Dicari!! Sosok Ortu SALAM yang Berani Mewujudkan Ekosistem Kehidupan

GAGASAN selalu muncul dari pak Toto Rahardjo. Mungkin tagline “Selalu Ada yang Baru” tak hanya layak digunakan oleh koran nasional Jawa Pos saja, tapi bisa juga disematkan untuk sosok pendiri SALAM ini.

Terus apa kira-kira ide dari pak Toto yang baru saja merayakan ulang tahunnya ke-60? Adalah Ekosistem Kehidupan. Wedew, mendengarnya saja sudah terasa berat dan penuh filosofi. Dari penuturan pak Toto, ekosistem kehidupan ini merupakan sebuah siklus yang dilandasi dari kebutuhan dasar hingga muncul sistem kehidupan bersama. Nah lho, opo meneh iki? Hehe.

“Untuk mengerti itu yo kudu hijrah sik pikirane,” ujar pak Toto di suatu sore.

Menurut pak Toto, SALAM saat ini masih menjadi sebuah komunitas belajar. Namun, harusnya tak berhenti sampai di situ saja. Tetap harus ada keberlanjutannya. Nah, berangkat dari situ muncullah gagasan untuk mewujudkan Ekosistem Kehidupan.

Di dalam KBBI, ekosistem diartikan sebagai keadaan khusus tempat komunitas suatu organisme hidup dan komponen organisme tidak hidup dari suatu lingkungan yang saling berinteraksi. Sedangkan kehidupan ya merupakan suatu cara. Terus apa ya hubungannya dengan Ekosistem Kehidupan yang dimaksud oleh pak Toto?

Menurut pak Toto, yang perlu digarisbawahi adalah prinsip hidup bersama, bebrayan dalam satu lingkungan, yakni SALAM. Prinsip hidup bersama ya adanya interaksi, saling membutuhkan, saling mengisi, dan melengkapi.

Makin bingung lagi kan mendengar penjelasan pak Toto? Yak sama, saya juga bingung. Pertanyaannya, terus wujudnya apa? Ekosistem kehidupan ini bentuk riil-nya apa?

Embrio urip Bebrayan, Sekolah Akar Rumput (SEKAR)

“Yo koyo pasar,” jawab pak Toto singkat. Duh, makin bingung lagi saya.

Menurut pak Toto, pasar merupakan bentuk nyata dari sebuah ekosistem kehidupan. Karena di dalamnya ada interaksi, baik pedagang ke sesama pedagang, pedagang dan pembeli, pembeli dan tukang parkirnya, pedagang dengan bank plecitnya. Semuanya. Lengkap ada di pasar. Orang-orang mendatangi sebuah pasar dengan satu tujuan, memenuhi kebutuhan dasarnya. Ya pangan, sandang, kebutuhan akan kesehatan mungkin, dan banyak hal.

Nah, pak Toto membayangkan adanya sebuah mekanisme yang terorganisir di SALAM. Adanya Pasar Simbok tiap Kamis bisa menjadi embrionya. “Sebetulnya cara paling gampang menggambar mekanisme ini ya seperti Koperasi. Tapi saya tidak mau SALAM ujug-ujug punya koperasi. Atau SALAM ujug-ujug punya unit usaha misalnya. Semua harus dimulai dari kebutuhan dasar dulu, pangan, kesehatan. Dan saya berharapnya semua itu muncul dari orang tua,” jelas pak Toto.

Maksudnya, sebuah “pasar” ini muncul karena memang ada kebutuhan dari orang tua, yang nantinya bisa berimbas pada bidang ekonomi. Misalnya saja dimulai dari proses produksi, ketersediaan suplai barang, pemasaran, hingga sistem kerja yang sistematis.

ekosistem kehidupan dimulai belajar dari Pasar Senen Legi SALAM

“Saya membayangkan ada pasar sayur di SALAM. Ada proses jual beli yang produsennya dari orang-orang SALAM. Bisa kerajinan, bisa produk lain yang dibuat sendiri. Orang tua SALAM memiliki latar belakang beragam. Makanya butuh pemetaan potensi orang-orangnya, kebutuhannya, setelah itu baru masuk ke pengorganisasiannya,” ungkap pak Toto panjang lebar.

Menurut pak Toto, selama ini di SALAM baru sebatas event. Pasar yang dijalankan saat ini di SALAM hanya sebatas ruangnya saja, belum sampai ke bentuk yang terorganisir. Nah, komunitas SALAM memberi kesempatan untuk orang-orang di dalamnya ikut serta dan berpartisipasi. Sekaligus untuk menghindari dominasi, makanya tiap orang ikut berperan, apapun itu perannya. Termasuk mencari sosok orang tua yang berani mewujudkan gagasan pak Toto. Mencari orang tua yang mau dan berani merealisasikan konsep Ekosistem Kehidupan. Anda berani? []