Belajar untuk (Bertahan) Hidup

Pandemi sudah berjalan kurang lebih sembilan bulan lamanya. Seperti seorang ibu yang mengandung, bulan ini mungkin adalah bulan-bulan sulit karena beban sudah terasa semakin berat, persiapan untuk menyambut kehidupan baru pun sudah terasa semakin nyata.

Analogi tersebut mungkin sesuai dengan kondisi yang kita alami sekarang ini, tatanan kehidupan sosial dan ekonomi yang mulai berubah, membuat pola pikir, dan perilaku kita pun harus beranjak, beradaptasi menuju  pembiasaan-pembiasaan baru.

Tak berbeda juga dengan wajah dunia pendidikan kita, banyak sekali penyusunan, penyesuaian, dan juga uji coba yang sudah dilakukan agar sistem pembelajaran tetap bisa berlangsung meski harus dalam jaringan (daring).

Beberapa bulan terakhir ini, tetangga saya mulai tampak sibuk mendaftarkan anaknya ke tempat kursus. Tentu, ini bukan kursus memasak, atau kursus yang dapat mengasah ketrampilan hidup semacamnya—agar anaknya tidak mengalami ketertinggalan dalam penuntasan materi di sekolah.  Mungkin, belajar daring dinilai tidak cukup efektif untuk menghasilkan otak-otak cemerlang dan masa depan yang gemilang.

Lain halnya dengan salah seorang teman saya yang boro-boro mendaftarkan anaknya untuk mengikuti les di sana-sini, untuk bisa membuat anaknya menyelesaikan tugas sekolah yang cukup padat dan banyak saja sudah Alhamdullilah. Jadwal-jadwal pertemuan menggunakan zoom, panggilan video, dan juga pengumpulan tugas setiap satu minggu sekali ke pihak sekolah membuat teman saya yang kesehariannya adalah seorang ibu bekerja cukup kerepotan mengatur waktu.  Beruntung, karena kantor tempat dia bekerja cukup memberikan kelonggaran selama pandemi melanda ini, nah, bagaimana kebijakan tempat bekerja orang tua yang lain? Tidak semua perusahaan atau kantor dapat memberikan keleluasaan seperti itu. Hasilnya rupanya tidak jauh berbeda, panggilkan saja guru les datang ke rumah untuk mendampingi si anak menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. Dengan begitu, semua penugasan sekolah akan selesai dengan paripurna, orang tua pun bisa bernapas lega.

Pembelajaran dalam jaringan yang sudah berjalan selama hampir setengah tahun lebih ini tentu terasa tidak lagi menjadi sesuatu yang mengasyikkan. Banyak proses dan hubungan sinergis dua arah yang kemudian tampak kosong dan hampa. Pembelajaran daring di sebagian besar sekolah masih berupa semacam pemindahan pembelajaran model konvensional ke pembelajaran model virtual.

Model sekolah konvensional saja sebagian metode belajarnya membuat bosan, apalagi model virtual yang tidak mengubah isi dan metode penyampaian materi, salah-salah para murid diam-diam akan berpaling dan berpindah menuju permainan online. Lha jemu, mau gimana?

Mungkin, di awal-awal pandemi beberapa orang tua dan anak masih bersemangat untuk menghadapi apa yang terjadi, namun, makin mendekati akhir tahun dengan situasi yang masih belum pasti, banyak orang tua dan mungkin guru juga mengalami tekanan batin yang serupa. Bagaimana dengan anak-anak?

Pandemi seolah menguji kemampuan kita bertahan terhadap berbagai macam kemungkinan dan situasi.

Saya lantas menengok ke dalam keluarga kami sendiri. Apakah situasi belajar daring ini cukup membuat stressfull? Atau sebetulnya saya diam-diam merasa cukup senang dan menikmati karena Vadin-anak saya jadi cukup punya banyak waktu untuk mengeksplorasi minatnya di rumah daripada ketika dia duduk di bangku sekolah dasar__yang seharusnya dia jalani untuk pertama kalinya di tahun ajaran baru ini. Tentunya, ini hanya semacam grenengan dalam hati kecil saya, bahwa saya merasa beruntung karena pandemi membuat anakku Vadin jadi bisa lebih punya waktu untuk berkegiatan di rumah dan melakukan hal-hal yang benar-benar dia sukai. Menurut saya, ini adalah kemerdekaan belajar yang sebenarnya, anak tidak stress dan spaneng dalam menjalani hari-harinya.  Belajar bukan lagi melulu tentang membuka WAG kelas setiap hari hanya untuk mengecek penugasan apa yang harus dikerjakan dan dikumpulkan pada hari itu juga, tho?

Pandemi membuat saya semakin mengerti bahwa tiap anak sebetulnya memiliki kemampuan bertahan yang luar biasa. Meskipun ada yang menyebut anak-anak sebagai entitas manusia dengan imunitas yang lebih lemah daripada manusia dewasa, namun rasa berani dan keingintahuan yang tinggi tak membuat mereka putus asa dalam mencari kesibukan dan keasyikan untuk membangun kebahagiaannya. Meski itu artinya sebagian besar bagian dalam rumah harus kita relakan untuk “diporakporandakan” karena ingin menjawab rasa ingin tahunya. Mungkin, sejatinya anak-anak jauh lebih tangguh daripada yang kita pernah tahu asalkan kita bisa memberikan ruang kemerdekaan untuk mereka bereksplorasi dan senang dalam menjalani kesehariannya, ya tentu dalam situasi pandemi ini, batasan kemerdekaan yang diberikan pada tiap keluarga bisa berbeda-beda.

Saya melihat kecenderungan anak yang menghabiskan waktunya untuk belajar terus-menerus dengan terpaksa cenderung patuh dan menurut di depan orang tuanya, tapi rebel ketika di luar. Ini adalah hasil pengamatan pribadi saja, tidak usah diambil hati jika itu benar.

Anak-anak yang kurang waktu bermain, jiwanya seolah terbelenggu, karena ingin melakukan ini itu tapi dilarang melulu. Akhirnya, salah satu hal yang dilakukan bisa jadi adalah dengan melakukan banyak hal secara diam-diam. Diam-diam membolos, diam-diam berbohong, diam-diam mengambil uang, diam-diam bikin rancangan undang-undang. Eeh …

Anak-anak yang belajar setiap hari demi tuntutan ‘keinginan’ orang tua tentu hasilnya akan berbeda dengan anak yang belajar dengan kesadaran. Kesadaran karena untuk bisa bertahan hidup mereka harus mau belajar untuk membuka diri terhadap pengetahuan di sekitar mereka seluas-luasnya. []