Betapapun kami tahu bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara sedang tidak baik-baik saja, toh kemerdekaan tetap datang setiap tanggal 17 Agustus. Ia rupanya tidak membaca berita, tidak membuka media sosial, dan tidak ikut pusing melihat tingkah para pejabat.

Maka, 81 tahun Indonesia merdeka tetap kami peringati. Di Sanggar Anak Alam (SALAM), upacara kami selenggarakan secara sederhana. Tidak perlu terlalu banyak barisan, apalagi gaya-gayaan. Yang penting bendera naik, kita berdiri, lalu mencoba mengingat: sebenarnya kita sedang merdeka dari apa?

Sesudah upacara, kami menyelenggarakan kegiatan reflektif. Sebab kemerdekaan barangkali bukan hanya soal bebas dari penjajahan, tetapi juga belajar membebaskan diri dari kebiasaan merasa sudah merdeka—padahal pikiran masih sering dijajah oleh rasa takut, gengsi, dan kepatuhan yang tidak pernah diperiksa.

Jadi, tahun ini kami merayakan kemerdekaan dengan cara yang agak aneh: upacara untuk mengingat, refleksi untuk bertanya, dan sedikit humor agar kita tidak terlalu serius menghadapi negeri yang kadang-kadang memang bikin bingung.


pembelajar, pejalan sunyi
Leave a Reply