Guru Kecilku

Senin, 19 Agustus 2019, pagi itu tidak biasa buatku. Akan ada pengalaman baru dari satu kegiatan rutin SALAM yang pertama kali akan kuikuti. Pasar Senin Legi, Pasar yang diadakan setiap 35 hari sekali, atau dalam Bahasa Jawa namanya, Selapanan. Perjalanan dari rumah menuju sekolah, aku cukup deg-degan, juga bertanya-tanya, seperti apa sih Pasar Senin Legi itu.

Sampai di sekolah, banyak meja sudah ditata. Banyak kaki-kaki kecil yang biasanya berlari kesana kemari, telah berubah menjadi sosok pedagang profesional. Bau sedap nan menggoda dari arah dapur sekolah mulai menggoda indra penciumanku. Ah.. tak lupa juga dengan sambutan hangat dari embun yang mulai sembunyi dari sinar matahari. Semua berkolaborasi, manis dan hangat, seperti teh pembuka hari.

para penjual cilik bersiap menunggu datangnya pembeli

Masuk ke kelas. Teman-teman kecilku sudah memamerkan uang sakunya. Maklum lah, biasanya mereka tidak pernah bawa uang saku. “Nanti aku mau jajan jelly,” kata salah satu teman kecilku. Sambil menunggu teman-teman yang lain, kita melakukan permainan-permainan kecil. Permainannya tidak lama, hanya sekitar 15 sampai 20 menit saja. Sampai akhirnya pasukan dari Nitiprayan siap ambil bagian untuk meramaikan Pasar Senin Legi!

Pertama, kami menukar uang rupiah yang sudah kami siapkan ke Bank SALAM. Oh ya, sedikit informasi tentang cara main di Pasar Senin Legi. Sebetulnya, penukaran uang dari rupiah menjadi uang SALAM itu haram hukumnya. Cara untuk mendapatkan uang SALAM adalah dengan bekerja menjadi petugas, lalu mendapat gaji, atau berdagang. Tapi, untuk kelas TA dan KB ini, kami mendapat hak istimewa. Anak-anak diperbolehkan untuk menukar uang. Kami pun sebagai fasilitator mendapat modal dari SALAM senilai 5000 uang SALAM.  Lagi-lagi karena ini pengalaman pertamaku, aku belum mengerti betul di mana Bank SALAM, yang mana itu adalah tempat teman-teman kecilku akan menukar uang. “Kesitu lo mbak kita!” tanganku ditarik Dhira. Dan aku pun mengikuti jejak kecilnya yang setengah berlari.

nomor antrean bank

Anak-anak hebat! Semua langsung sepakat untuk antre dengan tertib, sabar. Mereka juga saling menjaga kalau tiba tiba ada orang lain yang menyerobot antrean temannya “wee kamu kok nyerobot e, kan ini barisanku.” kata salah satu anak. Lucunya, yang menyerobot itu adalah sosok yang lebih dewasa dari anak yang sudah mengantre sebelumnya.

Alfa membawa uang Rp 3.000. Dia berikan kepada teller bank dan ditanya “Berapa uangnya?” Dia menjawab “tiga ribu,” teller bank lalu memberikan uang SALAM senilai Rp 3.000 juga. Setelah itu, dia keluar dari barisan, karena dia tahu masih panjang antrean di belakangnya. “Kita lihat dulu jualannya yok!”, ajakku, karena pasar belum buka.

Semua sigap bilang “ayok!”. Ada yang langsung terpesona oleh merahnya jelly, ada yang langsung ambil posisi di sebuah lapak, yang dari jauh juga tidak nampak dia jual apa. Ternyata ice cream!! sang primadona. Ice cream itu masih bersembunyi di bentengnya, tertutup rapat sebelum tanda pasar dimulai berbunyi. Antrean di lapak sang primadona mulai mengular. Anak-anak kelas paling kecil ini ada di paling depan, mereka tetap tertib juga tegang menunggu bintang utama keluar. Lucu sekali ekspresinya, seperti takut kehabisan, padahal dibuka saja belum.

inilah ice cream yang menjadi primadona itu

Mulai siang, waktu tak terasa mulai berlari. Mereka sudah mulai mengeluh, “lama banget to, kok nggak dibuka-buka” karena memang sudah panjang sekali antreannya. Mereka mulai jongkok, mulai sedikit berdesakan, dan mood-nya berubah menjadi sensitif. Mulai ada yang protes, “geser to kamu itu” sebagai wujud kejengkelan menunggu satu scoop ice cream vanila bercampur buah naga, dan kriuk dari cone-nya.

“Pasar dibuka!!!” sontak semua berteriak “Yeeyy”. Dan sang primadona mulai dipamerkan. Anak- anak semangat, mereka berdiri, dan mulai masuk ke antrean lagi. Semua sudah menyisihkan uangnya, senilai Rp 2.000 untuk membeli yang sudah dinanti-nanti.

penjual ice cream sibuk melayani pembeli

“Siapa dulu?” Kata si kakak penjual. “Aku,” kata Alfa yang memang dari awal sudah ada di depan.

Setelah mendapat hasil dari penantian panjang, Alfa memegangnya erat erat, sampai jalan pun yang dilihat ya sebongkah es berwarna putih keunguan itu, bukan jalannya.

“Enak?” Tanyaku. Saking fokus-nya, dia hanya mengangguk tanpa melihat aku sedikitpun. Lalu aku giring teman-teman kecilku ini ke tempat yang lebih lapang, agar mereka tidak terganggu, untuk menikmati manis dan segarnya ice cream vanila dan buah naga itu.

Mereka bercengkrama, saling bertukar pengalaman, juga membuat rencana kecil, mau beli apa setelah ice cream yang mereka perjuangkan itu habis.

Aku dapat pesan tersirat hari ini. Sederhana, singkat, tapi penuh kesan. Teman-teman dari kelas paling kecil yang jadi guru besar tanpa gelar. Budaya antre, budaya sepele yang makin kehilangan ‘nyawa’-nya. Karena orang dewasa yang penuh ilmu, sekarang sudah terlalu maju untuk melakukan hal yang dianggap kuno itu. Main serobot dan ambil yang bukan jatahnya, harus menjadi yang paling depan bagaimanapun caranya, semua hal itu sudah menjadi hal yang ‘dibenarkan’ saat ini. Menjadi sah karena semua orang melakukannya.

Mungkin begitu cara paling tepat untuk mengajar. Memberi contoh, tanpa berharap dicontoh. Melakukan hal yang baik, tanpa takut dianggap aneh karena hanya kita yang melakukan. Dan menjadi pelopor, tanpa perlu koar-koar. Aku ditegur hari ini, semoga aku ditegur lagi lain hari.

foto-foto oleh: Imung

ilustrasi oleh: Kenar Kanayana