Cilok yang dibuat Rania saat dia kelas 3 banyak diminati oleh teman-teman di SALAM. Salah satu fasilitator merasa cilok tersebut memiliki kekenyalan yang pas. Saya sempat meminta Rania untuk mengajarkan cara membuat cilok agar dapat dijual dan dinikmati lebih sering oleh teman-teman. Namun, Rania bercerita bahwa dia sempat terlalu lelah untuk membuat cilok karena ketika di acara presentasi kelas 3 waktu itu, dia harus bangun jam 5 pagi untuk membuat bulatan cilok. Ketika kita mencoba membuat cilok bersama, Rania mendapatkan sebuah ide untuk meringankan bebannya untuk membulatkan cilok. Bukannya membulatkan, namun Rania memotong-motong adonan cilok yang digulung sehingga bentuknya agak kotak seperti marshmallow. Kami pun menamainya cillow, atau ‘cilok marshmallow’. Setelah kita menjualnya, kami tidak menemukan komplainan tentang bentuknya. Yang muncul adalah tentang rasa yang kurang asin dan ukurannya yang terkadang terlalu kecil sehingga yang membeli merasa rugi.

Merespon bahasan bahwa ada yang merasa besar-kecilnya itu tidak stabil, di kesempatan berikutnya, kita mencoba menimbang setiap cillow yang Rania sudah potong. Berat yang menurut kita wajar adalah 6 gram untuk setiap butir cillow. Namun, jika kita menimbang 6 gram satu per satu, tentu akan memakan waktu. Akhirnya, kami menemukan sebuah cara untuk mempercepatnya. Kami membuat adonan dalam bentuk sosis terlebih dahulu. Agar dapat mudah dipotong setengah-setengah, kita mencari angka yang bagus agar bisa dibelah dua terus-menerus. Agar satu sosis bisa dibagi 8, berarti kita perlu membuat sosis berukuran 8 x 6 gram, yaitu 48 gram. Matematika adalah ilmu untuk memprediksi, namun kita perlu mengecek realitanya. Saya dengan pede mengatakan ke Rania, setelah nanti dipotong-potong, pasti bobotnya adalah 6 gram. Ketika kita coba, ternyata hitungan kita benar. Kami pun menyepakati cara tersebut. Saya bertugas untuk mengambil adonan dan menimbangnya hingga 48 gram terlebih dahulu dan menggulungnya, lalu Rania yang bertugas untuk memotong dan mengecek apakah cillow yang dibuat benar beratnya 6 gram.
Setelah itu, kita juga sudah bersepakat bahwa setengah dari resep yang kita buat akan disisihkan untuk camilan di rumah Rania sendiri. Alhasil, kita perlu menghitung berapa yang perlu disisihkan. Sebenarnya, bisa saja jika kita menggunakan ilmu kira-kira dan menyisihkan secukupnya. Namun, karena saya melihat bahwa peristiwa ini berpotensi untuk menjadi momen Rania menghitung secara natural, bukan dengan drilling atau mata pelajaran yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, saya mengajaknya untuk menghitung dengan terperinci. Apa tujuannya kita menghitung? Ujungnya adalah agar kita membaginya dengan adil. Bukankah itu salah satu tujuan kita hitung-menghitung dari zaman dahulu kala? Agar hubungan berdagang yang kita lakukan menguntungkan satu sama lain, bukannya hanya menguntungkan satu pihak saja?
Karena kita membuat 2 resep, sementara Rania akan mengambil hanya ½ resep, maka Rania menimbang seluruh cillow yang sudah kita buat, lalu dia membagi dua sebanyak dua kali. Rania pergi ke dinding tembok rumahnya yang dimanfaatkan seperti papan tulis dan mulai menghitungnya sambil menulis. Rania senang untuk membagi sebuah bilangan dengan 2, sebuah tantangan yang membuatnya bisa mengasah kemampuan ‘quick math’-nya. Total bobot adonan yang dihasilkan waktu itu adalah 1496 gram, sehingga jika dibagi 2 sebanyak dua kali, hasilnya adalah 374 gram. Setelah mendapatkan angka itu, dia langsung meminta Abi untuk mengambil 374 gram cillow dan memisahkannya untuk dinikmati sendiri.
Selanjutnya, kita menghitung keuntungan yang akan dibagi. Kita kembali meminjam kekuatan matematika untuk menghitung berapa banyak keuntungan yang akan kita dapatkan bila semua terjual. Cillow yang akan dijual adalah 1496 gram dikurang 374 gram sehingga menghasilkan 1122 gram. Karena satu butir cillow kira-kira 6 gram, maka jumlah butir cillow yang akan kita dapatkan adalah 1122 dibagi 6, yaitu 187 butir. Karena satunya akan dijual dengan harga Rp 500, jumlah uang yang akan kita dapatkan dari penjualan itu adalah Rp 500 dikalikan dengan 187 butir, yaitu Rp 93.500. Kita lalu mengurangkannya dengan modal yang dikeluarkan, yaitu Rp 30.000, sehingga akan mendapatkan kemungkinan keuntungan sebesar Rp 63.500. Uang inilah yang akhirnya dibagi 2 dan Rania menghitungnya hingga kita mendapat angka Rp 31.750 yang dibulatkan menjadi Rp 32.000. Itulah uang yang kemudian Rania dapatkan dari 2 jam kita membuat cillow. Good deal.
Memang beruntungnya, Rania punya ketertarikan di hitung-hitungan dan sudah sering berlatih bersama Ummi-nya. Rania juga sudah sangat peka dengan uang, sehingga mungkin dia punya dorongan internal untuk mau menghitung. Rania bercerita bahwa ia mau membeli Kalimba baru, sehingga ia mau menabung dan menghitung seberapa lama dia perlu menunggu untuk mendapatkan cukup uang untuk membeli kalimba baru. Oleh karena itu, dia menghitung berapa banyak uang yang akan didapatkan. Hitungan juga perlu agar adil pembagiannya, semoga di kemudian hari ia akan dapat melakukan negosiasi yang menguntungkan kedua belah pihak saat berdagang, bukan hanya mendapat nilai bagus di ujian sekolah.
Relawan SALAM
Leave a Reply