SALAM FOR PRESIDENT

Sudah satu tahun sejak ulang tahun Sanggar Anak Alam (SALAM) ke-duapuluh berlalu. Tahun lalu seharusnya seluruh warga komunitas SALAM berkumpul dalam hajatan yang mengasyikkan. Namun karena virus, hari ini, satu tahun kemudian, untuk berkumpul barang satu kelas saja masih sulit diwujudkan.

SALAM pada usia 21 tahun

Padahal, semenjak  bergabung dalam komunitas ini sekira enam tahun lalu, saya niteni bahwa segala momentum bisa menjadi alasan bagi seluruh warga SALAM untuk berkumpul dan membuat keriuhan. Mulai dari yang rutin seperti Pasar Senin Legi, lalu yang sifatnya tentatif seperti Pasar Ekspresi, yang bersifat cinta bangsa dan negara seperti Upacara dan Lomba-lomba tujuhbelasan, hingga yang bersifat nguri-uri tradisi seperti Pesta Panen Wiwitan.

Yang saya sukai dari segala keriuhan itu adalah saya dapat bertemu banyak orang, mengamati banyak peristiwa, sesekali ikut menyemarakkan dengan joged bersama ibu-ibu fakir malu, kemudian ditodong menulis oleh Pak toto. Jadi sejak menyekolahkan anak saya di SALAM, bukan hanya anak saya yang tambah pinter. Saya, yang sebelumnya hanyalah penulis blog anget-angetan, mendapat ruang belajar yang cukup privat. Belajar Menulis bersama Pak Toto. Jumlah SKS-nya tak terhingga.

Saya ingat betul, saat pertama kali diminta menulis oleh Pak Toto, saya menjawab,”Pak, saya itu kalau nulis cuma lucu-lucuan saja. Nggak bisa nulis serius.”

Saya juga masih ingat betul jawaban beliau. ”Lucu itu kan cuma gaya. Yang terpenting cara pandangnya harus bener.” Setelah itu saya kerap disodori Pak Toto bacaan untuk mengasah cara pandang, lalu ditanya,”Pie, Mbak? Entuk opo?”

Tak jarang pula saya diajak diskusi panjang lebar, atau diminta nyopiri ke suatu ajang diskusi, lalu dua langkah setelah pamit, Pak Toto berujar, “Mbak, mbak, yang tadi ditulis yo!” Padahal saya tidak mencatat apa-apa. Ketika akhirnya saya menjawab todongan itu dengan menulis selembar dua lembar halaman, saya sesungguh-sungguhnya belajar. Paling tidak tentang bagaimana menstrukturkan obrolan ngalor ngidul yang sudah berlalu dan tak tercatat, menjadi tulisan yang layak dibaca.

Pelajaran berikutnya adalah ketika bergabung menjadi fasilitator SMA SALAM. Jika kawan yang awam dengan SALAM bertanya, “Kamu ngajar apa, Ge?” jawaban saya singkat. Saya tidak mengajar karena saya sedang belajar. Dalam 3,5 tahun, saya belajar banyak sekali terutama tentang dunia remaja. Yang paling saya sukai di ‘pelajaran’ ini bahwa saya bisa berjumpa dengan banyak sekali peristiwa untuk ditulis. Tidak perlu lagi menunggu kapan ada Pasar Ekspresi, kapan ada Pesta Panen. Di SMA SALAM, peristiwa belajar muncul hampir setiap hari.

Begitulah sekolah saya di SALAM. Jadi saat anak saya sibuk bermain air di kalen dan bermain bola di lapangan, ibunya juga sekolah.

Lalu siapa teman sekolah saya? Buanyak sekali! Di SALAM, saya tak hanya hang out dengan ibu-ibu yang anaknya sebaya. Karena SALAM bukanlah sanggar biasa. Yang membuat SALAM berbeda dengan sekolah atau sanggar lain adalah kekuatan komunitasnya. Jadi teman sekolah saya adalah ibu-ibu dan bapak-bapak yang anak-anaknya bahkan tidak sempat bermain dalam satu lapangan yang sama dengan anak saya karena keburu lulus saat anak saya masuk SD.

Bersama banyak orang ini, saya menjalin banyak relasi. Baik yang bersifat ekonomi, seni, kesehatan, hingga sosial budaya. Sudah macam universitas saja, to, jurusannya. Relasi-relasi tersebut terjalin di sela-sela kami berkumpul dengan berbagai dalih semacam latihan yoga, lotisan, kemping, galang dana, hingga terapi kesehatan dengan berbagai metode. Mulai dari metode keplek-keplek, metode tetes, hingga metode dengung. Kapan-kapan saya tulis lebih lengkap tentang berbagai terapi kesehatan ini.

“Dengan relasi sebanyak itu, orang-orang SALAM pasti kompak ya, karena semua sepemikiran?” Begitu pikir kawan-kawan komunitas pendidikan yang mengamati betapa guyub rukunnya komunitas SALAM. tentu tidak, Vincenso! Komunitas, seperti layaknya hidup bertetangga tingkat RT, ada pula pahit manisnya. Namun lagi-lagi, karena SALAM adalah sekolah komunitas, masalah yang muncul muskil diselesaikan dengan semata-mata membuat regulasi sekolah.

Dari SALAM saya belajar bagaimana melihat konflik bukan sebagai benturan namun sebagai peristiwa belajar. Bagaimana membawa rasan-rasan ke aras dialog yang dimediasi untuk mencapai kemufakatan. Bahkan kini, dalam kondisi pandemi, SALAM telah membekali saya dan banyak orang tua dengan metode belajar di rumah yang menyenangkan, selama tidak lupa untuk terus mengolah peristiwa menjadi peristiwa belajar.

Banyak sekali, to, pelajarannya? Maka walaupun sedang galau mengamati angka covid yang terus melonjak, saya tetap membuka laptop untuk menulis barang selembar dua lembar karena siang tadi ada pesan masuk dari Pak Toto yang berbunyi, “Nulis HUT SALAM, Mbak.”

Selamat ulang tahun ke-duapuluh satu, SALAM. Semoga sanggar belajar ini tetap langgeng hingga generasi anak cucu kami. Satu-satunya hal yang menyebalkan saat ini adalah kami tak dapat berkumpul di lapangan untuk bersuka ria merayakan usia ini. Tapi paling tidak kita boleh bergembira, karena di usia 21 seseorang bisa mencalonkan diri jadi presiden.