Pasar Senin Legi : Sederhana dan Merdeka

Sebagian dari kita barangkali masih asing dengan istilah pasaran Jawa seperti Legi, Pon, Wage, Pahing,dan Kliwon. Pada penanggalan tersebut, biasanya diadakan suatu kegiatan jual-beli di pasar yang dilakukan oleh orang dewasa.

Bagi Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta, aktivitas pasaran ini dilakukan oleh anak-anak, kami menyebutnya Pasar Senin Legi. Sebab, kami rutin melakukannya setiap Senin legi yang bulan ini jatuh pada 19 Agustus 2019.

Aktivitas penjual yang menjajakan dagangannya

Lantas apa sih Pasar Senin Legi ala SALAM? Pasar Senin Legi di sini merupakan sebuah wadah untuk memfasilitasi anak-anak dalam berkreasi yang mana hasilnya dapat dijual. Semua proses kegiatan dilakukan oleh anak-anak, mulai dari TA, SD, SMP, hingga SMA. Semua boleh menjual, semua boleh membeli. Kemudian setiap anak baru dan fasilitator baru diberikan modal Rp 5.000 oleh Bank SALAM. Khusus orang tua atau pengunjung hanya diperbolehkan menukar uang asli dengan uang SALAM maksimal Rp 5.000.

Penampakan uang dari BANK Sanggar Anak Alam

Jika uang yang dimodali oleh Bank SALAM sudah habis, maka setiap anak ataupun fasilitator harus bekerja. Bekerja sebagai penjual ataupun menjadi petugas-petugas yang menunjang keberlangsungan pasar. Seperti pekerjaan pada umumnya, mereka juga mendapatkan gaji. Gaji dari hasil kerja mereka seharian tentu bisa ditabung di bank ataupun langsung dibelanjakan. Hal tersebut tak jauh berbeda dengan penjual yang mendapatkan uang dari hasil jualannya.

Keberadaan pasar di tengah sekolah menjadikan magnet tersendiri. Semua mendapatkan perannya masing-masing. Ada yang menjadi penjual, pembeli, petugas bank, petugas kebersihan, petugas keamanan, dan lurah yang mengatur durasi pasar.

Proses edukasi dalam sebuah wadah pasar ini juga tak luput dari sorotan, seperti bagaimana menjadi penjual yang ramah, bagaimana belajar antre pada saat membeli, serta tanggung jawab atas tugas-tugas yang mereka lakukan.

Antrian panjang es krim

Pasar Senin Legi ini juga menerapkan zero plastic. Semua kemasan yang digunakan merupakan bahan ramah lingkungan. Dalam hal ini, anak-anak juga belajar tentang bahaya plastik yang sulit terurai dan mencemari lingkungan.

Anak-anak sangat antusias dengan pasaran ini. Fasilitator, orang tua dan pengunjung larut dalam euforia untuk membeli dagangan yang tersedia. Bisa dikatakan setiap dagangan laris manis hingga ludes.

Dagangan yang dijual beraneka ragam, mulai dari kuliner seperti jelly, es buah, es krim, jenang mutiara, wajik dan masih banyak lagi. Selain kuliner, hasil kreativitas anak-anak seperti gambar dan origami juga turut dijual.

Pihak pasar hanya menyediakan 30 lapak untuk penjual yang sudah mendaftar, sehingga calon penjual yang telat mendaftar tetap diperbolehkan berjualan namun tidak diberi meja alias keliling. Meskipun begitu semua yang jualan harus mengikuti tema yang dibuat oleh panitia.

Tema yang diangkat setiap Pasar Senin Legi selalu berbeda-beda. Penjual yang menjual dagangan juga berbeda-beda, tidak melulu yang jualan itu-itu saja. Seperti tidak ada keharusan. Namun yang perlu diingat, jika tidak mau bekerja maka tidak mendapatkan uang. Memang sedikit menggelitik juga rasanya, namun disitulah terdapat nilai-nilai yang dapat diambil untuk menghadapi di kehidupan nyata.

Bertepatan dengan peringatan hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-74 beberapa hari yang lalu, maka diputuskan tema Pasar kali ini adalah ”Merah Putih”. Semua yang berjualan terdapat gabungan unsur dari warna tersebut. Contohnya ada jelly warna merah dan putih yang dijual oleh Air yang masih belajar di kelas TA. Kemudian jenang mutiara yang dijual oleh Febe (warna merah dari jenang dan putih dari santan). Ada pula Jenar yang menjual sate buah yang terdiri dari buah strawberry, semangka, dan melon.

Es buah nusantara

Sedangkan dagangan yang bersifat basah atau berkuah, para penjual menyediakan wadah, gelas, atau piring kecil. Ada pula yang membawa tempat makan sendiri dan diperbolehkan. Setiap pembeli yang telah selesai menyantap jajanan, harus mencuci sendiri wadahnya tersebut. Seperti halnya membeli jenang mutiara milik Febe, selesai makan wadah dicuci dan dikembalikan lagi kepada sang penjual.

Proses jual beli dagangan mulai dibuka ketika transaksi di Bank Sanggar Anak Alam telah selesai. Banyaknya pembeli yang ingin menukar uang dan mengambil tabungan, menyebabkan antrean yang mengular panjang di depan bank.

Semakin rajin bekerja maka tabungan yang akan didapatkan semakin banyak. Setiap hasil penjualan kemudian disetorkan ke bank untuk ditabung. Fungsi bank di sini layaknya bank sungguhan yaitu untuk memutarkan uang.

Pasar ini dimulai dari pukul 08.00 hingga pukul 11.00. Untuk petugas bank diperankan oleh anak SMA dan SMP. Penjual bisa dari TA, SD, SMP, hingga SMA. Sedangkan pembelinya semua warga SALAM serta pengunjung. Pengemasan pembelajaran dalam bentuk pasar seperti ini sangat efektif untuk anak-anak. Dengan mengalami proses secara langsung, anak akan mempunyai pengalaman.

Menurut psikolog dan filsuf asal Swiss, Jean Piaget, masa-masa anak pada usia 7-11 tahun memasuki tahapan operasional konkret. Sehingga akan lebih tepat jika anak mengalami proses yang nyata dan secara langsung. Seperti halnya keberadaan Pasar Senin Legi di SALAM yang menuntun anak untuk secara langsung belajar banyak hal.

Ini pengalaman pertama bagi saya pribadi mengikuti Pasar Senin Legi. Sungguh saya terheran dengan sistem yang dilakukan. Teramat sederhana, terlihat biasa saja, namun sangat berkesan untuk saya. Tanpa harus diperintah oleh fasilitator, anak-anak sudah lihai sekali melakukan proses jual beli serta memahami pula perihal untung dan rugi. Terima kasih SALAM Yogyakarta yang telah memberi saya kejutan setiap hari.

20 Agustus 2019