MEMBACA TAMU

Setelah sekian tahun bergabung menjadi orangtua murid, dan hampir dua tahun menjadi fasilitator di Sanggar Anak Alam (SALAM) di Nitiprayan, satu yang perlu saya ceritakan tentang SALAM adalah tentang tamu-tamunya. Tidak dapat dipungkiri, cara belajar SALAM yang berbeda dengan sekolah formal memang akhir-akhir ini kerap menjadi sorotan media. Hal ini membuat intensitas tamu yang berkunjung ke SALAM makin tinggi.

Beginilah anak SALAM belajar

Dalam satu bulan terakhir saja, dalam jurnal saya, tercatat sudah ada 5 tamu/ rombongan tamu yang observasi/ meliput di kelas 10 SMA SALAM. Itu belum termasuk rombongan-rombongan lain yang hanya mengunjungi kelas-kelas PAUD, atau yang diterima diluar jam belajar. Jadi setidaknya, dalam satu minggu, kami harus meluangkan satu hari untuk menjadi objek observasi.  Saat-saat seperti ini, kadang-kadang saya merasa seperti sedang bekerja sebagai pawang kebun binatang. Bagaimana tidak, tamu-tamu itu, saat sedang mengobservasi, kadang-kadang mengamati dalam posisi berdiri melingkar di belakang kami dalam jarak tertentu sambil berbisik-bisik.

Sebagai fasilitator kelas, biasanya saya akan menyapa singkat untuk menanyakan maksud dan tujuan mereka ‘mengamati’ kelas kami. Jika mood saya sedang baik, kadang terlontar juga jawaban asyik seperti, “Maaf, Mas, Mbak, ini kami sedang ada kelas. Apakah sudah ada janji sebelumnya dengan PKBM untuk mengobservasi kelas kami?” Namun jika mood saya sedang buruk, saya tambahkan sepenggal kalimat, “Ini bukan bonbin.”

Namun sejak beberapa waktu terakhir, pihak PKBM SALAM telah menetapkan regulasi bahwa observasi harus terjadi seijin anak-anak dan fasilitator di kelas yang akan diobservasi. Itu cukup melegakan. Artinya tidak akan ada lagi tamu yang tiba-tiba datang, foto-foto, lalu berdiri melingkar sembari menguping diskusi kelas. Bagusnya, kami bisa lebih siap dan bahkan meluangkan beberapa bangku agar tamu-tamu tersebut dapat turut duduk sembari berdiskusi bersama.

Sering tamu-tamu ingin lihat bagaimana SALAM mengajar, padahal tak ada

Seperti yang terjadi 29 Januari 2019 yang lalu saat Mas Yudhis, ketua PKBM, meminta ijin agar kelas 10 dapat dijadikan ruang pengamatan bagi tamu-tamu dari UKDW dan Goshen College. Saat itu, rombongan yang bergabung di kelas kami berjumlah 4 orang. 1 orang pemandu dari UKDW dan 3 orang mahasiswi dari Goshen College. Sebelum tanya jawab dimulai, pemandu menjelaskan sedikit tentang SALAM dan membuka sesi tanya jawab. Anak-anak kelas 10 juga diberi kesempatan untuk bertanya pada para mahasiswi tentang dunia perkuliahan atau program pertukaran pelajar yang sedang mereka jalani.

Atau saat Senin, 18 Februari 2019 kemarin, lagi-lagi seorang pengamat mengunjungi kelas kami dengan diantar Mas Yudhis. Saat itu Riley, pengamat yang baru saja selesai mengambil program belajar singkat di UKSW, mengamati diskusi evaluasi kelas terlebih dahulu sebelum mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Tapi tak selamanya tamu-tamu yang datang menyenangkan. Meski telah melampaui tahap ijin-mengijinkan untuk melakukan observasi, pernah terjadi bukannya observasi yang kami rasakan, melainkan interogasi. Seperti yang terjadi Rabu, 6 Februari 2019 yang lalu. Hari Rabu memang bukan hari dengan agenda khusus di kelas 10. Berbeda dengan Senin yang biasanya kami manfaatkan untuk mengevaluasi jalannya riset masing-masing anak, atau Kamis yang menjadi agenda untuk literasi, Rabu memang diplot sebagai hari untuk melaksanakan riset.

Saat saya datang agak kesiangan pagi itu, para pengamat dari rombongan Komite Katekis sudah memasuki kelas-kelas. Saya hitung ada 4 tamu berseragam yang sudah duduk di kelas 10. Saat saya menempatkan diri di kursi lipat favorit, mereka sedang sibuk mencecar anak-anak dengan pertanyaan. Pertanyaan yang saya dengar jelas salah satunya, “Terus bagaimana itu, kalau kalian tidak ada ujian?”

Happy, salah satu anak kelas 10 menjawab, “Ya dengan presentasi tadi, Pak.”

“Wah, enak dong berarti nggak ada ujian? Riset juga sesuai minat masing-masing. Bebas dong? Ya? Orangtua kalian gimana tuh?” dan seterusnya. Saya masih diam-diam saja duduk. Mencoba mengamati para pengamat yang interogatif itu.

“Justru sulit lho, Pak, sekolah di SALAM itu. Karena kami harus mampu mengatur jadwal sendiri,” jawab Foni, juga salah satu anak kelas 10. “Dulu waktu saya sekolah di sekolah formal, kan tinggal ikut jadwal sekolah saja,” lanjutnya.

“Iya, pak. Dengan presentasi itu kita jadi tahu sejauh apa yang udah kita capai. Saya sendiri merasa nggak enak saat hanya bisa menyajikan sedikit saat presentasi,” jelas Happy.

“Nggak enak gimana? Malu ya? Malu? Iya?” tanya salah satu bapak yang interogatif itu.

“Enggak, Pak. Saya nggak malu, tapi saya kecewa dengan diri saya sendiri karena seharusnya saya bisa menyajikan lebih banyak kalau saya bisa lebih tekun,” jawab Happy dengan mata melotot.

Saat Pak Interogator itu kehabisan pertanyaan, beliau menengok ke arah saya, “Lhah, ini siapa?” sambil mengarahkan telunjuknya pada saya.

“Ini fasilitator kelas kami, Pak,” jawab Happy.

“Oh, gitu? Jadi gimana nih, Mbak, bisa jelaskan?” tanya beliau pada saya.

“Gimana apanya, Pak?” tanya saya.

“Ya ini, gimana nih, sekolah kok nggak ada ujiannya?”

Saya yang datang agak kesiangan karena bangun juga kesiangan, menjawab singkat, “Lha Bapak sudah baca tentang SALAM belum sebelumnya? Lewat buku, atau web mungkin?”

“Belum,” jawabnya singkat.

Saya heran, bagaimana sebuah rombongan sebanyak dua bis pariwisata, yang semua pesertanya dari luar kota dan susah payah memesan seragam yang sama, datang jauh-jauh ke SALAM tanpa membaca apapun dan berharap tetap bisa melakukan ‘observasi’?

Diskusi selanjutnya berlangsung agak sengit, semacam pertandingan tenis meja. Di akhir diskusi, salah satu peserta kunjungan mengajak si Bapak Interogator untuk beralih tempat. “Udah kan, Pak? Puas dengan tanya jawabnya?”

Kemudian Pak Interogator itu menyimpulkan, “ Menarik, sih. Tapi saya khawatir bisa enggak nanti anak-anak ini menghadapi persaingan di dunia kerja.”

Saya, yang menganut prinsip hidup slow living, sangat manyun mendengar jawaban itu. Servis bola itu saya jawab dengan sebuah smash singkat, “Nggak perlu khawatir, Pak. Di SALAM tidak diajarkan persaingan dan tidak ada kompetisi. Yang kami bangun kolaborasi dan kemandirian belajar, harapannya supaya anak-anak ini kelak bisa berdikari, menjadi tuan atas dirinya sendiri.”

Setelah tamu-tamu puas berswafoto dengan kami, para objek observasinya, dan beralih ke area lain di SALAM, anak-anak di kelas 10 mengeluh. “Bu, akutu capek je kalau harus menjawab pertanyaan yang itu-itu aja. Kamu risetnya apaa?” keluh Rachel dengan memonyongkan mulutnya saat mengucap ‘apaa’.

Saya memberi tips singkat untuk anak-anak layaknya seorang pelatih atlet tenis meja, “Besok lagi, kalau ada tamu datang ke kelas, setelah mereka mengajukan satu pertanyaan, buat satu pertanyaan balik. Jadi saat mereka menjawab pertanyaanmu, kamu ada waktu untuk istirahat sebelum menjawab pertanyaan lain. Makin sulit pertanyaanmu, makin lama tamu menjawab, makin panjang waktu istirahat bicara. Syukur-syukur, kita juga bisa belajar sesuatu dari mereka.”

Rombongan tamu-tamu SALAM memang beragam. Yang paling umum adalah tipe nggumunan. Tipe ini biasanya tidak banyak bertanya, lebih banyak berfoto. Pernah saya lihat serombongan mbak-mbak sibuk berswafoto dengan latar sawah-sawah. Tipe ini akan setuju-setuju saja dengan apa yang dijelaskan oleh Bu Wahya atau siapapun yang memandu mereka hari itu. Tipe lain yaitu tipe paketan. Mereka mengunjungi SALAM sebagai salah satu rangkaian dari paket agenda keliling Jogja. Tipe ini jangankan bertanya, berfoto saja mungkin enggan, karena yang dinantikan adalah ‘Malioboro’ di urutan akhir agenda.

Tentu saja tidak semua tamu datang dalam rombongan. Ada juga yang datang dalam kelompok kecil bersama seorang kawan yang telah mengenal SALAM sebelumnya. Dengan kelompok-kelompok kecil ini, diskusi dapat terjalin menyenangkan.

Menjadi fasilitator SALAM, seringkali saya rasakan juga membutuhkan skill dasar pemandu wisata. Ramah dan tak kenal lelah menjelaskan berbagai hal. Saya tidak memiliki setelan dasar untuk itu. Itu sebabnya, saya kerap bersikap nyebahi. Seperti ketika pekan ini seorang juru kamera mengambil gambar kegiatan di kelas. Setelah beberapa kali memindah sudut pengambilan gambar, Mas Juru Kamera itu memberi arahan, “Bu, bisa minta tolong akting pura-pura mengajar, Bu?” Saya jawab singkat, “Enggak, Mas. Maaf, di SALAM tidak boleh mengajar.” Masnya mengulum senyum. Maaf ya, Mas, saya memang nyebahi.

Tapi saya tidak selalu begitu jika tamu-tamu yang datang terliterasi. Halah, bahasamu, Ger. Seperti saat awal tahun ajaran baru lalu, datang seorang tamu dari Medan, Riska Situmorang. Gadis Batak itu nekat datang sendirian ke Jogja karena sudah membaca banyak tentang SALAM dan ingin berkonsultasi langsung dengan Pak Toto dan Bu Wahya selaku pendiri SALAM. Riska saat itu tengah menjadi guru di sebuah sekolah yang sedang mengurus ijin menjadi sekolah formal dan pernah menjadi relawan di sebuah sekolah alternatif. Riska juga aktif di sebuah komunitas kopi yang bercita-cita untuk membuka wawasan para petani kopi di Sumatera Utara. Berbincang dengan Riska layaknya bertemu kawan lama.

Baca dulu buku ini sebelum berkunjung ke SALAM

Jadi, tamu-tamu SALAM, saya harap Anda jangan terburu-buru berkunjung ke SALAM sebelum membaca paling tidak sedikit saja tentang SALAM. Apabila ingin membaca banyak, Anda bisa membeli buku bersampul hijau berjudul “Sekolah Biasa Saja” karya Pak Toto Rahardjo. Pun jika ingin lebih bersabar, saya bersama Mbak Karunianingtyas dan beberapa fasilitator serta orangtua tengah menyusun buku “Sekolah Apa Ini?” yang harapannya dapat terbit 1-2 bulan lagi. Setelah itu silahkan berkunjung. Jika sedang mood, kita bisa berbincang hingga satu-dua cangkir kopi. Tidak lama-lama ya, karena jam 5 sore anak saya harus mandi.(*)