Mencari Sekolahan untuk Anak

Siang itu, hari Jumat di bulan Juli tahun 2016 untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kawasan SALAM (Sanggar Anak Alam), Nitiprayan.

Kelompok Bermain SALAM, Foto, Butet

Gelisah tak karuan, serasa akan berjumpa dengan kekasih hati. Bagaimana tidak, SALAM sudah saya incar, sejak saya melahirkan anak kedua pada bulan Mei 2015. Dalam benak saya, niat memasukkan ke SALAM agar anak saya tumbuh menjadi anak yan mandiri, hebat dan anti mainstream, pokoknya jadi anak yang super.

Saya melakukan pengamatan melalui orang tua yang sudah bergabung di SALAM, yakni, Bu Dede, Mbak Erna, dan ada beberapa nama lagi.

Jawaban mereka kompak, selalu disertai undangan: Silakan dating saja, main ke SALAM. Saya tunggu.

Hari itu, keinginan tak terbendung untuk segera berkunjung ke SALAM, bertemu dengan Kepala Sekolah, Mas Yudhis dan Bu Eni. Mereka menjelaskan hal ikhwal SALAM dan apa ketentuan serta apa yang penting harus disepakati dan dipenuhi, salah satunya yaitu bersedia menyediakan makanan yang bebas pemanis buatan, pewarna buatan . Rupanya hari Jumat itu adalah hari terakhir pengembalian formulir. Tahun ajaran baru akan dimulai di hari Senin. Melihat anak yang langsung bertingkah seolah sudah kenal lama dengan lingkungan SALAM, saya segera menandatangani formulir yang disediakan. Bu Eni berkata, “ Bawa dulu saja Mbak, besok dikembalikan saat masuk tidak apa-apa, tidak usah terburu.”  Love at the first sight ya? Bisa jadi.

Berlangsunglah kegiatan bermain di SALAM. Bangun pagi menjadi masalah besar. Meski begitu tetap bersemangat untuk datang menyusuri jalan setapak. Tiga minggu pertama penulis belajar kecewa. Bukan kecewa pada SALAM, melainkan kecewa pada kenyataan bahwa anak saya amat sulit bersosialisasi. Nyaman dengan lingkungan, tapi sulit percaya pada fasilitator dan orang lain selain ibunya. Tiga bulan berlalu, rasanya ingin menyerah, menunggui anak tidak dilakukan dari luar Ruangan. Tapi harus duduk bersama di dalam Ruang Semar.

Sementara ibu-ibu lain sudah “bebas” duduk di bangku yang disediakan untuk para pendamping anak yang belum sepakat untuk bersekolah sendiri.

Fasilitator menangkap kekecewaan saya yang sangat besar pada anaknya.

Dalam suatu forum rutin, salah satu fasilitator Kelompok Bermain, Bu Ani berkata sambil melirik kearah saya, “Saya dulu juga begitu, keras, saklek terhadap kemajuan perkembangan anak saya, saya menuntutnya harus bisa mencapai target sesuai kemauan saya, sekarang saya sudah tobat, berubah, dan kita semua bisa juga harus berubah, lingkungan SALAM membuat saya menjadi saya yang sekarang.”

Kalimat tadi saya rekam. Saking benarnya dan hari ini sudah menjadi kenyataan. Pertumbuhan yang terjadi, bukan hanya pada anak saya, Angger kini tumbuh menjadi anak yang lebih berani, masih bangun sangat siang, tapi ia bertumbuh. Demikian juga saya sebagai ibu yang mengasuh dalam lingkungan yang berorienasi akademik, saya sebelumnya berusaha mengunggulkan anaknya dengan cara yang keliru. Memaksa untuk menjadi anak yang hebat,super,  tidak mainstream.

Nyatanya, jika dipikir-pikir, anti mainstream yang tidak dibuat buat itu sesungguhnya memerdekakan kepribadian manusia. Dan itulah SALAM, sekolah keluarga yang membebaskan setiap individu mencapai pencapaian terbaiknya dengan cara yang wajar dan biasa saja.

Hampir dua tahun keluarga kami tumbuh bersama dengan SALAM. Ini bukan iklan overklaim produk MLM. Ini kisah tentang SALAM yang saya alami dan terusmenerus dihayati. Apa kisahmu? Temukan sendiri, bisa jadi di SALAM. Bisa jadi di tempat lain yang wajar, manusiawi dan biasa saja. []