Mbah Moedjair

Orang-orang kreatif, para inovator justru lahir pada masa-masa sulit,  jauh sebelum era informasi seperti sekarang ini—Mbah Mudjair orang biasa, orang desa dengan kemauan keras akhirnya mendapat hidayah dan hasil karyanya pada akhirnya dinikmati masyarakat luas sampai hari ini.Betapapun Ia tidak menonjolkan diri apalagi minta dihargai—namun sudah selayaknya dan sepantasnya kita hormat, dan berterimakasih kepada Mbah Moedjair. 

Pixsabay

Ikan Mujair sejenis ikan air tawar yang biasa dikonsumsi. Penyebaran alami ikan ini adalah perairan Afrika dan di Indonesia pertama kali ditemukan oleh Mbah Mudjair di muara Sungai Serang pantai selatan Blitar, Jawa Timur pada tahun 1939.

Meski masih menjadi misteri, bagaimana ikan itu bisa sampai ke muara terpencil di selatan Blitar, tak urung ikan tersebut dinamai ‘mujair’ untuk mengenang sang penemu.  Nama ilmiahnya adalah Oreochromis mossambicus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Mozambique tilapia, atau kadang-kadang secara tidak tepat disebut Java tilapia

Ikan mujair jenis ikan yang sangat populer, bahkan termasuk jenis ikan favorit bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, hampir setiap orang di negeri ini pernah memakannya. Tapi adakah yang menyadari asal-muasalnya? Siapa Penemunya? Pada dasarnya Mujair merupakan ikan hasil rekayasa manusia, karena hakikatnya ikan mujair adalah ikan air laut/air payau namun setelah direkayasa mujair dapat hidup di air tawar.

Asisten Residen ini kagum dan takjub akan usaha dan kegigihan dari usaha percobaan Moedjair. Karena itu, Asisten Residen ini memberikan penghargaan atas usaha Mbah Moedjair—yaknimenyematkan nama Moedjair pada ikan yang ditemukannya.

Iwan Dalauk (1890-1957) namanya, namun ia lebih dikenal dengan Mbah Moedjair, penemu ikan mujair. Mbah Moedjair, lahir tahun 1890 di desa Kuninngan 3 km arah timur pusat kota Blitar, ia merupakan penemu spesies ikan yang diberi nama Ikan Mujair. Anak ke 4 dari 9 bersaudara, dari pasangan Bapak Bayan Isman dan Ibu Rubiyah. Menikah dengan anak modin desa kuningan bernama Partimah. Dari pernikhan itu beliau dikaruniai 7 anak. Hampir semua anak beliau saat ini sudah meninggal., kecuali Ismoenir yang bertempat tinggal di Kanigoro Blitar dan Djaenuri yang tinggal di Kencong Jember.

Semasa hidup Moedjair berjualan sate kambing. Warung sate kambing cukup terkenal di jaman itu, di daerah Kuningan Kanigoro. Pelanggannya dari berbagai tempat. Akibat dari warungnya yang terkenal tentu saja pemasukan keuangan Pak Moedjair semakin bertumpuk. Hal itu memunculkan sifat negatip dari Moedjair muda saat itu, yaitu mulai gemar berjudi. Sisi baiknya, Moedjair mendidik anak-anaknya untuk tidak bermain judi. Judi membuat usaha warung satenya jadi porak poranda.

Di masa keterprukannya, Moedjair melakukan tirakat, setiap tanggal 1 Suro ( penanggalan Jawa ), beliau mandi dipantai Serang, Blitar selatan. Pada suatu saat, ketika melakukan ritual mandi, beliau menemukan ikan yang jumlahnya amat banyak, yang mempunyai keunikan, yatiu menyimpan anak dalam mulutnya, saat ada bahaya, dan dikeluarkan lagi saat bahaya telah lewat—setelah keadaan aman.

Karena keunikan ikan ini, Moedjair berniat mengembangkannya di rumah, didaerah Papungan – Kanigoro, Blitar. Moedjair menjaring ikan tersebut.Namun karena habitat yang berbeda, ikan tersebut mati pada saat dimasukan ke air tawar. Hal tersebut membuat Pak Moedjair penasaran meneliti dan melakukan berbagai percobaan, agar spesies ikan ini bisa hidup di air tawar.

Bolak-balik Papungan-Serang yang berjarak 35 km, berjalan kaki dengan melewati hutan belantara, naik turun bukit, betul betul akses jalan yang susah, dan memakan waktu 2 hari 2 malam. Di Pantai Serang beliau mengambil ikan tersebut dan dimasukan kedalam gentong tanah liat. Beliau mencampurkan air laut dan air tawar dalam gentong. Percobaan percampuran air laut dan air tawar di lakukan secara terus menerus, dengan memperkecil jumlah air laut dan memperbesar jumlah air tawar. Pada satu saat kedua jenis air ini ternyata bisa menyatu. Perjalanan bolak – balik Papungan – Serang, pada percobaan ke 11, berhasil hidup 4 ekor ikan spesies baru tersebut pada habitat air tawar. Keberhasilan tersebut terjadi di tanggal 25 Maret 1936.

Keberhasilan percobaan tersebut melegakan Moedjair.  4 Ikan itu dia tangkarkan di kolam sumber air Tenggong, Desa Papungan. Awalanya hanya satu kolam dan berkembang menjadi 3 kolam. Disekitar kolam Tenggong, Moedjair membangun pondok yang juga sebagai tempat tinggal untuk keluarganya. Perkembang biakan ikan spesies baru itu luar biasa cepat, maka jumlah ikan semakin banyak. Oleh Moedjair, ikan spesies baru itu diberikan secara cuma-cuma ke masyarakat sekitar Papungan. Dan dijual di sekitar Blitar dan di luar Blitar.

Penemuan ikan spesies baru ini sampai ke telinga Asisten Resident yang berada di Kediri. Asisten Residen ini juga seorang ilmuwan, ia tergoda untuk meneliti spesies hasil temuan Moedjair, berdsarkan literatur dan data-data yang ada. Dia juga melakukan riset serta wawancara dengan Moedjair, tentang asal muasal ikan ini. Asisten Residen ini kagum dan takjub akan usaha dan kegigihan dari usaha percobaan Moedjair. Karena itu, Asisten Residen ini memberikan penghargaan atas usaha Mbah Moedjair—yaknimenyematkan nama Moedjair pada ikan yang ditemukannya.

Pemeritahan Hindia Belanda melalui asisten resident Kediri yang tertarik dengan usaha Mbah Moedjair. Penghargaan dari Pemerintahan Republik Indonesia adalah dari Kementerian Pertanian tahun 1951 dan Penghargaan Internasional diterima dari Konsul Komite Perikanan Indo Pasifik tahun 1953.

Ikan Moedjair semakin dikenal masyarakt semakin banyak yang mengembang biakannya. Nama Pak Moedjairpun semakin terkenal. Dengan bantuan anak sulung beliau, Wahanan, ikan Moedjair dipasarkan ke hampir daratan seluruh Jawa Timur. Oleh pemerintah setempat, beliau diangkat sebagai Jogoboyo Desa Papungan dan mendapatkan gaji bulanan dari pemerintah daerah. Pemerintah Indonesia mengangkat beliau sebagai Mantri Perikanan. Selain itu, Pak Moedjair juga mendapatkan penghargaan Eksekutif  Committe Indonesia Fisheries Council, atas jasanya menemukan ikan Moedjair. Penghargaan tersebut diberikan di Bogor tanggal 30 Juni 1954. Sebelumnya, pada tanggal 17 Agustus 1951, Kementerian Pertanian atas nama Pemerintah Indonesia, memberikan penghargaan pada Mbah  Moedjair. ***