Blog

MENYELARASKAN LANGKAH DI RUMAH DAN SEKOLAH

Catatan dari Workshop Perencanaan Bersama Orang Tua di SALAM

Awal semester di Sanggar Anak Alam biasanya memang agak lain. Di sekolah-sekolah pada umumnya, awal semester sering ditandai dengan kesibukan yang cukup resmi: seragam dirapikan, buku diberi sampul, nama anak dicatat, jadwal ditempel, orang tua diberi tahu ini-itu, lalu anak-anak pelan-pelan dikembalikan ke dalam ritme sekolah.

Di SALAM, anak-anak pada awal semester malah pada memegang sapu. Bukan karena fasilitator sedang kehabisan ide kegiatan. Mereka membersihkan kelas, mengatur ruang, menyepakati batas wilayah bermain, lalu mulai memikirkan: semester ini mau belajar apa? Agak aneh memang kalau dilihat dari kebiasaan sekolah kita. Anak datang ke sekolah kok malah pada nyapu.

Tetapi kalau dipikir-pikir lagi, mungkin justru di situlah sekolah dimulai. Sebelum bicara tentang matematika, anak belajar bahwa ruang yang dipakai bersama harus dirawat bersama. Sebelum bicara tentang tanggung jawab, ia diberi kesempatan mengalami tanggung jawab itu sendiri.

Dan sebelum anak membuat rencana belajar, orang dewasa rupanya juga harus belajar membuat rencana. Maka awal semester di SALAM bukan hanya masa orientasi anak. Orang tua juga ikut orientasi. Namanya Workshop Perencanaan Belajar Bersama.

Saya membayangkan, kalau ada orang tua yang baru pertama kali mengikuti workshop ini, mungkin di dalam hati bertanya-tanya, “Lho, ini anak yang sekolah siapa, kok bapaknya ikut sekolah juga?” Ya, memang begitu. Sebab di SALAM, pendidikan anak tidak diletakkan seluruhnya di pundak sekolah. Rumah ikut memikul. Lingkungan ikut memikul. Anak sendiri tentu saja juga ikut memikul.

Pendidikan, rupanya, tidak bisa hanya berlangsung dari Senin sampai Jumat pukul delapan sampai siang. Ia pulang ke rumah. Ia masuk dapur. Ia ikut ke pasar. Ia ikut ketika ibu sedang repot memasak. Ia ikut ketika bapak sedang memperbaiki sepeda. Ia bahkan kadang-kadang muncul ketika orang tua sedang bertengkar kecil soal tagihan listrik. Di situlah pendidikan sering kali bekerja dengan cara yang diam-diam.

Orang Tua Juga Harus Belajar Menjadi Orang Tua

Workshop kali ini mempunyai sesuatu yang baru. Kalau sebelumnya orang tua berkumpul lebih kurang dalam satu forum, kali ini perencanaan dibedakan menurut jenjang usia anak. Masuk akal. Sebab mendampingi anak usia PAUD tentu tidak sama dengan mendampingi anak SMA. Anak kecil masih perlu banyak dituntun. Anak SD mulai belajar berdiri. Anak SMP mulai merasa bahwa dirinya sudah tahu banyak hal. Dan anak SMA, kalau ditanya orang tuanya terlalu banyak, bisa menjawab pendek: “Ya.”

“Terus?” “Gak apa-apa.” “Belajar?” “Udah.” Selesai. Orang tua biasanya lalu masuk kamar sambil menghela napas panjang. Maka pada jenjang PAUD dan SD, workshop sepenuhnya diikuti orang tua. Di sini pendampingan rumah masih sangat besar. Orang tua bukan sekadar orang yang mengantar dan menjemput, tetapi menjadi bagian dari ekosistem belajar anak.

Ketika anak memasuki SMP, anak mulai duduk bersama orang tua. Ada semacam latihan berbagi tanggung jawab. Sedangkan pada jenjang SMA, anak mulai melangkah sendiri. Orang tua perlahan mundur beberapa langkah. Bukan karena sudah tidak peduli. Justru karena peduli. Ada saatnya orang tua harus berhenti memegang tangan anak dan mulai percaya bahwa anak itu mempunyai kaki sendiri. Ini salah satu pekerjaan paling sulit dalam pendidikan. Melepaskan. Sebab orang tua sering kali lebih mudah mengajari anak berjalan daripada belajar membiarkannya berjalan sendiri.

Antara Anak, Orang Tua, dan Fasilitator

workshop ortu kelas 1 SD

Dalam workshop itu kemudian muncul sesi yang kelihatannya sederhana: refleksi. Apa yang menyenangkan selama mendampingi riset anak? Apa yang membuat repot? Apa yang membuat anak berkembang? Apa yang membuat orang tua hampir kehilangan kesabaran? Dari situ keluar cerita yang macam-macam. Ada orang tua yang melihat anaknya semakin kritis.Ada anak yang mulai berani mengambil inisiatif. Ada pula yang tadinya kalau diberi pertanyaan selalu melihat bapaknya, sekarang malah berani berkata, “Menurut saya begini.” Ada rasa tanggung jawab yang tumbuh. Ada kemampuan mengatur waktu. Ada keberanian mempresentasikan hasil riset. Dan ada satu hal yang paling penting tetapi sering tidak masuk dalam rapor sekolah: kedekatan.

Orang tua dan anak menjadi lebih dekat karena mengerjakan sesuatu bersama. Ini menarik. Sebab pendidikan modern sering kali berbicara tentang kompetensi, keterampilan, capaian, indikator, target, dan hasil. Sementara anak di rumah cuma ingin didengarkan. Orang tua cuma ingin tahu apa yang sebenarnya sedang dipikirkan anaknya. Kadang-kadang riset anak menjadi jalan masuk menuju percakapan yang selama ini tidak pernah terjadi. Ayah yang biasanya hanya bertanya, “Sudah belajar?” Sekarang bisa bertanya, “Kenapa kamu tertarik meneliti itu?” Pertanyaan kecil. Tetapi pintunya bisa panjang.

Anak bercerita. Ayah mendengarkan. Ibu ikut nimbrung dari dapur. “Lho, kalau begitu sampah sayur kita jangan dibuang dulu.” Anak menoleh. “Kenapa?” “Nanti buat penelitianmu.” Tiba-tiba dapur berubah menjadi laboratorium kecil. Begitulah pendidikan kadang-kadang bekerja. Tidak memakai papan tulis. Tidak memakai bel. Tidak memakai suara guru yang berkata, “Anak-anak, sekarang buka halaman 27.”

Tetapi Rumah Juga Punya Masalahnya Sendiri

Tentu saja tidak semua berjalan mulus. Kalau pendidikan di rumah hanya berisi cerita sukses, saya kira kita patut curiga. Ada anak yang motivasinya turun ketika riset menemui jalan buntu. Ada anak yang pendiriannya begitu kuat sehingga nasihat orang tua malah terasa seperti gangguan. Ini juga lucu.

Orang tua berkata, “Menurut Bapak, mungkin caranya begini.” Anak menjawab, “Bukan begitu.” “Lho, Bapak kan cuma kasih saran.” “Tapi aku sudah punya cara.” “Ya sudah.” Lima menit kemudian ayahnya keluar kamar sambil ngomel pelan. “Anak sekarang memang hebat. Bapaknya kalah.” Tetapi sesungguhnya persoalannya tidak sesederhana itu. Anak sedang belajar menjadi dirinya sendiri. Orang tua sedang belajar menerima bahwa anak bukan perpanjangan dari dirinya.

Di sini pendidikan bertemu dengan persoalan kelas sosial dan perubahan zaman. Dulu, dalam banyak keluarga, orang tua mempunyai posisi yang hampir mutlak sebagai sumber pengetahuan. Anak bertanya kepada bapak atau ibu. Bapak dan ibu bertanya kepada orang yang lebih tua. Pengetahuan turun dari atas ke bawah.

Sekarang pengetahuan bertebaran di mana-mana. Anak bisa menemukan informasi dari internet, YouTube, teman sebaya, fasilitator, komunitas, bahkan dari orang yang tidak pernah dikenalnya. Maka tidak mengherankan kalau anak kadang lebih percaya kepada fasilitator atau teman daripada orang tuanya sendiri. Bukan berarti orang tua kehilangan kewibawaan. Yang berubah adalah sumber pengetahuan. Dan perubahan itu memaksa keluarga mengubah cara membangun kewibawaan. Dulu mungkin cukup berkata: “Pokoknya kata Bapak begitu.” Sekarang anak bisa menjawab: “Kenapa?” Nah. Di situlah repotnya. Sekaligus di situlah pendidikan dimulai.

Gadget, Jalan Buntu, dan Pekerjaan Rumah Orang Tua

Ada pula musuh lama yang sekarang sudah menjadi anggota keluarga. Namanya gadget. Ia tidak pernah diundang secara resmi, tetapi hampir selalu hadir. Anak sedang melakukan riset, sebentar melihat gawai. Mau menulis jurnal, membuka video. Mau mencari narasumber, entah bagaimana lima belas menit kemudian sudah melihat orang memasak mie level pedas. Orang tua lalu marah. “Gadget terus!” Anak menjawab, “Ini riset.” “Riset apa?” “Belum tahu.” Nah. Itu baru namanya riset.

Selain gadget, ada persoalan lain: menunda-nunda, sulit mencari narasumber, keterbatasan sumber daya, waktu pendampingan yang panjang, dan jurnal riset yang tidak disiplin. Semua itu menunjukkan bahwa belajar mandiri tidak sama dengan dibiarkan sendiri. Ini penting. Mandiri bukan berarti sendirian. Anak tetap membutuhkan orang dewasa. Tetapi orang dewasa tidak harus mengambil alih.

Orang tua membantu menyediakan ruang, membuka pintu, mencarikan kemungkinan, menghubungkan dengan orang lain, menemani ketika anak buntu—tetapi bukan mengerjakan penelitian anak. Barangkali ini bagian paling sulit dari pendidikan yang membebaskan. Bagaimana membantu tanpa mengambil alih. Bagaimana menemani tanpa mendominasi. Bagaimana mengarahkan tanpa menentukan seluruh jalan.

Dari Tema yang Disukai ke Riset yang Bisa Diselesaikan

Evaluasi semester-semester sebelumnya juga memperlihatkan sesuatu yang sangat manusiawi. Kadang-kadang anak memilih tema yang menarik, tetapi terlalu luas. Misalnya ingin meneliti “sampah”. Bagus. Tetapi sampah itu dunia yang luas sekali. Mau meneliti apa? Sampah rumah tangga? Sampah plastik? Sampah sungai? Sampah makanan? Dampaknya terhadap tanah? Terhadap laut? Terhadap perubahan iklim? Kalau semuanya mau diteliti dalam satu semester, anak bisa-bisa sampai kenaikan kelas belum selesai. Karena itu metodologi riset diperbarui.

Salah satu pijakannya adalah prinsip SMART: riset harus spesifik, terukur, dapat dikerjakan sesuai kemampuan anak, realistis dengan sumber daya yang tersedia, relevan dengan kehidupan sehari-hari, dan mempunyai batas waktu yang jelas. Ini bukan sekadar membuat anak lebih “ilmiah”. Lebih jauh daripada itu, anak sedang belajar sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan: keinginan yang baik perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang mungkin dilakukan. Banyak cita-cita orang dewasa gagal bukan karena cita-citanya buruk. Tetapi karena terlalu besar, terlalu kabur, tidak tahu mulai dari mana, tidak ada ukuran keberhasilan, dan tidak pernah diberi tenggat.Anak belajar itu sejak sekarang.

Dari “Saya Ingin Tahu” Menjadi Pertanyaan

Metodologi baru juga mendorong anak untuk merumuskan rasa ingin tahunya. Ini tampaknya sederhana. Tetapi sebenarnya tidak. “Saya ingin tahu tentang sampah.” Belum cukup. Pertanyaannya harus dipersempit. Misalnya: “Bagaimana cara mengurangi sampah organik di rumah saya, dan apakah sampah tersebut dapat dimanfaatkan?” Nah. Sekarang sudah ada pintunya. Setelah itu muncul hipotesis. Hipotesis bukan jawaban yang harus benar. Ia adalah dugaan awal. Bambang Ekalaya, anak kelas 7 SMP, misalnya, melihat tumpukan sampah organik sisa makanan di belakang rumahnya. Bau tidak sedap muncul. Lalat hijau datang. Bambang lalu berpikir: jangan-jangan sampah ini sebenarnya masih bisa dimanfaatkan. Dari pengamatan dan percakapan dengan orang tua, ia menduga sampah dapur basah dapat digunakan sebagai pakan maggot, sementara sampah kering bisa diolah menjadi kompos.

Lalu ia tidak berhenti pada dugaan. Ia mencari tahu. Bagaimana cara memilah sampah? Bagaimana membudidayakan maggot? Bagaimana membuat komposter? Apa alat dan bahannya? Berapa lama? Siapa yang bisa menjadi narasumber? Di sini rasa ingin tahu mulai berubah menjadi rencana. Dan ketika rencana mulai disusun, anak belajar bahwa pengetahuan tidak datang sebagai hadiah. Ia dicari. Dicoba. Kadang salah. Diperbaiki. Dicatat. Dibicarakan. Lalu dicoba lagi.

Daur Belajar yang Tidak Berputar di Papan Tulis

Di SALAM, perjalanan itu kemudian masuk ke Daur Belajar: Melakukan → Ungkap Data → Analisis → Menyimpulkan → Menerapkan. Kalau dibaca sekilas, tampaknya seperti urutan yang sangat akademis. Tetapi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita melakukan sesuatu. Kemudian melihat apa yang terjadi. Kita membicarakannya. Kita mencoba memahami sebabnya. Lalu mengambil kesimpulan. Setelah itu mencoba menerapkannya. Begitu terus. Hidup manusia sebenarnya memang seperti itu. Hanya saja orang dewasa sering lupa karena terlalu sibuk mengejar hasil.

Anak justru perlu diberi kesempatan mengalami prosesnya. Karena itu riset Bambang bukan berhenti pada judul: “Mengurangi Sampah Organik Menggunakan Maggot dan Komposter.” Yang lebih penting adalah apa yang terjadi sesudahnya. Apakah sampah organik rumah benar-benar berkurang? Apakah komposter bekerja? Apakah maggot dapat dimanfaatkan? Apakah orang lain di rumah ikut berubah? Apakah lingkungan menjadi lebih baik? Di situlah ukuran “dampak” mulai masuk. Riset tidak hanya menghasilkan pengetahuan. Ia diharapkan menghasilkan perubahan.

PAUD: Sebelum Anak Pandai Menjelaskan, Ia Harus Mengalami

Menariknya, tidak semua jenjang harus dipaksa memakai bahasa riset seperti anak SMP. Anak PAUD punya dunianya sendiri. Mereka belajar melalui tubuh. Melihat. Mendengar. Mencium. Menyentuh. Bergerak. Mencoba. Bermain. Bagi anak kecil, pancaindra adalah buku pelajaran pertama. Maka belajar bisa terjadi ketika mereka berjalan di luar kelas, melakukan anjangsana, sanja kanca, andum trampil, mengikuti Pasar Senin Legi, Pasar Ekspresi, atau ikut Gelar Karya.

Di sini orang tua mempunyai peran penting. Bukan untuk mengejar anak supaya cepat pintar. Melainkan menjaga agar lingkungan rumah sejalan dengan nilai-nilai yang sedang dibangun. Menghargai keunikan anak. Mengenalkan pangan sehat. Mengurangi sampah. Melatih kemandirian. Kadang pendidikan paling sederhana justru berbunyi: “Coba kamu pakai sepatu sendiri.” Anak mencoba. Gagal. Mencoba lagi. Orang tua hampir saja membantu. Tetapi kemudian menahan tangan. “Coba sekali lagi.” Anak berhasil. Wajahnya berbinar. Tidak ada sertifikat. Tidak ada nilai 100. Tetapi ada satu pengetahuan baru: Aku ternyata bisa.

SD: Ketika Dunia Mulai Bisa Diberi Nama

Memasuki SD kelas 1, 2, dan 3, fondasi baca, tulis, dan hitung mulai diperkuat. Calistung di sini bukan sekadar kemampuan teknis. Ia menjadi pintu untuk memahami dunia. Anak mulai membaca tanda. Menulis pengalaman. Menghitung sesuatu yang benar-benar ia temui. Hubungan sebab-akibat mulai dikenali. Riset pun menjadi sarana membangun ketangguhan, tanggung jawab, dan kepedulian. Karena sebagian aktivitas riset dilakukan di rumah, orang tua menjadi penting sebagai pengumpul data awal. Bukan sebagai guru pengganti. Bukan sebagai penulis skripsi anak. Melainkan sebagai orang yang membantu anak menangkap apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Data itu kemudian dibawa kembali ke fasilitator. Didiskusikan. Diuji. Divalidasi. Dimasukkan ke dalam Daur Belajar. Dengan begitu, rumah dan sekolah tidak berjalan sendiri-sendiri. Keduanya seperti dua orang yang membawa meja panjang. Kalau satu orang berjalan terlalu cepat, meja miring. Kalau yang satu berhenti mendadak, yang lain ikut tersandung. Maka yang diperlukan bukan siapa yang paling pintar. Yang diperlukan adalah menyelaraskan langkah.

SMP dan SMA: Dari Minat Menuju Keprihatinan

Pada kelas 4–6 SD, SMP, hingga SMA, anak mulai didorong lebih jauh. Tidak hanya: “Saya suka ini.” Tetapi: “Kenapa hal ini penting?” “Apa masalahnya?” “Apa peluangnya?” “Apa yang bisa saya lakukan?” “Siapa yang terdampak?” “Kalau penelitian ini selesai, manfaatnya untuk siapa?”

Di sinilah pendidikan mulai bergerak dari sekadar eksplorasi minat menuju kesadaran sosial. Anak mulai melihat bahwa hidupnya tidak berdiri sendiri. Ada persoalan lingkungan. Ada persoalan keluarga. Ada persoalan pangan. Ada persoalan ekonomi. Ada persoalan masyarakat. Dan mungkin ada sesuatu yang bisa dilakukan. Kecil saja tidak apa-apa. Sebab perubahan sosial sering kali memang dimulai dari sesuatu yang kelihatannya terlalu kecil untuk disebut perubahan.

Sampah di belakang rumah Bambang, misalnya. Awalnya hanya bau. Lalu menjadi pertanyaan. Pertanyaan menjadi hipotesis. Hipotesis menjadi riset. Riset menjadi tindakan. Tindakan mengubah cara satu keluarga mengelola sampah. Dan siapa tahu, suatu hari, cara satu keluarga itu ditiru keluarga lain. Dari situlah masyarakat berubah. Tidak selalu lewat pidato besar. Kadang-kadang lewat ember komposter di belakang rumah.

Rumah, Sekolah, dan Masyarakat yang Sedang Berubah

Ada hal yang lebih besar di balik workshop ini. Ia sebenarnya sedang memperlihatkan perubahan hubungan antara rumah dan sekolah. Dulu sekolah sering dianggap sebagai tempat anak “mendapatkan pendidikan”, sementara rumah menjadi tempat anak “dirawat”. Sekarang batas itu semakin kabur. Anak belajar di rumah. Anak belajar di sekolah. Anak belajar di pasar. Anak belajar dari petani. Dari pengelola sampah. Dari tetangga. Dari sungai. Dari internet. Dari kegagalan. Bahkan dari orang tuanya sendiri—yang kadang-kadang juga tidak tahu jawabannya.

Justru itu yang sehat. Orang tua tidak perlu selalu menjadi orang paling pintar di rumah. Sesekali boleh berkata: “Bapak, ibu  tidak tahu.” Kemudian bersama-sama mencari tahu. Ada sesuatu yang demokratis dalam kalimat itu. Anak melihat bahwa orang dewasa juga bisa tidak tahu. Tetapi tidak tahu bukan berarti berhenti. Tidak tahu adalah alasan untuk mencari.

Pendidikan yang Tidak Hanya Mengejar Nilai

Kita hidup di zaman ketika pendidikan mudah sekali diukur dengan angka. Nilai. Ranking. Rapor. Prestasi. Sertifikat. Sekolah favorit. Perguruan tinggi favorit. Kemudian pekerjaan. Kemudian penghasilan. Semua itu penting. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa dunia tidak membutuhkan kemampuan akademik dan keberhasilan ekonomi.

Tetapi kalau pendidikan hanya sampai di sana, ada sesuatu yang hilang. Anak mungkin pintar menghitung tetapi tidak tahu mengapa ia menghitung. Pintar menghafal tetapi tidak tahu apa gunanya. Pintar berargumentasi tetapi tidak bisa mendengarkan. Pintar menggunakan teknologi tetapi tidak tahu dampaknya bagi lingkungan. Pintar memenangkan persaingan tetapi tidak tahu bagaimana hidup bersama. Karena itu pendidikan kontekstual mempunyai pertanyaan yang lebih panjang: Pengetahuan ini akan digunakan untuk apa? Bermanfaat bagi siapa? Apa dampaknya bagi lingkungan? Apa yang berubah setelah saya belajar? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat pendidikan kembali berhubungan dengan kehidupan.

Orang Tua Tidak Harus Menjadi Guru

Ini salah satu kesimpulan penting dari workshop tersebut. Orang tua tidak harus menjadi guru di rumah. Tidak harus tahu semua hal. Tidak harus menguasai semua hal. Tidak harus menjadi ahli maggot, ahli kompos, ahli matematika, ahli biologi, ahli sejarah, sekaligus ahli psikologi anak. Wah, kalau begitu orang tua tidak akan sempat tidur. Peran orang tua barangkali lebih sederhana. Menemani. Mendengarkan. Bertanya. Menyediakan ruang. Membantu menghubungkan anak dengan sumber belajar. Menjaga agar proses berjalan. Dan ketika anak mengalami kebuntuan, tidak buru-buru mengambil alih. Sebab kadang-kadang anak memang perlu mengalami buntu. Dari kebuntuan itulah ia belajar mencari jalan. Tugas orang tua bukan selalu menunjukkan jalan. Kadang cukup duduk di sebelahnya sambil berkata: “Coba kita pikirkan bersama.” Kalimat itu sederhana. Tetapi bagi anak, bisa jadi  sangat berarti.

Menyamakan Langkah, Bukan Menyamakan Anak

Pada akhirnya, workshop ini bukan tentang bagaimana membuat semua anak belajar dengan cara yang sama. Justru sebaliknya. Anak-anak boleh berbeda. Ada yang cepat. Ada yang lambat. Ada yang senang bertanya. Ada yang lebih suka mengamati. Ada yang senang bicara. Ada yang baru berani bicara setelah lama diam. Ada yang sejak kecil sudah tahu ingin menjadi apa. Ada pula yang masih bingung sampai SMA.

Tidak apa-apa. Yang perlu diselaraskan bukan anak-anaknya. Yang perlu diselaraskan adalah langkah orang-orang dewasa yang mengelilingi mereka. Fasilitator perlu tahu apa yang sedang terjadi di rumah. Orang tua perlu memahami proses yang sedang dijalani anak di sekolah. Anak perlu tahu bahwa orang tua dan fasilitator tidak sedang berebut menjadi orang yang paling berkuasa atas dirinya. Mereka sedang bekerja bersama. Dan kerja bersama itu membutuhkan percakapan. Membutuhkan kesediaan mengakui kesalahan. Membutuhkan kesabaran. Membutuhkan waktu. Kadang juga membutuhkan kopi. Sebab pendidikan, sebagaimana kehidupan keluarga, rupanya tidak pernah benar-benar selesai dibicarakan.

Semester Baru, Meja Makan yang Sama

workshop ortu dan anak SMP kelas 8

Maka semester baru di SALAM sesungguhnya tidak hanya dimulai ketika anak masuk kelas. Ia bisa dimulai ketika pagi-pagi ibu menyiapkan sarapan. Ketika ayah bertanya, “Penelitianmu sudah sampai mana?” Anak menjawab, “Belum tahu.” Ibu dari dapur menyela, “Lho, kemarin katanya mau cari narasumber.” “Iya.” “Jadi?” “Belum ketemu.” Ayah mungkin mulai ingin memberi ceramah. Tetapi kemudian ingat workshop. Jangan mengambil alih. Maka ia bertanya lagi, “Kalau begitu, kira-kira langkah berikutnya apa?” Anak diam. Berpikir. Kemudian menjawab, “Mungkin aku coba tanya Pak RT.” Nah. Satu langkah. Kecil. Tetapi bergerak. Begitulah pendidikan yang sebenarnya. Bukan anak yang selalu tahu jawabannya. Bukan orang tua yang selalu tahu jalannya. Bukan fasilitator yang selalu mempunyai solusi. Melainkan tiga pihak yang bersedia berjalan bersama, berhenti kalau perlu, bertanya kalau bingung, memperbaiki kalau salah, dan melanjutkan lagi.

Di situlah rumah dan sekolah tidak lagi menjadi dua dunia yang terpisah. Rumah menjadi bagian dari sekolah. Sekolah menjadi bagian dari kehidupan. Dan kehidupan menjadi ruang belajar yang tidak pernah benar-benar tutup. Pada akhirnya, yang kita harapkan dari semester baru barangkali bukan anak-anak yang menghasilkan riset paling hebat. Bukan pula laporan yang paling rapi. Yang kita harapkan adalah anak yang makin mengenali dirinya, makin peka terhadap lingkungannya, berani bertanya, sanggup mencari jalan ketika buntu, dan pelan-pelan memahami bahwa pengetahuan mempunyai tanggung jawab sosial. Dan orang tua? Ya, orang tua juga belajar. Belajar bahwa anak bukan tanah kosong yang harus segera ditanami. Anak sudah membawa benihnya sendiri. Tugas kita barangkali bukan memaksa benih itu tumbuh menjadi pohon yang kita inginkan. Tugas kita adalah menyediakan tanah yang cukup baik, air yang cukup, cahaya yang cukup, dan sesekali menyingkirkan batu yang menghalangi.

Selebihnya? Ya, kita tunggu. Sambil ngopi. Sambil mengamati. Sambil sesekali bertanya, “Sudah tumbuh?” Dan anak mungkin menjawab, “Belum.” Tidak apa-apa. Besok kita lihat lagi. Sebab pendidikan memang bukan perlombaan lari seratus meter. Ia lebih mirip perjalanan keluarga yang panjang. Kadang ayah di depan. Kadang ibu. Kadang anak malah berlari jauh mendahului. Kadang semuanya berhenti karena sandal putus. Yang penting bukan siapa paling cepat. Yang penting: kita masih berjalan bersama.[]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *