Pagi itu, 25 Mei 2026, halaman sekolah terasa berbeda. Di salah satu sudut ruang TA yang teduh—sebuah tempat yang dipilihnya sendiri karena aman dari sengatan matahari dan rintik hujan—seorang anak perempuan kelas 2 SD bernama Restu Puan Yovela sibuk menata sebuah meja. Puan, begitu ia akrab disapa, sebenarnya telah bersiap sejak malam sebelumnya. Didampingi sang mama yang setia menemani dari masa persiapan hingga hari pelaksanaan, Puan menggelar lapak presentasinya dengan binar kebanggaan dan kepuasan yang tak bisa disembunyikan.
Di atas meja itu, kreativitas Puan terpajang utuh. Ia menentukan sendiri bagaimana taplak dibentangkan, wadah-wadah diatur, hingga membuat poster penunjuk harga secara mandiri. Ada sebungkus biji kangkung, bayam merah, dan bayam hijau yang dikemas rapi dalam kertas seharga Rp3.000,-. Di dekatnya, berjajar 21 bibit tanaman dalam polybag kecil yang sengaja ia tanam sendiri seminggu sebelum presentasi.
“Kan seminggu lagi presentasi Mah, mereka biar sempat tumbuh,” kenangnya saat menyiapkan bibit-bibit itu dengan penuh semangat. Tidak ketinggalan, Puan memajang bunga soka kesayangannya—satu-satunya tanaman hias yang ia pelihara—serta kunyit hasil panen risetnya yang masih berusia muda. Sebuah buku riset tebal diletakkan di tengah meja, siap menjadi saksi bisu petualangannya mengeksplorasi alam. Ketika para pengunjung, tamu, bahkan wartawan datang mendekat dan melontarkan pertanyaan, Puan yang awalnya duduk tenang langsung menyambut mereka dengan antusias. Ia membuka lembar demi lembar buku risetnya, menunjukkan gambar-gambar di dalamnya dengan percaya diri yang lugu dan jujur apa adanya.
Pilihan Puan untuk mengambil judul riset “Menanam” bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Akar ketertarikannya sudah tumbuh sejak ia berusia tiga tahun, memperhatikan jemari mamanya yang rajin menanam sayuran di rumah. Bagi Puan, ada keajaiban tersendiri dalam siklus makanan: ia sangat suka makan dan memasak bersama sang mama. Rasa penasaran itulah yang mendorongnya ingin melacak bagaimana sesuatu yang awalnya berbentuk biji kecil bisa bertumbuh, berproses, hingga akhirnya “sampai ke perutnya.”
Bergerak dari rasa penasaran itu, Puan memulai petualangannya. Didampingi mama, ia berselancar di Shopee untuk membeli polybag dan aneka biji sayuran. Halaman rumahnya seketika berubah menjadi laboratorium mini. Puan bereksperimen dengan berbagai hal, termasuk memanfaatkan sampah dapur. Lewat ketekunannya, tanaman tomat berhasil berbuah manis, meski ada pula kegagalan yang harus diterima dengan lapang dada—seperti mentimun yang tumbuh tapi enggan berbuah, cabai yang sempat tumbuh lalu mati, serta buncis yang layu berujung gagal.
Namun, kebun kecil Puan tidak pernah sepi. Beberapa orang terdekat ikut menyumbang kehidupan di sana. Ada tanaman markisa pemberian Geva yang kini tumbuh besar, tanaman ekor tupai dari Tante Rena, hingga tanaman hias yang dibawa jauh-jauh dari Cimahi oleh Tante Tari. Karena riset ini berbasis di rumah, Puan memegang kendali penuh atas inisiatifnya. Setiap hari, bergantian dengan mama, ia menyiram tanaman, mengukur tinggi batang, menambahkan tanah jika diperlukan, mencabut rumput liar, hingga menggeser pot-pot berat mengikuti arah pergerakan matahari agar mendapatkan sinar terbaik.
Ikhtiar Puan memperdalam ilmu tidak berhenti di halaman rumah. Ia bahkan melakukan dua kali kunjungan khusus ke kebun Tante Rena di Solo. Dua kunjungan itu memberinya lanskap ruang belajar yang kontras namun kaya makna. Pada kedatangan pertama, kebun Tante Rena tampak rimbun, penuh dengan gelayut buah dan sayur yang subur. Namun pada kedatangan kedua, kebun itu mendadak gundul karena sedang diistirahatkan demi penyuburan tanah.
Di kebun Solo itu pula, sebuah momen kunci tertanam dalam ingatan Puan. Ia menatap sebatang pohon rosella yang meranggas habis tersambar petir. Daun-daunnya kering dan berjatuhan, namun di ranting-rantingnya yang rapuh, buahnya justru lebat bukan main. Dengan tatapan penuh empati, Puan kecil berbisik kepada ibunya, “Besok-besok kalau kita datang kesini lagi, mungkin dia udah ga ada ya mah…?” sebuah kesadaran dini tentang siklus hidup dan mati makhluk hidup.
Melalui pengalaman-pengalaman inilah Puan menemukan beberapa temuan berharga. Ia tidak hanya belajar mengenali apa itu black gold (tanah kascing yang subur), tetapi juga menyadari bahwa di dunia ini, yang hidup, penting, dan bertumbuh bukan hanya manusia. Ia juga merasakan hukum semesta yang hangat: ketika kita mengerjakan sesuatu dengan penuh antusias, maka orang-orang di sekitar pun akan menyambutnya dengan energi yang sama besarnya. Tentu saja, perjalanan ini tidak mulus. Puan dan mamanya sempat menyerah membuat pupuk organik karena sama-sama takut pada maggot, dan beberapa tanaman sempat mati akibat kadang terlewat dari perhatian.
Refleksi Belajar: Cinta sebagai Pupuk Terbaik
Saat presentasi berlangsung, Puan menunjukkan Kefasihan yang luar biasa ketika menjelaskan proses pertumbuhan tanaman, detail perawatan, hingga cara ia memasak hasil panennya menjadi tumis kangkung, tomat gula, dan bayam bening. Meski sesekali ia masih tertukar menyebut antara sereh dan kencur, atau sedikit bingung membedakan hitungan hari dan bulan untuk usia tanaman, hal itu justru menambah keluguan proses belajarnya yang otentik.
Riset ini pun melatih kemandirian dan keberanian Puan dalam mengambil keputusan ekonomi. Awalnya, ia bersikeras memasang harga Rp4.000,- untuk bibitnya. Ketika sang mama mengingatkan bahwa harga itu mungkin kemahalan, dengan taktis Puan menjawab, “Ya nanti kalau ga ada yang beli, aku turunin jadi 3000.”
Benar saja, di akhir hari, dagangannya tidak sepenuhnya habis. Saat pulang, sang mama bertanya, “Di sekolah tadi, jualan apa yang kira-kira paling laku, Puan?” dengan jujur Puan menjawab bahwa makanan adalah yang paling laris. Meski sempat bergumam, “Lakunya cuma dikit ya…”, tidak ada raut kekecewaan di wajahnya. Bagi Puan, bibit dan sayur yang tidak laku terjual justru menjadi keuntungan lain: bisa ia bawa pulang untuk dimasak kembali.
Di akhir seluruh proses ini, Anggi Satoko selaku notulis memberikan sebuah catatan reflektif yang mendalam. Melalui riset sederhana tentang menanam, Puan sebenarnya sedang belajar menghargai setiap bulir makanan yang tersaji di piringnya. Suatu hari di meja makan, Puan pernah memandangi makanannya sambil bergumam sayang, “Perjalanan kangkungnya panjang ya Ma sampe ke piringku. Kamu tumbuh enak banget!”
Lebih dari sekadar biologi dan kecakapan hidup, perjalanan ke kebun Tante Rena dan interaksi penuh cinta dengan lingkungan sekitar telah mengajarkan Puan satu hal fundamental: bahwa cinta adalah pupuk terbaik dan paling utama bagi semua makhluk hidup untuk bertumbuh di dunia ini.
Dari Notulensi: Anggi Satoko (Notulis)
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply