PERIHAL ALAT DAN ARENA PEMBEBASAN

Pendidikan seharusnya menjadi suatu alat, sekaligus arena pembebasan. Lantas, bagaimana bentuk pendidikan yang seharusnya itu?                                                                                    Jumat, 26 November 2020 lalu, Pak Toto Rahardjo diundang untuk menghadiri sebuah diskusi dalam kelas Pedagogi Kritis di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Moderator dan beberapa penanya mengajukan banyak pertanyaan, yang pada dasarnya mengarah pada bentuk pendidikan (yang membebaskan) seperti apa yang sebetulnya telah dibangun oleh Toto Rahardjo di SALAM dan mengapa? Berikut kurang lebih jawaban Pak Toto :

Berbicara perihal pendidikan yang membebaskan, Paulo Freire menegaskan bahwa hal yang paling utama dari sebuah pendidikan yang membebaskan adalah pengalaman masing-masing individu. Sejalan dengan hal tersebut, pengalaman tidak menyenangkan di sekolah komersil (yang saat ini kita jumpai di mana-mana) menjadi titik pijak dalam membangun sebuah komunitas yang saat ini dikenal dengan nama SALAM. Pendidikan yang membebaskan (misalnya, SALAM) ini harus dipandang sebagai sebuah urgensi, mengapa? Ada tiga kesadaran yang dirumuskan oleh Freire, yakni, kesadaran magis, naif dan kritis. Sementara, faktor yang membentuk kesadaran itu beragam, bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga banyak dipengaruhi oleh pengalaman masing-masing individu dan oleh sistem dan struktur yang berlaku. Sistem dan struktur yang menguntungkan tentu akan direproduksi terus-menerus dan akhirnya menciptakan sebuah kesadaran, bahwa tidak perlu adanya sebuah perubahan. Problemnya menjadi, sistem dan struktur ini menguntungkan siapa? Misalnya, institusi pendidikan kita, siapa yang diuntungkan melalui sistem dan struktur pendidikan yang berlaku? Segelintir orang atau semua orang? Kalau hanya segelintir orang, maka kita sudah melanggengkan sistem dan struktur penindas (yang tidak adil bagi semua orang). Sistem dan struktur seperti ini tidak menginginkan setiap individu menjadi kritis, lebih baik menjadi “konsumen” saja.

Untuk itu, SALAM tidak hendak mereproduksi sistem dan struktur a la penindas tadi, melainkan memproduksi sebuah ekosistem belajar yang membebaskan setiap individu di dalamnya. Hal ini tentu dilatar-belakangi oleh sebuah peristiwa atau fenomena, yakni, neo-liberalisme. Neo-liberalisme masuk ke Indonesia dalam bentuk globalisasi dan saat ini, tampaknya visi pendidikan kita menganut paham neo-liberalisme dalam bentuk globalisasi tersebut.

Globalisasi mempunyai tiga cara kerja. Pertama, globalisasi mempengaruhi produk-produk regulasi yang disusun oleh pemerintah agar pro-pasar (neo-liberalisme). Misalnya, perubahan besar-besaran pada masa pasca-reformasi yang dilakukan oleh MPR (pimpinan Amien Rais) yang memberi ruang besar bagi kekuasaan pasar bebas (contohnya : UUD 1945 pasal 33). Maka, segala sesuatunya diliberalisasi dan diprivatisasikan, sehingga membentuk pasar bebas. Kedua, globalisasi juga mempengaruhi cara berpikir, bahkan selera. Cara berpikir a la globalisasi pada intinya adalah manusia di dunia ini lebih baik jadi konsumen saja. Bahkan, selera juga mengikuti selera global, mulai dari gaya hidup dan identitas yang berkaca pada budaya global. Maka, patut dipertanyakan, jangan-jangan pendidikan dan agama kita memiliki andil di dalam pembentukan cara berpikir dan selera yang semacam itu? Ketiga, sebetulnya telah terjadi perebutan antara modal, negara dan komunitas. Problem pun muncul, bahwa diam-diam negara (yang diwakilkan oleh para pemerintah) dan masyarakat telah menganut sudut pandang yang diinginkan oleh globalisasi.

Situasi di tengah arus neo-liberalisme ini tentu lebih berat, dibandingkan dengan jaman kolonialisme dulu. Saat ini, sulit sekali memetakan dan mendeteksi para penjajahnya, sedangkan jaman dahulu sudah jelas siapa yang menjajah kita. Maka, dengan kesadaran akan situasi yang semacam ini, SALAM tidak hendak menganut visi-visi neo-liberalisme tersebut (seperti yang dianut oleh negara saat ini). SALAM membangun visinya sendiri, di tengah situasi atau ekosistem semacam ini.

SALAM membentuk sebuah kerangka input dan output yang baru. Umumnya (dalam sistem dan struktur pendidikan kita), input-nya adalah mahasiswa dan output-nya adalah kelulusan (misalnya, narasi dalam jurusan Psikologi akan melahirkan sarjana Psikologi yang profesional). Sedangkan, di SALAM, input-nya terdiri dari peserta didik, wali didik, penyelenggara pendidikan dan masyarakat yang terlibat. Di antara input dan output yang dibentuk secara mandiri oleh SALAM, ada yang disebut sebagai Environmental Input, yakni hal-hal di luar kendali SALAM, misalnya, kebijakan-kebijakan dan regulasi yang belum tentu sejalan dengan visi SALAM dan juga nilai-nilai masyarakat. Karena hal-hal tersebut tidak dapat diatur agar sejalan dengan visi SALAM, maka, hanya bisa menentukan posisi seperti apa yang akan diambil untuk menyikapinya. Selain Environmental Input, terdapat juga Instrumental Input yang harus dibentuk sendiri oleh SALAM, mengapa? Instrumental Input mencakup metodologi, kurikulum, SOP, tenaga pengajar dan siapapun yang terlibat dan menjadi bagian dari SALAM. Untuk itu, apabila SALAM menggunakan kurikulum dari luar, maka, patut dipertanyakan siapa yang menyusun kurikulum tersebut? Sangat dimungkinkan bahwa visinya bertentangan dengan visi SALAM.

Selanjutnya, kalau berbicara mengenai sebuah pedagogi kritis, maka sebelumnya patut dipertanyakan, mengapa pendidikan menjadi tidak kritis? Inilah realita bahwa pengetahuan juga dapat dikuasai. Kalau sudah ada kekuasaan, maka akan ada pihak yang dikuasai (ditindas) dan pendidikan di sini menjadi salah satu alat penindasan. Kata kunci dari pedagogi kritis adalah selalu berangkat dari ketidakadilan. Dari pemahaman inilah terbentuk jargon SALAM, “Membangun Jalan Sambil Berjalan”. Kemudian, lahirlah prinsip-prinsip di SALAM, yakni, suasana menyenangkan, tidak ada keseragaman, tidak menggunakan pendekatan hafalan, belajar berpikir, merancang pengamatan (riset) dan menghadirkan peristiwa. Mengapa harus menggunakan prinsip “suasana menyenangkan”? Karena realita sudah begitu lama berbicara kepada kita, bahwa mengapa begitu banyak anak membenci sekolah? Karena suasana sekolahnya tidak menyenangkan. Kalaupun mereka senang, barangkali karena bertemu dengan teman-teman.

SALAM memiliki keyakinan bahwa setiap manusia itu adalah individu yang unik dan khas, untuk itu memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda-beda. Untuk itu, SALAM sepakat untuk menghapus seluruh mata pelajaran, sebab SALAM menemukan, mata pelajaran selama ini menjadi alat penyeragaman. Maka, mulai muncul pertanyaan tentang apa yang sebetulnya dipelajari di SALAM, kalau mata pelajaran dihapuskan? SALAM menemukan bahwa sebenarnya, hal paling utama dalam pendidikan dasar adalah bagaimana membangun struktur berpikir dan memahami sebab-akibat dalam kehidupan. Untuk itu, SALAM menggunakan riset sebagai jalan untuk menelusuri hal-hal mendasar tadi. Sejak kelas 1 SD, siswa SALAM sudah diperkenalkan dengan apa yang disebut sebagai riset. Idiom yang digunakan oleh SALAM adalah, “Mendengar saya lupa, melihat saya ingat, mengalami saya paham.”. Lantas, bagaimana cara supaya mereka mengalami? Tentu dengan menghadirkan peristiwa. Maka, riset digunakan sebagai sebuah metode untuk menghadirkan peristiwa. Riset dimulai dari sejak dari rumah, sehingga, pusat pengetahuan itu berada di sekitar kita. Ki Hadjar Dewantara mengungkapkan bahwa, “Semua orang adalah guru, semua orang adalah murid”. Kalau begitu, semua orang dapat menjadi subyek pengetahuan. Kalau ungkapan ini benar-benar dipraktikkan, seharusnya, pendidikan kita tidak terguncang dengan adanya pandemi ini. Pendidikan kita terguncang, oleh karena desain pembelajarannya tidak membuat anak mandiri. Sejak awal, SALAM mencoba agar setiap bagian dari SALAM itu melek terhadap banyak hal. Melek di sini diartikan sebagai paham, tahu dan mau melakukan. Tahu dipahami sebagai kemampuan untuk mengenali, mengurai, menilai, dan memutuskan. SALAM menekankan pada dua hal, yakni, bagaimana memahami kenyataan dan kehendak untuk melakukan.

Sedikit catatan mengenai SALAM, bahwa SALAM memang berusaha untuk mengadopsi pemikiran Freire. Namun, SALAM sendiri tidak bisa dikatakan sebagai pendidikan berbasis a la Freire, sebab SALAM turut mengupayakan adanya inovasi-inovasi tertentu. Kalau begitu, boleh juga dikatakan kalau SALAM sudah sedikit lebih maju dari Freire.

Problem selanjutnya adalah nasib pendidikan kita saat ini, dalam konteks Negara Indonesia. Apakah yang telah sejauh ini dibahas mengenai pendidikan yang membebaskan ini dimungkinkan penerapannya dalam konteks luas, seperti Negara Indonesia ini? Barangkali, pendidikan kita saat ini sudah berbentuk benang kusut yang tidak mampu diurai lagi. Maka, jalan satu-satunya adalah dengan membakarnya. Hal tersebut perlu dipahami seperti ini, bahwa masalah pendidikan kita sudah terlalu rumit dan satu-satunya cara untuk menciptakan sebuah pendidikan yang membebaskan (kalau memang itu cita-cita kita) adalah dengan membuang seluruh sistem dan gaya pendidikan kita saat ini dan membangun sesuatu yang baru (dan lebih baik membangun sendiri, sebab sulit sekali mengharapkan ini terjadi diakibatkan oleh negara (pemerintah) kita sendiri), meskipun dalam lingkup yang kecil. Mengapa harus membangunnya sendiri? Sebab, visi pembebasan seperti ini tentu sudah sangat bertentangan dengan visi, sistem dan struktur pendidikan kita saat ini yang pro-globalisasi. Kendala lain yang dihadapi untuk membongkar sistem dan struktur semacam ini adalah realita bahwa ada begitu banyak orang dan pihak yang sudah menggantungkan hidupnya pada sistem dan struktur semacam ini. Untuk itu, membongkar struktur dan sistem semacam ini sama dengan berkomitmen untuk “hidup susah”. Kalau dipaksakan untuk menerapkan pendidikan yang membebaskan dengan struktur dan sistem seperti ini, maka tidak akan tepat nantinya. Masalahnya, input dan output-nya saja sudah tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh pendidikan yang membebaskan itu. Misalnya, kalau sekarang sedang tren perihal “Belajar Merdeka” atau “Kampus Merdeka”, kemungkinan besar itu hanya jargon saja. Patut dipertanyakan, apakah konsep atau jargon seperti itu benar-benar dalam visi untuk melawan arus globalisasi?

Perihal jargon, ini tentu bukan yang pertama atau bahkan kedua kalinya. Misalnya, Anies Baswedan yang menyampaikan wacana penghapusan UN sebagai indikator kelulusan siswa. Atau, Nadiem Makarim yang mengatakan bahwa sebuah gelar tidak menjamin kompetensi seseorang. Namun, realita tidak berkata demikian, gelar masih menjadi sebuah hal yang keramat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Masalah lain juga akan muncul ketika kita berhadapan dengan rezim administrasi prosedural. Kita mengklaim bahwa negara kita sudah bergerak menuju kehidupan atau era revolusi industri 4.0 yang serba digital ini. Tetapi pada kenyataannya, kita masih harus menandatangani dokumen 15 halaman hanya untuk kepentingan administrasi. Lantas, hendak dibawa ke mana arah pendidikan kita di era digital ini? Saat ini, kita sudah kebanjiran informasi dari begitu banyak sumber, tetapi pendidikan kita masih melanggengkan cara belajar yang tertutup, dalam artian cara belajar kita masih menggantungkan diri kepada keahlian-keahlian tertentu. Padahal, keahlian-keahlian itu sudah ada di mana-mana. Dapat diprediksi bahwa dalam beberapa waktu ke depan, sekolah tidak lagi memiliki daya tarik sehebat itu lagi. Saat ini saja, angka drop-out siswa SMA dan mahasiswa di Amerika meningkat pesat, karena di sana, orang yang bergelar doktor saja, pekerjaannya menjual pizza. Maka, bukan suatu hal yang mustahil, bila suatu saat Indonesia pun akan mengalami masa yang demikian.

Salah satu hasil dari sistem dan struktur pendidikan kita pada saat ini yang pro-globalisasi ini adalah jiwa kompetitif siswa, guru, bahkan sekolah. Kita tidak bisa menyalahkan orang tua atau anak-anak yang masuk sekolah hanya untuk mengejar nilai saja. Karena, pendidikan kita memang merancang timbulnya hal-hal semacam itu. Misalnya, adanya ranking, promosi sekolah menggunakan beragam piala, dan lain-lain. Sejak dini, kita sudah dirancang untuk menjadi individu yang saling bersaing satu sama lain. Untuk itu, tidak patut bila mereka yang merancang sistem semacam ini mengharapkan kita mampu bekerja sama di masa depan. SALAM sendiri tidak mengenal hal-hal kompetisi semacam itu. Bahkan, SALAM sepakat untuk tidak mengikutkan anggotanya ke dalam macam-macam kompetisi yang ada di luar sana, apalagi untuk sekadar “jualan piala”.

Dari sistem semacam ini juga, lahirlah pemahaman sempit mengenai arti dari kegiatan “belajar”. Makna belajar dikerdilkan menjadi kegiatan menghafal buku mata pelajaran tertentu. Untuk itu, makna seperti ini tidak dapat diterapkan di semua tempat. Misalnya di Wamena, Papua, di mana anak dianggap sebagai aset untuk menjaga ternak babinya. Dengan makna belajar yang dikerdilkan ini, maka, kegiatan menjadi ternak babi bukanlah sebuah kegiatan belajar. Pada akhirnya, timbul pandangan bahwa telah terjadi kesenjangan pendidikan di Pulau Jawa dan Papua. Akhirnya, orang-orang Papua harus menyesuaikan diri dengan pola belajar orang Jakarta (bukan lagi orang di Pulau Jawa). Hal ini, diakibatkan oleh kriteria pendidikan bermutu kita dikelola atau dibuatkan oleh PISA (yang dibuat oleh para pedagang, bukan orang-orang pendidikan). Di SALAM, anak-anak didorong untuk menemukan passion mereka sendiri, sehingga, setelah lulus, mereka tidak lagi bingung hendak melakukan apa. Seperti inilah yang akan terjadi, kalau kegiatan beternak babi dipandang juga sebagai kegiatan belajar, sehingga mereka diajak untuk menekuninya.

Di SALAM sendiri sebetulnya juga menghadapi masalah yang seringkali dijumpai juga di luar sana. Misalnya, orang tua siswa yang terkadang tidak sabar dengan perkembangan anaknya di SALAM, untuk itu buru-buru ingin memberi kursus kepada si anak. Menghadapi masalah seperti ini, maka, kita sebagai pendidik patut mempertanyakan kembali kepercayaan orangtua akan proses belajar yang berlangsung di SALAM. Dengan demikian, setiap orang akan menjadi seorang peneliti sejati. Peneliti sejati berarti selalu bertanya setiap hari. Hal ini belum tentu menyenangkan, sebab kalau ingin hal-hal yang menyenangkan dan membuat tenang hati, lebih baik tidak bertanya. Peneliti sejati bukan peneliti yang ingat hanya pas dapat proyek saja. Tetapi, sejak bangun tidur, peneliti sejati sudah bertanya terus menerus mengenai sesuatu. SALAM juga berusaha menerapkan apa yang disebut oleh Ki Hadjar Dewantara sebagai tri-sentra, yakni, keluarga (sebagai pendidik pertama dan utama), masyarakat dan sekolah. Bahkan, sedari awal SALAM sudah mendeklarasikan dirinya sebagai sekolah keluarga. Dan dengan demikian, SALAM juga memiliki cita-cita, bahwa suatu saat, SALAM hanya menjadi tuan rumah bagi orang-orang yang secara mandiri menyelenggarakan proses pembelajarannya sendiri. Untuk itu, ketika pandemi ini datang, SALAM tidak kaget dan proses pembelajaran tetap berlangsung dengan baik. Mengapa begitu banyak sekolah, proses pembelajarannya terguncang dengan hadirnya pandemi ini? Sekali lagi, karena desain pembelajarannya tidak mandiri.

Sesuai dengan prediksi yang telah disebutkan ebelumnya, bahwa di masa depan (barangkali tidak terlalu lama lagi), pendidikan komersil (sekolah-sekolah kita saat ini), akan ditinggalkan oleh masyarakat, karena masyarakat dapat menyelenggarakan proses pembelajarannya sendiri. Sebenarnya, fenomena seperti ini sudah dimulai, meskipun dimulai dari sisi lain, yakni agama. Gereja di Eropa sudah mulai ditinggalkan anak muda, karena dianggap tidak mampu menjawab persoalan-persoalan kehidupan masa kini. Sekolah atau pendidikan (tidak lama lagi) barangkali akan menghadapi fenomena yang sama. Saat ini, sekolah masih ramai peminat akibat masih banyak orang yang percaya dengan takhayul-takhayul sekolah (ranking, ijazah, dan lain-lain).

Dalam hal ini, kekuatan SALAM berada pada kehidupan komunitas yang dibangunnya sedari awal. Dan memang proses pembelajarannya sudah dirancang secara mandiri, sejak semula. Untuk itu, kedatangan fenomena seperti ini, barangkali tidak mengguncang demikian hebat, bagi SALAM. Banyak orang yang salah pemahamannya tentang SALAM, bahwa banyak orang datang untuk mengenal metode apa yang digunakan SALAM dalam melangsungkan pembelajaran, namun jarang orang datang untuk memahami komunitasnya. SALAM sebetulnya tidak menggunakan metode apapun, SALAM hanya membangun sebuah komunitas yang terbuka (welcome) dan menerima keberadaan tiap-tiap bagian dari SALAM. Apa yang ditekankan SALAM di sini adalah bagaimana kita membangun ekosistem belajar yang baik. Sehingga, kalau dapat diperhatikan, di lingkungan SALAM, tidak didapati hal-hal semacam perundungan, senioritas, bahkan penghinaan. SALAM pun terbuka dengan kehadiran anak-anak berkebutuhan khusus, dan juga tidak ada metode khusus bagi mereka.

Kalau kita kembali melihat apa yang sedang menjadi tren saat ini, sebetulnya teknik-teknik belajar dan pola asuh (parenting) itu sudah menjadi komoditi bagi institusi pendidikan. Padahal, patut diakui bahwa kecenderungan setiap orang berbeda, untuk itu, teknik-teknik belajar dan pola asuh seperti ini sebaiknya tidak dijadikan komoditi. Sebab, ada kemungkinan nantinya, ilmu psikologi semacam itu akan menjadi alat untuk memberi orang label-label tertentu.

Pada akhirnya, patut disadari bahwa mengendus pendidikan yang menindas itu bukanlah suatu perkara yang mudah. Tetapi, akan lebih mudah kalau kita mencoba mengidentifikasi ketidakadilan terlebih dahulu. Saat ini, masyarakat sudah mampu mengendus ketidakadilan, selain daripada ketidakadilan sosial. Misalnya, ketidakadilan dalam ranah gender, usia, dan sebagainya. Untuk itu, solusinya, kalau kita tidak mampu merebut “kekuasaan”, maka kita menciptakan sesuatu yang baru (sendiri). Solusinya memang hanya itu, kita membangun sendiri apa yang baru, meskipun dalam skala-skala kecil, tetapi bisa dilakukan oleh banyak orang di banyak tempat. Misalnya SALAM yang tidak berfokus hanya pada urusan proses belajar-mengajar, tetapi berfokus pada proses membangun hidup bersama. Untuk itu, kita tidak sibuk dengan jargon-jargon yang hanya menggeser istilah saja. Kita betul-betul menciptakan perubahan.