Menikmati Catatan Petualangan Belajar

Pada tahun 1983 Howard Gardner, seorang psikolog dari Universitas Harvard Amerika Serikat mempublikasikan temuannya, yaitu kecerdasan majemuk dalam buku Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. Gardner menunjukkan bahwa ada delapan kecerdasan yang berbeda yang dimiliki manusia dengan kadar yang berbeda-beda. Kedelapan kecerdasan dengan kadarnya masing-masing itulah yang nantinya menjadi profil kecerdasan individu. Temuan ini tentu saja secara langsung mematahkan pendapat sebelumnya yang mengatakan bahwa kecerdasan manusia itu diwakili oleh profil intelejensia yang hanya memandang kecerdasan secara sempit.

Pada laman tempo.co, tayang 15 Februari 2019 kita temukan tulisan tentang Tes IQ. Di dalamnya terdapat pernyataan, “Dr. Florio sudah lama meneliti mengenai kegunaan tes IQ dan mengatakan yang diuji dalam tes adalah penguasaan bahasa, pengetahuan umum dan pemecahan masalah. Namun menurutnya, tes tersebut tidak menguji mengenai motivasi, kepribadian dan kreatifitas.” Pada pungkasan artikel, Dr. Florio mengungkapkan lagi, “Gardner menunjukkan adanya keterbatasan tes IQ dan masalah pada fokus satu aspek saja. Kita sebagai manusia adalah individu yang kompleks.”

Demikianlah akhirnya konsep dan pemikiran tentang kecerdasan majemuk ini diterima dan diadaptasi menjadi praktik-praktik mengajar di sekolah-sekolah dan universitas. Di Indonesia kita ingat mulai terjadi gegap gempita tentang kecerdasan majemuk pada tahun 2000-an. Waktu itu kurikulum mulai disusun ulang sampai lahir Kurikulum Berbasis Kompentensi 2004. Sekolah-sekolah terkaget-kaget karena capaian materi dan isi tak lagi jadi prioritas, tapi kompetensi peserta didik. Guru-guru belajar lagi, tapi tak mudah melepaskan diri dari capaian-capaian isi dan materi. Sulit memfasilitasi murid-murid mengembangkan komptensi dan kecerdasan mereka yang beragam. Hal ini masih jadi tantangan sekolah-sekolah di seantero Nusantara hingga hari ini. Namun, apakah semua sekolah dan guru mengalami kesulitan yang sama. Ternyata tidak. Setidaknya ada dua sekolah di pulau Jawa yang telah terbiasa melakukan pendekatan itu bahkan sebelum teori kecerdasan majemuk gegap gempita diperbincangkan di Indonesia. Itu belum terhitung Perguruan Taman Siswa Ki Hajar Dewantara dan Aisyiyah yang berdiri sejak masa pra kemerdekaan. Kita kembali kepada dua sekolah di pulau Jawa. Kita mengenal SD Kanisius Eksperimental yang didirikan oleh Y.B. Mangunwijaya, seorang rohaniwan, budayawan, arsitek, penulis, aktivis wong cilik di Yogyakarta. Dan Sanggar Anak Alam (SALAM) yang didirikan oleh Sri Wahyaningsih pertama kali pada 17 Oktober 1988 di Lawen, Banjarnegara, Jawa Tengah. Kini SALAM bisa ditemui di Nitiprayan, daerah Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Pada mulanya kedua sekolah sama-sama dibuat untuk memfasilitasi anak-anak setempat yang kekurangan secara ekonomi, berpotensi untuk tak bisa melanjutkan sekolah karena harus bekerja maupun menikah. Kita mau bicara soal SALAM yang saat ini sudah berusia dua puluh tahun, tempat belajar sudah berkembang, ada jenjang PAUD, SD, SMP, hingga SMA namun dalam balutan non-formal Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat.

Di tangan penulis sudah ada buku Kami Tidak Seragam: Rekam Jejak Sanggar Anak Alam Jilid 2. Di halaman vii kita baca, “Ternyata pengertian belajar selama ini telah mengalami distorsi yang sangat akut – belajar hanya dipahami sekedar membaca buku serta menghafalkan mata pelajaran karena esok mau ulangan atau hendak mengahadapi ujian.” Masih di paragraf yang sama, kalimat berlanjut, “Kita semua orang dewasa menghabiskan waktu untuk menghafal berbagai macam hal yang nun jauh di angah-berantah sana, namun ironisnya malah tidak kenal dengan hal-hal mendasar di lingkungan terdekat kita.” Prakata buku dari Toto Rahardjo.

Sejak kurikulum nasional telah mengalami penyesuaian beberapa kali, dari KBK 2004 sampai kini kurikulum 2013, berapa banyak sekolah yang sungguh-sungguh bisa mempraktikkannya? Mari kita lanjut saja membaca. Buku di tangan penulis menunjukkan proses belajar murid-murid SALAM jenjang SD hingga SMA selama suatu periode waktu. Bersama Randu Manah (9 tahun), penulis menikmati lembar demi lembarnya yang penuh warna. Randu Manah tertarik membaca riset seorang murid kelas 4 bernama Jehuleon Umawan Seputro. Riset tentang Scratch Building menggunakan barang-barang bekas. Hasil prakarya memodifikasi barang bekas jadi bentuk-bentuk serupa robot yang dihasilkan tampak sangat menarik dalam foto. Tapi Randu Manah belum tahu banyak proses berliku yang harus dilalui Jehu sebelum bisa menghasilkan hasil yang bagus itu, ia harus terus membaca atau mungkin mencoba mengalami.

Riset adalah pendekatan dan cara yang dipilih oleh SALAM untuk membelajarkan murid-muridnya. Dijelaskan pada pengantar penyunting, dalam buku dipaparkan tahap demi tahap proses belajar dengan cara riset. Sejak menentukan tema riset sesuai minat murid, menyusun pertanyaan-pertanyaan dasar, praktik atau pengamatan langsung objek riset hingga evaluasi dan peloporan hasil riset sebagian murid termuat dalam buku.

Anak-anak jenjang SD kelas 1 sampai 3 melakukan variasi riset yang hasil akhirnya akan memenuhi kebutuhan pokok mereka, seperti khususnya makan. Belum tampak riset lain yang mungkin bermuara pada penemuan jalan akan hal-hal berhubungan dengan karakter walaupun dalam jalannya riset tertulis ada kesepakatan yang dibuat bersama dan tentu muncuk konflik-resolusi dari situ. Jika pembaca skeptis dan bertanya-tanya, apa benar dengan cara menanam bayam, mengamati pertumbuhannya, memanen, dan memasaknya

akan membelajarkan anak tentang banyak hal? Pembaca skeptis bisa melihat bagian Kelas (berapa) belajar apa? Dijelaskan dalam bagian tersebut, bidang-bidang pengembangan yang dipelajari murid yang serupa dengan mata pelajaran di sekolah-sekolah umum.

Mulai kelas 4, murid-murid tidak lagi melakukan riset berkelompok, tapi mulai riset pribadi. Minat masing-masing murid sungguh bisa terakomodasi, barangkali demikian diharapkan Howard Gardner. Namun, banyak ditemukan riset dengan cara memasak atau riset tentang makanan. Pertanyaan muncul, apakah riset tentang makanan memang timbul karena murid sungguh ingin ataukah karena sebab lain. Pembaca boleh bertanya sebab murid-murid berasal dari kondisi keluarga yang menganut nilai berbeda dengan motivasi memilih sekolah semacam SALAM dengan motivasi berbeda pula. Sebagian murid barangkali mekar dengan optimal dengan cara belajar serupa, sebagian yang lain masih meraba dan meniru jalan sebayanya karena belum punya minat khusus dan masih banyak butuh eksplorasi bidang-bidang lain. Pada bagian riset pribadi, agak berbeda dengan bagian riset bersama yang dipraktikkan di jenjang kelas 1-3 SD, murid menulis sendiri pengalaman risetnya sehingga belum terbaca bagaimana detil peran fasilitator dan orang tua saat proses berlangsung, walaupun dalam beberapa tulisan sedikit disinggung oleh murid. Pembaca penasaran tentang ini. Guru dan orang tua ingin belajar dan mencontoh dari sini.

Lepas dari itu, ditemukan riset-riset pribadi yang sangat menarik, membelajarkan, dan dekat dengan keseharian murid, bikin murid tak sekedar menghafal berbagai macam hal nun jauh di negari antah-berantah. Riset membuat peta RT membelajarkan anak srawung dengan lingkungan dan orang-orang di tempat tinggalnya di samping tentu saja sangat jelas terlihat mengembangkan kecerdasan visual-spatialnya. Berbagai macam riset tentang pakaian dan kecantikan kita bayangkan seperti murid-murid sekolah kepandaian putri di masa lalu belajar tetapi dengan balutan teknologi masa kini. Keterampilan akan berguna untuk pendukung peran meraka dalam keluarga atau masyarakat kelak atau bahkan jadi hobi untuk mensyukuri waktu hidup.

Dengan jangka waktu riset yang cukup panjang tanpa dikejar-kejar harus menyelesaikan materi ini dan itu, murid-murid punya kesempatan untuk mencoba berulang kali, gagal, mencoba lagi, mencoba terus hinggal menjadi “ahli”. “Selama wabah covid-19 ini aku sudah membuat cilok berulang-ulang, sebanyak 3 kali. Jadi total selama semester ini aku sudah melakukan praktik sebanyak 5 kali. Awal-awal praktik aku masih harus didampingi Mama, tapi sekarang aku sudah bisa melakukan sendiri. Aku sudah tidak perlu lagi melihat resep ketika praktik, karena aku sudah bisa. Kalau ukurannya diubah, aku juga sudah bisa menyesuaikan takaran bahan atau bumbu lainnya,” tutur Mayzza, kelas 5.

Menarik dan mengharukan adalah seorang murid kelas 11, Foni. Suatu ketika pada semester ketiga pulang kampung ke Lumasebu, Maluku Tenggara Barat tahun 2018. Dalam buku, Foni menuturkan prihatin dengan anak-anak muda di desanya yang tidak bekerja setelah lulus kuliah atau SMA. Foni juga menuliskan beberapa dugaaa akan penyebabnya, termasuk kurangnya lifeskill dan ketidakpahaman potensi alam setempat, khususnya laut

dan kelapa. Foni menulis lagi ia bertekad belajar mengolah kelapa antara lain membuat VCO atau minya kkelapa murni dan belajar membuat sabun sendiri yang lebih ramah lingkungan demi dibagikan kelak untuk anak-anak muda di desanya. Kita boleh sejenak membungkukkan badan memberi tabik selamat pada SALAM atas niat mulai yang berhasil ditumbuhkan dalam hati Foni. Proses belajarnya menumbuhkan cinta dan kepedulian. Apa yang lebih indah daripada ini, tidak ada nominal uang dan jabatan yang bisa menggantikan keberhasilan serupa ini.

“Paling sedikit 12 tahun waktu dihabiskan untuk bersekolah. Masa yang lama dan menjemukan jika sekedar mengisinya dengan duduk, mencatat, mendengarkan guru berceramah di depan kelas, dan sesekali bermain,” kutipan dari Roem Topatimasang tertulis di halaman 108. Murid-murid dalam buku punya kesempatan lebih dari sekedar duduk, mencatat, dan mendengarkan guru berceramah. Murid kelas 6 melakukan ulasan atas kegiatan riset mereka dari kelas-kelas sebelumnya. Sangat banyak kesempatan untuk menjadi subjek pendidikan, mengevaluasi diri, dan mengambil keputusan tergambar dari aktivitas ini. Barangkali guru-guru dari sekolah-sekolah lain tergelitik ingin mencoba melakukan bersama murid-muridnya setelah membaca rincian cara melakukannya.

Dengan berbagai dinamikanya, SALAM berusaha menunaikan tugasnya mendampingi murid-murid menemukan jalan-jalan kehidupannya. Sejalan dengan itu, di buku lain tulisan Y. B. Mangunwijaya yang tidak banyak beredar luas, berjudul Menumbuhkah Sikap Religius pada Anak kita juga tergelitik dengan sekelumit kalimat pada kata pengantar buku dari Gus Dur, “Menjadikan Tuhan milik anak, agar anak menjadi milih Tuhan…” Para pelaku pendidikan yang melakoni perannya sepenuh hati tentu berpikir sedalam ini. Seperti Rama Mangun bertanya di halaman 42, “Sanggupkah kita membina anak, sehingga si anak mampu untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan hidup yang benar dan secara benar? Paling tidak, dapatkah kita membina anak, sehingga si anak itu MAU untuk bertanya pertanyaan yang dalam?”

Menikmati catatan petualangan belajar ini mewujudkan syukur sekaligus menimbulkan pertanyaan demi pertanyaan pada diri guru dan orang tua. Sedalam apakah anak-anak telah dibina untuk menyelami kebenaran dan menjadi pembelajar rendah hati sepanjang hidupnya?