Vaksin itu Bernama Berani Berkomitmen

Bungsu saya, panggilannya Dydy baru saja naik ke kelas 1 SD Juli kemarin. Senang iya, cemas juga. Bagaimana tidak, karena Covid-19 yang memaksa Dydy dan teman-temannya untuk belajar, utamanya di rumah.

Wah…padahal fase dari anak PAUD ke SD ini harusnya ada orientasi sedemikian rupa. Dari anak yang biasa asik bermain-main, lalu tiba-tiba ditanya kalian mau riset apa semester ini. Tentu mereka kaget.

Teman-teman sesama orang tua tak kalah terkejutnya. Apa sih riset? Apakah wajib anak-anak ini riset? Risetnya semacam apa? Lalu bagaimana dengan anak yang baru diajak baca saja, bisa menolak dan malah lari-lari mengelilingi rumah. Bagaimana mungkin mereka riset?

Beberapa orang tua memang baru mengenal riset semester ini, beberapa seperti saya sudah lebih dulu tahu karena ada sibling sebelumnya di Salam, dan beberapa lainnya mencoba mempelajari dan menganalisa dari buku Kami Tidak Seragam dan tuturan pengalaman orang tua lain.

Dan ternyata saya dan orang tua lain tetap bertanya-tanya. Karena sepanjang sejarah SD Salam, riset anak kelas 1 – 3 SD adalah riset bersama dan dilakukan di sekolah. Misal mengamati pertumbuhan tanaman sayur di kebun sekolah, mencatatnya, mendokumentasikannya termasuk menjualnya. Tapi baru kali ini riset anak kelas 1 tahun ajaran 2020-2021 adalah riset mandiri, bersama orang tua di rumah terkait dengan aturan pembatasan kegiatan yang melibatkan banyak orang.

Harusnya kita tepuk tangan yang kencang dong ya, kelas pertama ini yang kecil-kecil sudah riset? Eh riset lagi… Sebenarnya apa sih riset berdasar pengertian Salam?

Dari sebuah rapat virtual ortu kelas 1-3 SD Salam tanggal 12 Oktober 2020, Pak Toto Rahardjo menjelaskannya.
Riset adalah upaya membuat anak memiliki pertanyaan. Bisa saja yang utama saat ini bukanlah riset, melainkan aktivitas sehari-hari yang memicu pertanyaan anak-anak. Orangtua membantu anak agar terus memiliki pertanyaan. Fokus pada upaya menghidupkan antusiasme anak dan membuat anak bertanya, mengembangkan minat dan potensi anak.

Bila penjelasannya demikian, bayangan kita tentang para peneliti dengan jas lab lalu berkutat dengan apa yang mereka teropong di mikroskop, tak cocok untuk mendefinisikannya.

Sudah cukupkah penjelasan ini melegakan hati para orang tua termasuk saya? Belum lagi tambahan penjelasan tentang membuat jurnal sebagai dokumentasi peristiwa apa yang telah menjadi sumber belajar anak selama belajar di rumah saja. Meski untuk kelas 1, tak ada kewajiban bagi siswa untuk belajar menuliskannya sendiri; bisa dituliskan orang tua atau dikerjakan bersama-sama.

Salah satu ibu spontan berujar, “wah aku terlalu asik menemani dia berkegiatan, sampai ga sempat kufoto atau kutulis.”
Tapi keraguan itu tak beralasan, karena bukan jurnalis harian yang harus memberitakan informasi sesuai tanggal kejadian. Peristiwa belajar bisa diulang kembali, atau kita memberi catatan pengingat saat membuat bahan rapor di akhir semester. Tambahan lagi, jurnal untuk kelas 1 tak harus selalu berbentuk tulisan, tapi bisa berupa foto atau video.

Hasil rapat virtual pun berlanjut.
Saya bersama orangtua lain dan fasilitator menyepakati adanya pembagian kelompok mentoring WA grup dan diskusi melalui Zoom. Bagaimanapun diskusi secara intens dalam situasi pandemi seperti ini, penting adanya mengingat orangtua lah yang banyak berperan menjadi fasilitator anak di rumah.

Dapat dibayangkan, saya dan orang tua lain yang sudah berusaha survive karena keterbatasan bekerja efek physical distancing ini ; tiba-tiba ada tambahan tanggung jawab melakukan riset bersama anak yang tentu menuntut pengaturan waktu dan terus belajar bersama anak.

Bersyukur komunikasi dengan fasilitator kelas 1 yaitu Bu Wiwin dan Mbak Mega baik di WA grup dan zoom berjalan baik.
Salah satu komen Bu Wiwin saat kami berkeluh kesah, seperti ini. ” La…apik iki, ortu jadi semangat belajar. Pas kita blm tahu itu nggak papa lo jawab sama anak bahwa kita belum tahu. Tapi njuk dilanjut mencari tahu.” Tentu pernyataan ini mendorong kami untuk terus bersemangat membersamai anak-anak.

Singkat cerita proses pun bergulir. Riset yang berubah-ubah tergantung mood anak. Riset yang katanya orang tua bukan riset karena seperti bermain-main saja. Riset yang semangat di awalnya lalu mandeg di tengah-tengah. Riset yang tak terlalu dipikirkan karena anak lebih sering bermain-main. Riset yang tak mau dibahas anak, karena ia lebih asik seminggu sekali kegiatan offline , lebih asik keluar masuk zoom untuk bercerita sambil rebahan di kamar atau lebih seru voice note di WA grup main tebak-tebakan.

Yang jelas WA grup kelas 1 begitu riuhnya. Saya pikir mungkin ini berkah dari pandemi. Anak-anak dan sesama orang tua sungguh jarang bertemu muka, hingga begitu diberi ruang komunikasi langsung dieksplor secara maksimal.

Tapi waktu tak bisa menunggu. Semester pun akan berakhir. Lalu bagaimana mengevaluasi dan memberi feedback pada apa yang dilakukan (riset) anak-anak?

Akhirnya disepakati, anak-anak melakukan presentasi riset ini dalam bentuk video. Sehingga yang tidak hadir pun bisa melihatnya. Tiba-tiba orang tua terkejut-kejut lagi. Ibu-ibu macam saya harus utak atik Kinemaster, Inshot, dll demi bisa membuat video, yang menurut kami harus bagus adanya.

Dydy sendiri, karena risetnya berupa video, tugas saya lalu adalah belajar editing. Take retake menyesuaikan situasi kondisi di rumah, serta corruptnya video saat diupload sungguh tantangan sendiri. Cerita lain di kelas, ada pak Sea yang bingung harus merekam aktivitas Awa yang mana, karena setiap diajak ngobrol tentang riset Awa akan melarikan diri. Ada Mimbok, ibunda Rakkai yang cerita kesulitannya merekam aktivitas Rakkai dengan repotnya diikuti adik ke mana-mana. Ada bu Wita yang dikejar-kejar Aleta untuk segera merampungkan videonya. Ada bu Ningrum yang menceritakan Ganis yang stagnan dengan buku cerita dan sulam menyulam, karena risetnya sudah jauh hari dikerjakan sebelum presentasi.

Keseruan negosiasi mengatur jadwal presentasi dan kesediaan anak-anak untuk presentasi langsung di hadapan anak dan orang tua lain (offline), atau presentasi dari rumah dan ditayangkan melalui zoom (online) juga turut mewarnai sebulan kemarin.

Jadwal akhir berhasil disepakati dan presentasi pun berlangsung baik sesuai jadwal. Video yang dihasilkan, meski tak sekeren khayalan orang tua namun telah mendeskripsikan tentang bagaimana anak berproses.

Kepolosan anak-anak usia 6 tahun lebih atau 7 tahunan ini juga patut diacungi jempol. Mulai dari presentasi sambil lari-lari, presentasi sambil sembunyi di balik meja, maupun ada yang sambil makan. Bahkan ada presentasi yang malah disimak orang tua, sementara anak-anak sudah asyik bermain di luar ruangan.

Sebagai pengalaman baru anak-anak melakukan presentasi offline maupun online, menyadarkan banyak pihak bahwa sungguh menantang proses mengajak anak tipe kinestetik duduk menyimak berlama-lama tanpa mengerjakan apa-apa.

Namun tantangan ini menjadi menarik, ketika pertanyaan dan tanggapan anak serta orang tua, lalu berlangsung sangat cair. Tak masalah bila Naka bertanya pada Faiz, “Apakah ayamnya tidur di malam hari?” Atau pertanyaan saya pada Ayya, “Apakah bila tempe diberi ragi akan menjadi roti tempe?” Tak ada yang merasa sedang dipermalukan atau bagaimana, semua berlangsung seru dan gembira. Bahkan beberapa anak memberitahu orang tuanya tak sabar melakukan riset selanjutnya.

Sebenarnya kalau melihat dari sisi positif, proses kelas 1 Salam ini lebih seru dan berdinamika dibanding repotnya orang tua siswa di sekolah lain yang harus antar jemput lembar tugas serta zoom wajib sekelas bersama guru maupun PAS (Penilaian Akhir Semester) yang wajib didokumentasikan sebagai bukti anak jujur mengerjakan sendiri.

Tapi..apakah apple to apple perbandingan ini?

Tentu tidak. Kelas 1 SD Salam (apalagi tahun ini) jelas berbeda. Tak bisa dibandingkan dengan dinamika maupun kompetensi yang telah diraih, dengan siswa sekolah lain.
Ketika anak-anak kelas 1 Salam selesai presentasi riset, mungkin saja mereka masih harus belajar baca tulis, masih perlu belajar banyak hal lagi.

Namun pembelajaran saat berproses seperti bagaimana membedakan pitik jantan, pitik betina; mengapa tempe saya ada yang gagal prosesnya; bagaimana memahami takaran yang pas untuk membuat bakwan jagung, burger, sop jagung, donat; dan bagaimana senang dan bangganya saat buku cerita/video nya diapresiasi teman-teman; bagaimana bertanya jawab tentang teman sebaya dan orang tua; memaknai bagaimana jujurnya anak-anak yang tak segan-segan pamit dari zoom karena sudah bosan, lelah atau mengantuk; tentu ini tidak akan didapatkan di sekolah lain.

Pada akhirnya, saya dan orang tua lain menyadari. Tak bisa mengukur bagaimana anak, dengan cara pandang, metode dan kompetensi pembelajaran di sekolah umum.
Masuk dan melebur ke dalam Sanggar Anak Alam adalah menyadari bahwa sejatinya anak, orang tua dan fasilitator belajar satu sama lain secara bersama-sama.

Bedanya tahun ini, saya dan orang tua kelas 1 angkatan 2020 sadar tidak sadar membekali diri dengan vaksin. Tak masalah harus belajar di rumah dan memfasilitasi sendiri. Karena vaksin berani berkomitmen telah membekali kami untuk berjalan sejauh ini. Berani berkomitmen atas keputusan menyekolahkan anak-anak di Sekolah Dasar Salam seperti menjiwai nilai sekolah keluarga, yang memang menjadi pilihan sejak awal.

Ivy Sudjana
Orang tua Arsa – 2SMA dan Adyatma – 1SD