan¬† Kartini. Maka saya tak lagi tertarik dengan ritual-ritual yang jauh atau sama sekali tak ada kaitannya dengan perjuangan pahlawan yang diam-diam saya kagumi ini.

Foto: Supriyadi.

Nilai itu ternyata juga sama dengan tempat di mana saya belajar berproses bersama anak-anak, di Sanggar Anak Alam Yogyakarta. Tak ada lomba, tak ada pula ritual memakai pakaian adat atau berkebaya. Yang ada adalah kegiatan menonton film bersama. Sebelum film diputar, kami memberikan sedikit pengantar untuk anak-anak dan membacakan surat yang “seolah-olah” ditulis oleh Ibu Kartini untuk semua anak di Sanggar Anak Alam. Suratnya dibuat amat hangat dan personal, dibacakan oleh salah seorang fasilitator yang seolah-olah memerankan suara Kartini. Di akhir surat, diselipkan sebuah pesan bahwa Kartini menunggu surat balasan dari anak-anak di Sanggar Anak Alam. Kartini ingin mendengar cerita bagaimana pengalaman belajar anak-anak selama bersekolah di Sanggar Anak Alam.

Setelahnya kami bersama-sama menonton film besutan sutradara Azhar Lubis berjudul “Surat Cinta Untuk Kartini”. Film yang berdurasi hampir dua jam ini menggambarkan jiwa Kartini yang ingin memerdekakan perempuan dari “penjara tak berjeruji” melalui pendidikan. Perjuangannya dilakukan dengan banyak membaca, banyak menulis, banyak bercerita dan mengajar. Meski tak mudah, namun akhirnya perjuangan dan pengorbanannyapun berbuah. Dan saya adalah salah seorang yang kini turut merasakan buah dari perjuangannya yang panjang.

Setelah film berakhir, bersama-sama kami mengingat kembali pesan Ibu Kartini yang dibacakan di awal tadi, yaitu menulis surat. Kami sepakat untuk membuat ini menjadi tugas anak-anak di rumah nantinya.

Foto: Supriyadi.

Esok harinya di kelas masing-masing, kami memproses kegiatan “Kartinian” yang telah kami lakukan hari sebelumnya, termasuk menanyakan apakah anak-anak telah membuat surat balasan untuk Ibu Kartini. Di luar dugaan, teman-teman kecil saya di kelas sudah banyak yang membuat surat balasan, menceritakan bagaimana pengalaman belajar mereka di Sanggar Anak Alam. Tulisannya amat jujur, lugu, dan sederhana. Beberapa bercerita bahwa dia bahagia bersekolah di Sanggar Anak Alam karena tidak harus pakai seragam, boleh pakai sendal atau bahkan kadang-kadang “cekeran”. Beberapa lagi bercerita tentang keseruan belajar, bahwa belajarnya tidak dibikin rumit, mau belajar apa saja bisa memilih karena judul riset ditentukan sendiri, belajarnya selalu bersemangat karena diawali dengan permainan bersama yang menyenangkan, belajarnya tidak selalu di sekolah tapi bisa juga di rumah-rumah teman. Yang lain juga bercerita bahwa di kelas tidak ada guru, yang ada teman belajar, di kelas tidak ada pelajaran khusus, hampir setiap hari isinya adalah bercerita dan berdiskusi, tidak ada PR yang membebani, kalau ada kelalaian atau kesalahan tidak pernah dihukum tetapi diajak berdiskusi. Cerita-cerita itu mereka bacakan di depan teman-teman sekelas dan para fasilitator. Setelahnya surat-surat tersebut dikumpulkan untuk kemudian “dikirimkan” kepada Ibu Kartini.

Oleh salah seorang fasilitator, surat-surat tersebut dibalas satu persatu dengan sapaan hangat, keibuan dan amat personal yang menggambarkan sosok Kartini seperti yang ditampilkan dalam film yang kami tonton. Kadang-kadang “Kartini” memuji nama anak, kadang memuji tulisannya, kadang memuji apa yang telah dilakukannya. Ya, apresiasi selalu diberikan untuk setiap anak, tidak terkecuali. Setelahnya “Kartini” menanggapi cerita pengalaman anak-anak, turut bersukacita dengan pengalaman yang membuat bahagia, sebaliknya berempati jika ada cerita pengalaman yang tak mengenakkan. Kemudian semuanya ditutup dengan pesan-pesan yang memberi semangat anak untuk terus belajar di manapun, kapanpun, dan bersama siapapun. Tak lupa, sebuah pesan yang juga penting untuk terus menulis – seperti yang ia sering lakukan. Ya, sebab Kartini hebat karena pena, bukan karena kebaya. Semoga “kartinian” yang dilakukan tahun ini betul-betul memberi makna dan menggugah semangat belajar serta berkarya!