Blog

Belajar Sejatinya Lahir dari Kebebasan

Ada satu kalimat yang sering saya dengar selama bekerja di sebuah yayasan: “Jangan takut membuang waktu untuk belajar.” Kalimat itu terdengar murah hati. Siapa yang bisa menolak gagasan bahwa belajar adalah sesuatu yang baik? Belajar dipandang sebagai investasi, sebagai jalan menuju pertumbuhan, sebagai sesuatu yang layak diperjuangkan meski harus mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kenyamanan.

Dalam banyak kesempatan, pekerjaan di yayasan juga dijelaskan bukan semata untuk menghasilkan keluaran atau mencapai target, melainkan sebagai proses pembelajaran bagi setiap orang yang terlibat. Kesalahan adalah pembelajaran. Tantangan adalah pembelajaran. Konflik adalah pembelajaran. Hampir setiap pengalaman memperoleh maknanya melalui kata: belajar. Lambat laun saya mulai bertanya, belajar untuk siapa?

Ketika sebuah organisasi mendefinisikan hampir seluruh pengalaman kerja sebagai proses belajar, organisasi tersebut secara tidak langsung memperoleh kuasa untuk menentukan apa yang dianggap sebagai pelajaran yang baik. Beban kerja menjadi pembelajaran. Ketidakjelasan sistem menjadi pembelajaran. Pengorbanan waktu pribadi menjadi pembelajaran. Bahkan pengalaman yang melelahkan pun dapat dipahami sebagai sesuatu yang perlu disyukuri karena diyakini sedang membentuk karakter. Di titik itulah saya menyadari bahwa belajar tidak selalu netral. Belajar dapat menjadi bahasa yang menyamarkan relasi kuasa.

Atas nama belajar, seseorang dapat diminta menerima pekerjaan di luar tanggung jawabnya. Atas nama belajar, seseorang didorong mengorbankan waktu pribadinya. Atas nama belajar, keberatan terhadap suatu keadaan dapat dianggap sebagai tanda bahwa seseorang belum cukup dewasa menjalani proses. Ketika seseorang mulai mempertanyakan keadaan tersebut, respons yang muncul sering kali bukan evaluasi terhadap sistem, melainkan pengingat bahwa semua ini adalah bagian dari pembelajaran.

Yang paling menarik, kontrol semacam ini tidak bekerja melalui ancaman atau hukuman. Ia bekerja melalui makna. Ketika lembur disebut dedikasi, ketika beban kerja disebut kesempatan belajar, ketika pengorbanan waktu pribadi disebut investasi diri, makna-makna tersebut perlahan membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri. Orang tidak lagi merasa sedang dipaksa. Ia justru percaya bahwa menerima semua itu adalah pilihan yang baik, karena itulah jalan untuk bertumbuh.

Barangkali inilah bentuk kontrol yang paling halus. Organisasi tidak perlu mengawasi setiap langkah anggotanya. Anggota akan mengawasi dirinya sendiri karena telah menerima definisi organisasi tentang apa artinya menjadi pekerja yang baik. Pengalaman ini juga membawa saya pada sebuah paradoks. Jika organisasi percaya bahwa seluruh pekerjaan adalah proses belajar, bukankah organisasi juga seharusnya bertanggung jawab atas hasil dari proses belajar tersebut?

Dalam dunia pendidikan, ketika banyak murid mengalami kesulitan, pertanyaan pertama semestinya bukanlah mengapa murid itu gagal, melainkan apakah sistem pembelajarannya sudah berjalan dengan baik. Apakah metode mengajarnya tepat? Apakah pendampingannya memadai? Apakah lingkungan belajarnya benar-benar mendukung proses belajar?

Namun dalam organisasi, saya justru melihat kecenderungan yang berbeda. Ketika terjadi persoalan, perhatian lebih cepat diarahkan kepada individu. Kesalahan menjadi ukuran kompetensi seseorang, bukan kesempatan untuk mengevaluasi apakah sistem kerja, pembagian peran, atau cara organisasi mendampingi proses belajar sudah berjalan dengan baik. Organisasi mengklaim dirinya sebagai ruang belajar, tetapi ketika hasil pembelajaran tidak sesuai harapan, yang dipersoalkan justru muridnya. Pengalaman ini kemudian membawa saya pada pertanyaan yang lebih besar. Apakah sebuah organisasi memiliki hak untuk menentukan arah pertumbuhan hidup seseorang?

Saya percaya pekerjaan memang dapat menjadi ruang belajar. Saya belajar banyak melalui pekerjaan. Namun manusia tidak hanya belajar melalui pekerjaannya. Ia belajar dari keluarga, dari persahabatan, dari buku yang dibaca, dari perjalanan, dari komunitas, dari kegagalan, bahkan dari keberaniannya meninggalkan tempat yang tidak lagi sejalan dengan nilai yang ia yakini.

Ketika sebuah organisasi mulai memandang dirinya sebagai pusat utama pembelajaran seseorang, batas antara mendidik dan mengendalikan menjadi semakin tipis. Organisasi tidak lagi sekadar menawarkan ruang belajar, melainkan perlahan menentukan bagaimana seseorang seharusnya menggunakan waktunya, memaknai pengorbanannya, mengukur keberhasilannya, bahkan memahami dirinya sendiri.

Belajar sejatinya selalu lahir dari kebebasan. Ia tumbuh dari rasa ingin tahu, bukan dari kewajiban moral. Ia berkembang karena pilihan, bukan karena seseorang merasa bersalah ketika memilih jalan yang berbeda. Pada akhirnya saya tidak berhenti percaya bahwa belajar adalah sesuatu yang penting. Justru karena saya percaya pada nilai belajar, saya merasa perlu mempertanyakan bagaimana kata itu digunakan.

Barangkali pertanyaan yang perlu terus kita ajukan bukan, apakah kita sudah cukup banyak belajar. Pertanyaannya adalah: apakah proses belajar itu masih memberi kita kebebasan untuk menentukan arah hidup kita sendiri? Sebab ketika belajar tidak lagi memerdekakan, mungkin yang hilang bukan sekadar kebebasan memilih pekerjaan, melainkan kebebasan menjadi manusia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *