Influencer Itu Bernama Raissa Kanaya

Seseorang disebut influencer adalah orang yang mampu memengaruhi orang lain untuk mengikuti jejaknya. Biasanya influencer dikaitkan dengan seseorang yang memiliki jumlah pengikut atau followers yang banyak dan memiliki pengaruh kuat bagi followers mereka. Dan, biasanya influencer ini merupakan seorang artis, selebgram, selebtwit, atau bahkan youtuber.

Tapi, secara umum influencer adalah orang yang bisa menginspirasi orang lain untuk bisa mengikuti jejaknya. Di SALAM sendiri, banyak yang masuk dalam kategori ini. Saya tidak membicarakan pendirinya ya, karena kalau Sri Wahyaningsih dan Toto Raharjo, itu sudah pasti lah. Saya juga tidak membicarakan penulis kebanggaan SALAM, macam Gernata Titi atau Karunianingtyas Rejeki ya.

foto oleh: Aji Prasetyo
Rere dengan salah satu produk Birong-nya

Yang ingin saya tulis di sini adalah salah satu siswa kelas 12 SMA Eksperimental SALAM bernama Raissa Kanaya atau akrab disapa Rere. Menurut saya, sosok remaja ini layak disebut sebagai influencer karena sepak terjangnya. Di usia yang belia, Rere sudah menjadi founder Birong dan berdaya dengan jalannya sendiri.Secara pribadi saya tidak mengenal secara mendalam, tapi saya berani menulis artikel ini karena sudah beberapa kali saya dipertemukan dengan anak berusia 17 tahun ini dalam agenda-agenda SALAM. Saat pameran Caraka pertama, saya menjadi salah satu penulis untuk mengisi konten di website SALAM dan didapuk untuk mengajak siswa SMA menulis sebagai wartawannya SALAM waktu itu. Kala itu ada dua anak yang direkomendasikan oleh Pak Toto, yakni Rere dan Sekar Hikari.

Kemudian, akhir-akhir ini saya kerap bertemu dengan Rere, karena teman hidup saya yang belum lama ini bergabung menjadi fasilitator SALAM kerap mengajak saya untuk bergabung dengan anak-anak SMA SALAM. Seperti pada Rabu malam (28/8) ini, kami mendatangi sebuah event bernama Pecha Kucha Night di Viavia Café di Prawirotaman, Jogja. Event ini merupakan presentasi 20 detik, macam open mic-lah kalau di dunia Stand Up Comedy.

Di acara ini, Rere menjadi satu-satunya pembicara yang masih duduk di bangku SMA. Dia bersanding dengan Santi Ariestyowati dari Indieguerillas, Tri Budi yang merupakan pegiat komunitas Panen Air Hujan, Dwi Pertiwi dari Omah Lor pegiat permakultur, dan enam pemateri lainnya yang banyak berkecimpung di bidang pengelolaan sampah. Mungkin tema event Pecha Kucha Night Vol 24 ini berkaitan dengan Zero Waste Movement, sehingga pematerinya merupakan pegiat lingkungan atau setidaknya mereka yang konsern pada pengelolaan sampah.

Rere di acara Pecha Kucha Night

Sebagai penonton dan kerabat SALAM, saya ikut bangga. Pertama, dari segi presentasi yang dilakukan Rere tidaklah kalah dengan pemateri lain yang dari sisi usia dan pengalaman jelas lebih jauh. Di samping itu, materi yang disampaikan Rere juga tidak ecek-ecek. Dia menceritakan kegelisahannya terhadap sampah yang dihasilkan oleh manusia. Di awal presentasi dia menceritakan saat dirinya bergabung dalam sebuah komunitas di Bantar Gebang dan berkecimpung dalam upaya pengelolaan sampah. Hingga kemudian membawanya ke Jogja, dan menjadi siswa SALAM. Dia lantas menceritakan tentang risetnya yang diawali dari kegelisahannya terhadap sampah. Di awal SMA dia melakukan riset tentang recycle sampah, sampai pada akhirnya dia menemukan passion-nya di bidang craft atau kerajinan yang membawanya menciptakan Birong. Sebuah karya, sebuah produk yang memadukan eco print dan kain goni menjadi benda berdaya jual.

Dalam prosesnya berkarya dengan Birong, Rere bekerja sama dengan adik kelasnya yang masih duduk di bangku SMP, Utia Kafafa, yang tak kalah kerennya dengan Rere. Mungkin di lain kesempatan saya akan menuliskan sosok Fafa atau Utia Kafafa ini di artikel terpisah.

Rere bersama Fafa (tengah)

Di usianya yang belia, Rere sudah bisa mengenali dirinya dan passion-nya. Bahkan saat sesi tanya jawab, ada salah satu audience yang bertanya apa yang akan Rere lakukan nantinya. What next-nya apa? Rere pun tanpa ragu menjawab akan membuat sanggar sendiri, sebuah sanggar yang bisa dimanfaatkan masyarakat luas sebagai tempat workshop dan berkarya.

Saya melihat sosok Rere sebagai anak yang memiliki pendirian dan kemauan yang keras. Dia tak segan untuk belajar. Di bidang craft dia bahkan memberanikan diri bekerja atau nyantrik ke salah satu orang tua SALAM yang menggeluti bidang yang sama, Mila Morisdiak. Di samping itu, dia juga tak segan membagi ilmunya dengan mengisi beberapa workshop tentang eco print dan kerajinan.

workshop ecoprint yang diadakan di Delanggu

Di suatu kesempatan, saya juga bertemu dengan Rere di sebuah pameran lukisan. Dia nyambi sebagai volunteer galeri seni. Ini anak kok dimana-mana ada sih, batin saya. Mungkin karena memang jiwa pembelajarnya yang tinggi. Saat saya bekerja sama dengan Rere sebagai penulis konten untuk pameran Caraka, dia juga menunjukkan tanggung jawab dan komitmennya. Bahkan briefing yang saya lakukan layaknya saat saya nugasi wartawan-wartawan saya di kantor tempat saya bekerja. Dan, hasilnya, tulisannya tak kalah lah dengan wartawan beneran.

Siapa pun yang mengenalkan pastinya akan bangga. Yah, siapa sih yang tidak bangga jika memiliki anak yang mampu mengenali dirinya sendiri dan potensi yang dimilikinya. Rasa bangga itu mungkin tidak hanya dirasakan oleh Bunda Rere, Wienarti Ali Camelia. Tapi juga semua orang yang mengenal sosok anak berusia 17 tahun yang merupakan founder dari Birong ini. Jadi kalau misal ada yang bertanya kepada saya siapa sih influencer dari SALAM itu? Pertama yang terpikirkan adalah Rere. Maaf ya Mbak Gerna, muridmu lebih keren dari kamu. Hehehe.

Rere bersama salah satu sahabatnya: mesin jahit