“MALU MENCOBA SESAT DI SALAM!”

Suatu malam, obrolan kasur mendapat tempat yang istimewa. Lain dari membaca buku, kali ini saya dan Gara, anak pertama yang sekarang menjelang SD kelas 2 di Salam, memilih untuk ngobrol-ngobrol saja.

Gara Kelas Satu Sekolah Dasar SALAM

“Bu, mau tahu ga aku lagi mikir apa?” Tanya Gara memulai obrolan.

“Apa?” Kubalas bertanya.

“Kayanya Tuhan itu coba-coba lho,” jawabnya yang pasti mengundang alis siapapun naik sebelah.

“Ha…maksude gimana, Le?” Tanyaku lagi.

“Ya..Tuhan itu coba-coba waktu nyiptain manusia. Nyoba nyiptain sedikit, eh kok bagus, berhasil, jadi nyiptain lagi yang banyak. Kan sekarang jadi banyak orangnya,” jelas Gara dengan mantapnya.

Obrolan berlanjut sampai ke mana-mana, namun ide tentang Tuhan yang “mencoba-coba” ini sangat menggelitik pemikiran saya. Bukan berarti Gara tidak pernah mendengarkan kisah penciptaan manusia berdasarkan agama atau ilmu pengetahuan lho, ini saya tangkap sebagai buah pemikiran asli anak-anak, yang biasanya semakin besar semakin kaburlah pemikiran orisinal demikian karena pengaruh macam-macam.

Pantaslah jika ada ungkapan bahwa manusia harus mau menerima dan menghadapi cobaan hidup. Tuhan mencoba-coba, manusia mengalami cobaan, dan dalam persepsinya ia sedang dicobai. Ah siapa saya berani coba-coba membicarakan Tuhan yang mencoba-coba membuat manusia untuk dicobai?

“Aku bisa, aku pasti bisa. Ku harus terus berusaha. Bila ku gagal, itu tak mengapa, setidaknya ku tlah mencoba….,” penggalan lirik lagu anak yang dipopulerkan AFI Junior.

“Cobalah mengerti, semua ini mencari arti,

selamanya takkan berhenti…,” lagu dari Peterpan.

“Kucoba-coba melempar manggis, manggis kulempar mangga kudapat…,” lagu dari…ah saya tidak tahu pastinya.

Saya mencoba mengingat-ingat hal-hal terkait “mencoba” dari lagu atau apapun. Ada lagi yang menempel di benak saya seketika. Tulisan yang tercetak di bagian bawah lembaran buku tulis sekolah waktu saya kecil dulu. Begini kira-kira bunyinya:

“You’ll never know ’till you have tried.” Kau tak akan pernah tahu sampai kau mencoba dulu.

Sama yang ini:

“People become fools when they stop asking queation.” Orang akan menjadi bodoh jika mereka berhenti bertanya.

Bukankah penggalan lirik lagu dan dua kalimat legendaris itu “SALAM banget”?

Selama 3 tahun (dan masih berlanjut) kebersamaan keluarga kami belajar di Salam, betapa besar ruang yang tersedia untuk mencoba berbagai hal, mencoba apapun, khususnya anak saya Gara. Sejak masuk TA (Taman Anak), Gara banyak mencoba, bahkan hal-hal yang dianggap orang lain sebagai bentuk kenakalan seperti memanjat, keluar dari kelas saat kegiatan bersama dan tidak mau makan snack atau makan siangnya. Gara mencoba melawan atau menjadi berbeda. Gara mulai berani bilang tidak, tidak mau, tidak bisa. Awalnya saya pikir ini sesuatu yang negatif, apalagi jika dihadapkan pada lingkungan yang tidak biasa menerima ke-to the point-an anak-anak. Tapi setelah berdiskusi dengan para fasilitator sejak TA , justru hal ini salah satu sisi positif atau perkembangan anak, dan saya jadi merasa ayem.

Gara bisa bertanya apa saja tanpa takut dicap aneh atau bodoh. Gara bisa mencoba apa saja seperti memanjat pohon talok dan jatuh kemudian. Gara bisa terus menantang dirinya untuk berani berbicara di depan teman-temannya. Di riset semester pertama, riset Gara tentang bakwan jagung. Saat waktunya presentasi, eh si bocah malah sembunyi di bawah meja. Tak mengapa. Di semester 2 ini riset Gara tentang es dawet, dia mau presentasi pertama, dan meskipun malu kikuk takut sambung-menyambung menjadi satu, itulah Gara. Setidaknya ini adalah kemajuan, tak lagi sembunyi di bawah meja. Duh Gusti…. fasilitator (fasi) di SALAM kok ya baik-baik dan sabar begini.

Saya menyekolahkan anak ke SALAM ya bukan sekadar COBA-COBA lho. Saya pakai riset dulu lah. Bermula sejak saya masih SMA, saya dolan ke SALAM, yang kalau tidak salah, dulu baru sampai kelas 2 SD jenjangnya. “Kok ada ya sekolah nyenengke kaya gini?” Pikir saya waktu itu. Lalu saya melengkapi diri dengan membaca dan mengikuti perkembangannya. Lalu mencoba tanya-tanya pada teman yang lebih dulu masuk SALAM. Lalu mencoba datang langsung dan melihat pembelajaran di sana. Lalu mencoba mendaftarkan Gara di TA. Lalu tahu-tahu mencoba menuliskan ini semua sekarang.

Ya…RUANG UNTUK MENCOBA inilah salah satu yang paling saya syukuri setelah berada di Salam. Terima kasih Salam atas kesempatan yang berbahagia ini, khususnya untuk Gara berproses dan nyaman menjadi dirinya sendiri dengan apapun yang ingin dicobanya.

Saya pun membuat sebuah video berisi foto-foto kegiatan Gara selama di kelas satu yang diisi rekaman suaranya tentang kesan pesan di Salam. Saya tidak mencoba mengeditnya saat mengatakan:

  • “Aku pernah mbohongi guruku lho. Aku ambil daun pisang, takisi pasir, trus ada cacingnya sama batu kecil. Cacing itu bakminya, batu jadi kripiknya. Trus aku bungkus, aku kasih ke bu guru,” lalu Gara tertawa ngakak saat menyebutkan keusilannya ini terjadi di TA dan kelas 1.
  • “Harapanku untuk sekolah, semoga sekolah bisa terus berdiri. Aku bisa di SALAM Temen-temenku juga di SALAM terus, jadi aku ga sendiri di SALAM.”

Video berdurasi 5 menitan ini saya kumpulkan kepada fasilitator saat mengumpulkan video dokumentasi riset dan kegiatan Gara selama belajar di “musim masker” ini. Perkara membohongi memang tidak saya edit namun off the record saya jelaskan istilah itu sebenarnya kurang tepat. Gara tidak membohongi tetapi bermain pura-pura (pretend play), dan permainan itu bagus juga untuk perkembangan anak. Gara lalu manggut-manggut.

Baru-baru ini saya menemukan artikel lama di majalah Tempo, edisi 16 Februari 1985. Isinya menceritakan sebuah buku berisi 85 surat anak-anak SD yang ditujukan kepada guru mereka. Pembuatan buku tersebut dipelopori oleh Teha Sugiyo, seorang guru SD di Bandung. Upaya guru agama Katolik ini punya maksud agar suara anak-anak bisa didengar. Mereka bukanlah objek pendidikan melainkan subjek. Namun yang masih disayangkan dari semua surat yang masuk, bahasanya berbau bahasa buku, dan tidak mencerminkan kespontanan anak-anak. Mungkin ada pengaruh dari guru atau intinya bukan pendapat murni anak-anak. Proses editing yang dilakukan hanya sebatas mengurangi jumlah alinea karena terlalu panjang. Surat-surat anak tersebut tidak dicetak dengan huruf tetapi langsung berupa tulisan tangan anak sendiri. Belakangan diakui oleh Teha Sugiyo dalam artikel tersebut bahwa tulisan yang terlalu menjatuhkan guru secara pribadi memang disingkirkan. Namun demikian, upayanya memang perlu diapresiasi. Soal kritik murid terhadap guru memang sebenarnya diperlukan, karena guru tak bebas dari kesalahan.

Menanggapi artikel pendidikan di majalah Tempo lawasan tersebut, kok saya berpikir itu tidak akan terjadi di Salam. Anak-anak sudah terbiasa spontan dan bisa menyampaikan apa saja, setidaknya itu yang saya alami. Tentu dengan tetap menekankan pada penghargaan kepada orang lain saat anak menyampaikan pendapatnya. Saya juga bertanya-tanya mungkinkah anak-anak Salam membuat surat seperti itu, entah berisi kesan pesan, ucapan terima kasih, kritik saran bahkan hanya berisi gambar untuk merayakan Hari Ulang Tahun Salam ke-21 yang istimewa ini, lalu diterbitkan menjadi sebuah buku? Hmm saya hanya mencoba berandai-andai.

Mungkin ada yang ingin mencoba?

Akhir kata, saya ucapkan Selamat Ulang Tahun ke-21 untuk Sanggar Anak Alam tercinta, mari berbahagia dan terus kita hidupi nilai-nilai luhur yang ingin dibangun bersama komunitas atau keluarga besar Salam. Semoga kita tak lelah mencoba, sebab ada tertulis:

“MALU MENCOBA SESAT DI SALAM!”