DIRGAHAYU SALAM

SALAM, Sanggar Anak Alam, PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) tempat anak saya bersekolah genap berusia 21 tahun pada tanggal 20 Juni 2021. Tidak ada selebrasi di sekolah, seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada tumpengan, pentas, dan kegiatan apapun selain membanjirnya foto lama dan ucapan selamat di grup Whatsapp yang berisi warga SALAM.

Butet, Angger, Agni, Pandu

Saya, tidak mengunduh semua foto yang diupload di grup. Saya enggan membuat ponsel saya yang sudah penuh dengan aneka foto dan video perihal vaksinasi hingga edukasi soal Covid-19 semakin penuh dengan virus kangen. Ya. Itu yang saya rasakan. Kangen sekolah. Padahal kan, resminya, SALAM itu sekolahnya anak saya, bukan sekolah saya.

Maka ketika ada ajakan untuk mengunggah foto ke twb.nz/salam21th, dengan bersemangat saya mencari foto selfie yang berlatar grafiti “SALAM” lengkap dengan sawah nan hijau. Senada dengan tulisan “senior” saya, Mbak Gerna pada tulisan terbarunya Salam for President, saya pun merasa bahwa sayalah yang bersekolah di Salam. Sedangkan anak-anak saya, mereka masih numpang main dengan bonus mendapat pendidikan.

Saya tak keberatan disebut lebay, ngapik-ngapiki sekolahane anake dewe. Tak apa, silakan saja. Karena, nyatanya, SALAMlah yang membantu saya meraih cita-cita saya, menjadi calon penulis. Meski, saya belum sekeren Mbak Gerna, Mbak Karunianingtyas, Mbak Ivy Sudjana, apalagi Bu Wahya dan Pak Toto. Saya jelas masih anak kemarin sore untuk urusan menjadi penulis sungguhan.

Jika Anda tertarik untuk mengetahui apa yang dilakukan SALAM untuk saya sehingga saya menjadi seperti ini lebaynya, mari terus baca tulisan ini. Tapi jika tidak tertarik, ya wis monggo klik tanda silang di pojok kanan atas.

Saat ini, nama saya sudah mejeng di beberapa media. Sungguh lumayan, mengingat saya tak punya basis akademis urusan tulis menulis dan betapa biasa ajanya karier pilihan saya sebagai ibu rumah tangga. Kok bisa? Yang beberapa kawan ketahui, mungkin karena saya berguru pada esais palugada yang tinggal di Sewon, Bantul itu. Tapi, yang orang jarang ketahui adalah saya diberi dasar cara menulis oleh SALAM.

Gratis. Hanya wajib mengerjakan tugas, dibimbing oleh Pak Bambang Wisudo. Tugas yang diberikan pun benar-benar dari dasar. Materinya hanya menulis deskripsi visual. Pengetahuan dasar banget, tapi praktis dan ternyata sangat bisa diaplikasikan dalam tulisan-tulisan yang saya buat.

Saya pun semakin bernafsu belajar menulis. Oh, ya. Artinya, SALAM berhasil menumbuhkan rasa penasaran dalam diri saya. Lewat Mbak Gerna dan Mbak Karunianingtyas, saya sering diajari, dikoreksi, dan dibantu mengembangkan diri saya. Tentu saja, gratis.

Apakah hanya saya yang merasakan mendapat manfaat seperti ini dari SALAM? Ternyata tidak. Ada banyak orang tua yang memulai petualangan dalam hidupnya justru setelah menyekolahkan anaknya di SALAM.

Sekolah yang bagi saya adalah keluarga ini, telah mempertemukan saya dengan banyak ibu yang hebat. Bagaimana mereka tabah menerima jatah hidup dan melakoni perannya dengan penuh penerimaan pernah menjadi “obat” saat saya mengalami kebencian dalam fase saya menjadi ibu muda dari dua anak kecil (waktu itu).

SALAM, mengubah banyak hal dalam diri saya. Jadi, rasanya senang sekali saat anak pertama saya memutuskan untuk terus melanjutkan pendidikannya di SALAM. Apakah saya menjadi orang tua yang kurang bertanggungjawab karena ternyata saya turut mendompleng kebahagiaan anak saya dengan bersekolah di SALAM? Oh, ya jelas tidak.

Kami bahagia bertumbuh bersama SALAM. Dan ini bukan hanya dialami keluarga kami. Tapi juga para saudara saudari kami di SALAM.

Tak mudah bercerita tentang SALAM secara adil. Seringnya, saya hanya bisa menceritakan bagian-bagian yang menyenangkan. Yang saya tahu, SALAM pun punya tantangan yang menjadi ujiannya. Namanya juga komunitas, selisih paham ya pasti ada. Sayangnya, ketika mulai penelusuran tentang “masalah-masalah” di SALAM, bersama tim buku yang seharusnya menghasilkan semacam “SALAM Undercover”, eh si Covid-19 menyerang bumi.

Harapan kami untuk SALAM, semoga dapat terus menjadi sesuatu yang indah buat kami, warga SALAM. Teruslah ada dan menjelma menjadi ruh dalam semangat keseharian kami. Terlebih di masa pandemi ini, saya merasa sangat beruntung anak saya bersekolah di SALAM. Saya tak pernah membayangkan akan terjadi pandemi dan membuat kami sungguh-sungguh mengaplikasikan belajar di mana saja dan kapan saja bersama anak-anak.

Dirgahayu SALAM. Terima kasih telah ada dan sudah menjadi bagian dari kehidupan kami. Terima kasih telah membawa saya berpetualang ke dunia menulis yang memerdekakan pikiran saya.