Hari itu ku tiba di Salam di tengah orang-orang yang menyiapkan dagangannya untuk Pasar Pangan. Aku tergabung di dalam tim dokumentasi, untuk menari dengan semburat cahaya di antara kerumunan yang bersenandung.

Dibekali Canon 650D sewaan yang layarnya tak bisa ditutup rapat, aku mencoba menangkap kalimantang¹ yang berpencar membawa sejarah. Ada yang bingung menata barang-barangnya, ada yang nampak serius memikirkan suatu hal, ada juga yang tengah masyuk bercerita bersama lagu yang diputar dengan suara yang menusuk nan riang. Selama sehari itu aku pun sibuk berkelana dari satu cahaya ke cahaya yang lain. Bersama kawan-kawan yang lain, aku pun sempat mencoba beberapa lensa, terutama lensa “putih” 70-200 milik Kay.
Hari itu diakhiri dengan menyetorkan file-file foto ke Rayyi untuk diolah, “Ahahah, cuma 120GB kok, aman banget.” Gurau kami sembari me-review beberapa foto.
Hari kedua dimulai dengan aku datang sedikit telat dari jadwal yang tertera. Akan tetapi, tentu saja, acaranya tetap dimulai lebih telat ketimbang kedatanganku. Sedikit terburu, aku dan Ahza bergegas menuju Pendopo Nitibudoyo tempat kirab wiwitan akan dimulai.
Pagi itu, aku, Ahza, dan Kay, absen dari perihal dokumentasi, karena kami bersama Alfred, kebagian jatah membawa gunungan. Petugas pembawa gunungan, bukan kami berempat saja. Gunungan itu dibawa 8 orang sekali jalan, 4 anak SMA, 4 anak SMP, dan warga sekitar. Bambu yang dipakai untuk mengangkat gunungan itu ternyata kurang panjang, untuk melangkah berdempetan pun menjadi sukar.
Gunungan itu ditempatkan di tengah barisan, dan kami mulai berjalan dari Pendopo Nitibudoyo, belok kiri, dan Salam sebagai tuju. Setelah melangkah sekian jauh, ada yang menggantikan mengangkat gunungan. Aku pun ikut tergantikan untuk sewaktu, sebelum kami berhenti di lapangan untuk istirahat sejenak.
Langkah demi langkah terlalui, beban di pundak pun menjadi lumrah di antara keringat yang mengucur membasahi jiwa. Di antara para penopang yang tangguh itu, beban penanggungan tak terbagi sama rata dan sama rasa, tak jauh karena terciptanya simfoni janggal perbedaan tinggi badan para penganutnya.
Istirahat usai, beberapa digantikan oleh mereka yang masih segar, dan barisan kirab terus melaju dengan konstan di antara polisi tidur setengah rusak di jalanan kampung itu. Setelah berjalan setengah rute lebih, tibalah kirab itu melewati pos kamling. Di sana aku tanggalkan jatahku sebagai penopang gunung. Tepat di situ jua, ku berjumpa dengan Daru, di mana ia segera menyerahkan kameraku kembali.
Aku tetap mengikuti kirab, namun untuk membawa arsip, alih-alih menopang beban gunungan yang terngiang di pundakku. Setelah berjalan hanya sejauh sedesa yang terasa seperti sewindu itu, barisan kirab akhirnya melewati Soto Pak W, dan tiba di depan pancingan. Barisan dihentikan, untuk tarian Dewi Sri yang dipentaskan di tengah aspal. Sophia, sebagai pemeran utama, bergerak meliuk seperti arunika² yang menari di antara teralis jendela.
Pertunjukan singkat itu teramat usai. Para pengendara yang menunggu di belakang tak sabar hendak melanjutkan kembara yang sempat tertangguh itu. Sebarisan kirab itu berkelana bersama selokan, lapangan salam sebagai tuju.
Sesampainya di lapangan, gunungan disisihkan di pinggir. Sambutan dan tari-tarian masih berlanjut, terutama itu adalah Tari Topeng Losari yang cukup menarik pandang khalayak pengunjung.
Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu, rayahan gunungan. Barisan bregodo memposisikan gunungan di tengah lapangan. Semuanya adalah riang. Setelah berbagai pertunjukan dan prosesi ini itu, pemimpin pasukan bregodo akhirnya memberi isyarat bahwa gunungan siap dirayah.
Ada yang berpacu tak sabar mencoba nasib dalam merayah. Ada yang langsung tertuju pada sebuah nanas bermahkota yang ada di ujung gunung. Ada yang berjalan santai di balik ombak pertama. Ada yang hanya terkesima menyaksikan segerombolan manusia memperebutkan dominansi sayuran.
Dan ada aku, yang berdiri di pinggir lapangan dengan 650D ku, “Di dalam Canon aku percaya,” gumamku. Keberuntunganku adalah kartu SDnya tidak error, lantas 5 FPS itu berkedip dengan tegas di antara cahaya yang menyela masuk.
Setelah riuh rayah mereda, lapangan menyisakan helai-helai sayur yang terinjak dengan tabah, tawa lapang para penonton, dan napas-napas lelah yang puas. Aku, masih dengan kameraku, melangkah di antara beberapa orang yang masih berseliweran, mencoba menyusun serpihan-serpihan momen yang tergeletak.
Di sela yang mulai mengendap, sego wiwit akhirnya dibagi, aku pun mendapat seporsi. Kusantap sego wiwit itu dengan lahap, tak peduli riuh apa yang mengitari.
Nasi yang dimasak dengan rukun, dan sayur yang dibumbui dengan sederhana, disajikan di atas piring yang terbuat dari daun pisang, dan disantap bak bayaran setelah dua hari menenteng kamera. Di tengah segala kesibukan manusia, terlihat hidup tetap bertumpu pada sesuatu yang amat sederhana, sebutir benih yang mau tumbuh, dari tanah, menjadi pangan, dan menjadi alasanku tetap berjalan.
Perut kenyang, kamera kembali ke tangan, aku beranjak berkeliling melihat senyum orang-orang riang yang amat masyuk menikmati hari itu. Di akhir hari kedua, kami kembali menyetorkan foto dan video kepada beliau Rayyi, terkumpul 200GB selama 2 hari.
Dari persiapan jualan di Pasar Pangan, sampai menyantap MBG sego wiwit, kita mengembara hidup tanpa penunjuk arah, menyuburkan mimpi dari benih yang ditanam sendiri. Kita memutari desa sampai ke lapangan Salam, dengan harapan hari-hari lapang ‘kan tertuju. Dan dari dalam rahim sampai ke liang kubur, manusia akan tersadar bahwa bumi selalu ada, dan bersama, mencipta dunia lebih indah.
Catatan:
¹Kalimantang: cahaya yang tampak sebagai jalur putih memanjang (KBBI)
²Arunika: (Skt) seberkas cahaya matahari setelah terbit di pagi hari. (KBBI)
Andaru Arya (kelas 11, Sanggar Anak Alam)
SALAM (Sanggar Anak Alam), Laboratorium Pendidikan Dasar, berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara.
Leave a Reply