Keteladanan menjadi sesuatu yang semakin mendesak untuk dimunculkan di tengah kondisi Indonesia yang seakan tenggelam dalam kegelapan. Di tengah petheng-dhedhet yang menyelimuti, figur seperti Rama Y.B. Mangunwijaya menjadi cahaya yang menuntun jalan, menghidupkan kembali harapan, dan mengingatkan bahwa bangsa ini masih memiliki akar moral serta intelektual yang kuat. Rama Mangun bukan hanya seorang imam, melainkan juga seorang intelektual, budayawan, arsitek, dan pejuang kemanusiaan yang tidak kenal lelah. Ia memahami bahwa membangun manusia tidak hanya sekadar mengisi pikirannya dengan ilmu, tetapi juga menanamkan rasa keadilan, kemanusiaan, dan keberpihakan pada yang tertindas. Baginya, arsitektur bukan hanya tentang bangunan megah, melainkan juga bagaimana ruang dapat menghadirkan kehangatan, kebersamaan, dan kemandirian. Hal ini tergambar dalam karyanya di Kali Code, di mana ia mengubah pemukiman kumuh menjadi lingkungan yang manusiawi tanpa menggusur atau merendahkan martabat penghuninya.

Dalam dunia pendidikan, Rama Mangun dikenal sebagai sosok yang gigih dalam membangun kesadaran kritis. Ia tidak sekadar mengajarkan ilmu, tetapi juga menghidupkan kembali semangat berpikir bebas dan bertanggung jawab. Buku-buku yang ia tulis bukan sekadar karya sastra, melainkan juga medium untuk menyampaikan kegelisahannya akan nasib bangsa, terutama mereka yang termarjinalkan. Ia berbicara tentang keberanian melawan ketidakadilan, tentang pentingnya pendidikan yang membebaskan, serta tentang perlunya membangun bangsa dengan jiwa yang merdeka.
Sikapnya yang tegas dalam membela kaum tertindas sering kali membuatnya berhadapan dengan kekuasaan. Ia tidak gentar tetap berdiri di sisi rakyat kecil, tanpa pamrih, tanpa takut kehilangan posisi atau kenyamanan. Baginya, keberpihakan kepada mereka yang lemah adalah panggilan moral yang tidak bisa ditawar. Ia menunjukkan bahwa keberanian bukanlah sekadar menantang kekuasaan, tetapi juga keteguhan dalam mempertahankan nilai-nilai kebenaran, meskipun harus berhadapan dengan berbagai risiko.
Dalam setiap langkahnya, ia mengajarkan bahwa pengabdian kepada bangsa tidak melulu harus dilakukan melalui jalur politik atau birokrasi, tetapi bisa melalui kerja-kerja kecil yang konsisten, penuh dedikasi, dan dilakukan dengan ketulusan.
Demikian kesan umum dari buku kumpulan esai “YB Mangunwijaya, Demi Manusia dan Bangsa” (Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2025) yang berupaya menyusun gambaran tentang sosok Romo Mangun. Buku setebal 474 halaman ini menyajikan tiga puluh esai yang ditulis para intelektual yang berkiprah di berbagai bidang profesi atau gerakan. Sejumlah tokoh masyarakat juga menulis komentar dan pandagannya tentang Rama Mangun. Para penulis secara tersirat maupun tersurat dengan penguh kekaguman menyingkap keberanian Rama Mangun dalam berpikir dan bertindak, mengulang-ulang kesan akan dedikasinya yang tak tergoyahkan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Namun, di luar sekadar mengagumi, kini adalah saat yang tepat untuk benar-benar menghargai dan mewujudkan gagasan-gagasan besar yang pernah ia perjuangkan. Sebagaimana terinspirasi dari buku ini.
Inspirasi untuk terus bergerak
Dari pengalaman panjang berinteraksi dan bekerja bersama Rama Mangun menurut saya beliau bukan hanya seorang pemikir yang berani, tetapi juga seorang yang menolak untuk membiarkan gagasannya hanya mengendap di dalam buku atau ruang diskusi. Ia membawa ide-idenya ke ranah nyata, ke tengah masyarakat yang membutuhkan perubahan, tanpa takut pada risiko yang mungkin ia hadapi.
Di tengah situasi bangsa yang masih berkutat dengan ketimpangan sosial, degradasi moral, dan semakin lemahnya kepekaan terhadap sesama, warisan pemikiran Ramo Mangun seperti kita temukan dalam buku ini seharusnya tidak hanya menjadi kenangan, sebalinya menjadi inspirasi untuk diterapkan dalam kehidupan nyata. Alih-alih sekadar mengenang dan mengagumi karya-karya Rama Mangun, saat ini adalah momentum yang tepat untuk menjadikan nilai-nilai perjuangan Rama Mangun sebagai pedoman dalam membangun bangsa. Gagasannya tentang pendidikan yang membebaskan, pembangunan yang berpusat pada manusia, serta keberanian untuk melawan ketidakadilan harus menjadi bagian dari kesadaran kolektif, bukan hanya sebagai wacana, tetapi sebagai tindakan nyata untuk terus bergerak.
Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang berani seperti Ramo Mangun—orang-orang yang tidak hanya bicara tentang perubahan, tetapi benar-benar turun tangan untuk mewujudkannya. Jika penghargaan terhadap Romo Mangun hanya sebatas kata-kata dan nostalgia, maka kita telah gagal memahami esensi perjuangannya. Kini adalah waktu untuk bertanya pada diri sendiri: sejauh mana kita berani meneruskan jejaknya?
Di tengah kondisi seperti ini, kebutuhan akan figur-figur pemimpin yang dapat dijadikan teladan menjadi semakin mendesak. Baik dalam ranah formal maupun nonformal, pengangkatan tokoh sebagai sosok yang menginspirasi harus dilakukan untuk mengisi kekosongan moral yang terjadi. Pemimpin bukan sekadar mereka yang memiliki jabatan atau kekuasaan, tetapi juga mereka yang mampu menunjukkan integritas, keberanian, dan kepedulian terhadap masyarakat. Dengan demikian seluruh kekaguman akan perjuangan Rama Mangun seperti yang tercermin dalam buku ini memantik semangat melanjutkan perjuangan Rama Mangun.
Krisis yang terjadi saat ini bukan hanya soal kebijakan yang salah arah, tetapi juga hilangnya keteladanan di ruang publik. Oleh karena itu, membangun kembali narasi tentang kepemimpinan yang berbasis keteladanan menjadi langkah penting dalam menyelamatkan masa depan bangsa..
Cahaya dalam gelapnya kebangsaan
Di tengah meredupnya keteladanan dan matinya intelektualitas dalam ruang kebangsaan, keberanian untuk mengangkat kembali figur Rama Mangunwijaya sebagai salah satu guru bangsa menjadi amat penting. Rama Mangun bukan sekadar sosok pemikir, tetapi juga seorang yang berani bertindak atas dasar prinsip. Dalam setiap gagasannya, ia menunjukkan bahwa idealisme kebangsaan bukanlah sesuatu yang murah, melainkan nilai yang mahal, yang hanya bisa dijaga dengan keberanian. Bagi Rama Mangun, kebajikan tidak akan pernah muncul tanpa keberanian. Maka, tidak berlebihan jika ia menyebut keberanian sebagai ibu dari segala kebajikan.
Keberanian ini pula yang ditunjukkan Rama Mangun sepanjang hidupnya. Rama Mangun adalah sosok yang berani tidak selalu sepakat dengan mereka yang kuat. Ia juga berani tetap bersuara meskipun pendapatnya tidak diikuti banyak orang. Ia tidak sekadar beropini, tetapi menjalankan apa yang ia yakini dengan penuh konsistensi. Sikap ini bukan sekadar perlawanan demi perlawanan, tetapi sebuah prinsip yang didasarkan pada pemikiran merdeka dan wawasan yang luas.
Salah satu keteladanan terbesar dari Rama Mangun adalah sikap humanismenya. Hal ini juga bisa kita temukan dari sejumlah tulisan dalam buku ini. Ia hadir untuk mereka yang lemah, memperjuangkan keadilan bagi kaum yang terpinggirkan, tetapi pada saat yang sama berani bersikap kritis terhadap mereka yang berkuasa. Keberanian ini bukan sikap impulsif, tetapi lahir dari ketajaman berpikir dan keyakinan bahwa manusia, apapun latar belakangnya, harus diperjuangkan martabatnya.

Sebagai tokoh Gereja Katolik, Rama Mangun tidak membatasi dirinya dalam sekat-sekat dogmatisme atau kepentingan politik. Ia berpikir secara merdeka, dengan cakrawala pemikiran yang melampaui batas-batas agama dan ideologi. Ia menolak untuk menjadi bagian dari narasi kekuasaan yang menindas, sekaligus menolak tunduk pada kepentingan pragmatis yang bisa membungkam kebebasan berpikir.
Indonesia sejatinya memiliki banyak tokoh bangsa yang memiliki keberanian dan keteguhan seperti Rama Mangun. Namun, ketokohan mereka semakin terkubur di tengah pragmatisme politik dan budaya instan yang lebih mengutamakan popularitas dibanding substansi. Maka, memunculkan kembali figur Rama Mangun bukan sekadar mengenang jasa seorang pemikir, tetapi juga membuka jalan bagi munculnya kembali para bapak bangsa lainnya.
Di zaman ketika kebangsaan semakin kehilangan arah, dan intelektualitas semakin terpinggirkan, kita membutuhkan sosok-sosok seperti Rama Mangun. Bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai inspirasi yang membangkitkan kembali keberanian berpikir dan bertindak bagi bangsa ini. Sebab, tanpa keberanian, bangsa ini hanya akan berjalan tanpa arah, tenggelam dalam kepentingan sesaat, dan melupakan nilai-nilai luhur yang seharusnya menjadi pijakan dalam membangun masa depan. Keteladanan Rama Mangun adalah karena ia tak berhenti bergerak, terus bekerja untuk kelompok yang terpinggirkan, dan terus hadir bersama mereka hingga akhir hayat.
Sumber:Manifesto Kebangsaan, Menyalakan Spirit Rama Mangun. Baca di https://app.komp.as/5LKgh6NtSjTYDSoj6
Seorang otodidak, masa muda dihabiskan menjadi Fasilitator Pendidikan Popular di Jawa Tengah, DIY, NTT dan Papua. Pernah menjadi Ketua Dewan Pendidikan INSIST. Pendiri Akademi Kebudayaan Yogya (AKY). Pengarah INVOLPMENT. Pendiri KiaiKanjeng dan Pengarah Sekolah Alternatif SALAM Yogyakarta.
Leave a Reply