WORKSHOP ORTU SALAM

Sebagai sekolah berbasis keluarga, SALAM (Sanggar Anak Alam) membangun proses belajar yang berbeda dengan sekolah pada umumnya. SALAM meyakini ada tiga pusat pendidikan (TRISENTRA.) Sentra yang pertama dan utama adalah keluarga, yang kedua adalah masyarakat atau komunitas dan yang ketiga adalah sanggar atau sekolah. Dengan paradigma tersebut, SALAM meyakini bahwa sekolah bukan sekadar tempat menitipkan anak. Sebagai sentra pertama dan utama, peran orang tua justru tidak hanya sekadar mengantar-jemput anak. SALAM menggunakan istilah ‘warga’ untuk menyebut mereka yang terlibat di dalam komunitas. Ada siswa, fasilitator, pengurus PKBM dan yayasan, dan orang tua. Semua warga SALAM memiliki tanggung jawab untuk terlibat aktif menghidupi komunitas dan ekosistem. Pandangan demikianlah yang kurang lebih muncul dalam sesi Diskusi Paradigma Pendidikan SALAM dalam Workshop Orang Tua Siswa SALAM yang diadakan pada 30-31 Maret dan 3 April 2022.

Workshop Orang Tua diadakan selama dua hari. Hari pertama ditujukan kepada orang tua dari seluruh jenjang dan terdiri dari sesi diskusi mengenai paradigma pendidikan SALAM serta sesi penugasan untuk membuat jurnal. Hari berikutnya peserta workshop dibagi berdasarkan jenjang. Sesuai dengan kebutuhan fasilitasi, maka orang tua siswa SD berada dalam ruang diskusi yang berbeda dengan orang tua siswa SMP dan SMA. Workshop per jenjang ini terdiri dari sesi diskusi mengenai kerangka dan ekosistem belajar, serta sesi daur belajar SALAM dan jurnal.

Situasi pandemi yang belum terlihat masa berakhirnya, membuat pembelajaran masih berjalan secara hibrid, kombinasi antara daring dan luring. Fasilitator harus banyak berkolaborasi dengan orang tua untuk membentuk iklim pembelajaran yang nyaman bagi anak. Karenanya, perlu semacam panduan bagi orang tua agar proses pembelajaran yang dilakukan di rumah, tetap selaras dengan nilai-nilai SALAM. Workshop Orang Tua merupakan salah satu upaya SALAM dalam membagikan panduan-panduan tersebut.

Workshop ini diadakan secara daring dan diikuti oleh kurang lebih 70 peserta. Peserta dijaring dari angket yang beredar beberapa bulan sebelumnya. Orang tua yang memilih ‘workshop online’ sebagai media belajar, dan orang tua calon siswa baru angkatan 2022/2023 diundang dalam workshop kali ini.

Di antara semua sesi, yang paling menarik bagi saya adalah sesi jurnal dan daur belajar SALAM. Dalam sesi bedah jurnal, orang tua belajar tentang pentingnya mencatat, apa itu daur belajar, dan bagaimana menerapkannya dalam jurnal. Pada sesi ini, jurnal saya mendapat kesempatan untuk dibedah menggunakan kerangka daur belajar. Catatan itu merekam peristiwa ‘membuat bakwan’ yang saya tulis setahun silam. Berkat didaur, peristiwa ‘membuat bakwan’ memiliki nilai baru, meski peristiwanya sendiri telah lama berlalu.

Dari sesi daur belajar, saya memahami bahwa setiap peristiwa bisa diurai dalam kerangka daur belajar. Dari sesi bedah jurnal, saya menyadari bahwa ada dua hal yang membuat sebuah peristiwa bisa digali lebih dalam.

Semua Peristiwa Berharga

Hal pertama adalah sudut pandang bahwa setiap peristiwa berharga. Seperti pandangan SALAM bahwa semua orang memiliki kebutuhan khusus, semua peristiwa juga sejatinya berharga. Maka, anggapan layak atau tidak, hebat atau receh suatu peristiwa, menjadi tak penting lagi, karena setiap peristiwa pantas dan layak didokumentasikan dalam catatan.

Setiap peristiwa berharga sebab didalamnya ada proses ‘mengalami’ yang membuat anak mampu menemukan data. Proses ‘ungkap data’ tersebut lantas memantik daya analisis anak dan menumbuhkan pemikiran dan pemaknaan kritis, sehingga mampu menumbuhkan perubahan.

Jurnal lain yang dibedah dalam sesi bedah jurnal adalah jurnal riset Naka saat masih menjadi siswa kelas 1 SD. Riset Naka waktu itu adalah memelihara ikan cupang. Ikan cupang adalah jenis ikan hias yang mudah ditemui di pasar-pasar dan di toko ikan hias. Sudah banyak pula orang yang memeliharanya. Jika dilihat sekilas, peristiwa dalam riset ini tampak ‘biasa’. Namun, berbekal catatan yang ditulis secara intens oleh fasilitator dan orang tua lalu diterapkan dengan kerangka daur belajar, peristiwa yang terkesan ‘biasa’ ternyata memiliki banyak relasi yang kompleks.

Dengan memelihara cupang, Naka memperoleh data, salah satunya mengenai ikan yang mati. Data itu menimbulkan pertanyaan, kenapa ikan mati? Jawaban dari pertanyaan tersebut lantas menjadi pengetahuan baru yang didapat Naka dari proses ‘mengalami’. Pertanyaan yang diajukan merupakan bentuk dari tumbuhnya pemahaman tentang sebab-akibat, sehingga dapat memantik pemikiran kritis. Dan pengetahuan baru yang didapatkannya dari proses ‘mengalami’ ini pada akhirnya turut menjadi bekal bagi anak dalam proses riset selanjutnya.

Dokumentasi

Hal kedua yang saya sadari adalah tentang pentingnya dokumentasi. Sudut pandang menentukan perilaku kita. Maka, dengan menganggap semua peristiwa berharga, kita mampu memberi perhatian pada setiap peristiwa untuk kelak dikorelasikan dengan peristiwa lain. Dengan menganggap semua peristiwa berharga, kita mengurangi peluang melewatkan tahap perkembangan anak yang mengasyikkan karena mampu meluangkan waktu untuk mendokumentasikannya. Bisa dengan dokumentasi tertulis seperti membuat catatan atau jurnal maupun dokumentasi audio visual.

Mulailah mencatat meskipun ‘hanya’ peristiwa sehari-hari yang tampak biasa. Sebab, catatan tertulis maupun rekaman audio visual yang ditulis tanpa intensi apapun di satu hari, bisa jadi akan memiliki banyak nilai di hari-hari kemudian. Ia bisa menjadi petunjuk, baik tentang objek tulisan maupun tentang si penulis itu sendiri. Sudut pandang bahwa setiap peristiwa berharga akan membuat kita beranggapan bahwa mendokumentasikan peristiwa sama berharganya dengan peristiwa itu sendiri.

Seperti peristiwa membuat bakwan dan memelihara ikan cupang. Melalui jurnal yang dibaca kembali, saya menemukan bahwa ada relasi-relasi antar-peristiwa, meskipun baru menyadarinya beberapa waktu kemudian. Dan, menerapkan kerangka daur belajar pada catatan, akan membantu kita menemukan relasi-relasi tersebut.

Daur Belajar

Istilah ‘daur belajar’ tidak begitu asing bagi saya. Istilah tersebut pernah saya baca beberapa kali di situs komunitas, sayamyogyakarta.com. Disebutkan di sana betapa pentingnya kita memahami daur belajar dan betapa berpengaruhnya daur tersebut pada cara kita memandang sebuah peristiwa sebagai modal belajar. Tapi, memang benarlah prinsip SALAM yang berbunyi: mendengar aku lupa, melihat aku ingat, melakukan aku paham, menemukan sendiri aku kuasai. Tulisan itu hanya berhenti sampai di ingatan saja. Saya mulai mencoba menerapkan kerangka daur belajar, dengan menggunakan catatan peristiwa ‘membuat bakwan’ sebagai panduan.

Seperti namanya, daur belajar adalah sebuah siklus. Untuk memulai siklus, saya mengambil poin-poin yang saya anggap penting dalam catatan. Dalam peristiwa membuat bakwan, siklus itu bermula saat ada pemantik berupa kebutuhan untuk membuat camilan berbahan sayur. Siklus diawali dengan ‘diskusi menu’ sebagai tahap ‘mengalami’. Diskusi menghasilkan data berupa ‘bahan yang tersedia di rumah’. Data tersebut menimbulkan pertanyaan ‘camilan apa yang bisa dibuat menggunakan bahan-bahan tersebut?’. Pertanyaan tersebut membawa pada kesimpulan ‘membuat camilan yang mau dikonsumsi’.

Siklus tersebut bisa berputar lagi. Karena ‘camilan yang bisa dibuat dengan bahan yang tersedia di rumah’ adalah sayur goreng atau bakwan, dan anak saya enggan makan sayur goreng, maka ‘memilih bakwan sebagai menu’ digunakan sebagai pemantik untuk daur berikutnya.

Pemantik berupa kebutuhan membuat bakwan, membentuk siklus yang diawali dengan ‘diskusi jumlah bahan dan takaran yang dibutuhkan’ pada tahap ‘mengalami’. Diskusi menghasilkan data berupa ‘bawang sebagai bumbu bakwan’. Data tersebut menimbulkan pertanyaan ‘bagaimana agar bau bawang tidak tercium?’. Kesimpulannya adalah ‘menggunakan masker saat mengupas bawang’.

Itulah contoh penerapan daur belajar dalam sebuah peristiwa. Dengan mengurainya, terlihat bahwa peristiwa sederhana seperti membuat bakwan ternyata memuat relasi sebab-akibat yang kompleks.