Sunyi Kopra di Pulau Kei

Kejadian di Amerika Serikat dahulu kala, kembali terulang, minyak kelapa dituding penyebab meningkatnya serangan jantung. Saat itu didasari pendapat minyak kelapa adalah lemak jenuh berbahaya.

Dimotori National Heart Saver Association berupaya menghancurkan minyak  minyak kelapa.

Artikel yang dipublikasikan NHSA dimedia nasional Amerika berjudul ‘The Poisoning of America’ menyentak publik dan membuat pemerintah mengeluarkan aturan larangan penggunaan minyak kelapa.

Gerakan ini bisa ditebak bermotif ekonomi apalagi dengan keterlibatan ASA (American Soybean Association). Polanya pun sama bertema jantung kini oleh American Hearth Association (AHA).

Di Amerika Serikat import minyak kelapa telah dikenai pajak 3% sejak 1934. Menurut USDA ini dilakukan untuk memproteksi industri minyak sayur dalam negeri.

Memang benar minyak kelapa adalah lemak jenuh, namun yang tidak dipahami adalah minyak kelapa merupakan asam lemak rantai sedang (medium chain fatty acid) ditubuh mudah terurai sehingga tidak menumpuk atau jadi plak dalam pembuluh darah. Berbeda dengan lemak jenuh berantai panjang pada dilemak hewani—Pendapat bahwa minyak kelapa menyehatkan telah dikemukakan beberapa ahli pangan, gizi dan kesehatan. Marry G. Enig, PhD mengatakan kadungan asam laurat minyak kelapa dalam tubuh diubah menjadi monolaurin zat anti bakteri atau anti virus.

Dokter Condrado Dayrit dari Filipina bahkan mengemukakan bahwa minyak kelapa dapat meningkatkan imunitas, mengontrol kadar gula darah, tekanan darah tinggi dan menjauhkan kita dari serangan jantung.

Dr. Mehmet Oz praktisi kesehatan popular di Amerika Serikat juga menyebut minyak kelapa mengandung anti oksidan dan menghambat penuaan sel.

Pendapat para ahli tentang manfaat kesehatan minyak kelapa di atas didokumentasikan oleh Muhartoyo dari APCC. Muhartoyo mengatakan bahwa jangan-jangan Ashley May, penulis artikel ‘Coconut oil isn’t healthy.

It’s never been healthy’ yang dipublikasikan dua hari lalu di www.usatoday.com (16/6/2017) tidak memahami apa itu lemak jenuh.

Praktisi diet keto Annas Ahmad asal Jakarta juga mengatakan bahwa konsumsi minyak kelapa malah dapat menurunkan berat badan dan membuatnya merasa lebih bugar. ‘Berat badan saya turun 15 kilogram dalam 5 bulan sejak memulai rutin mengkonsumsi minyak kelapa’.

Kampanye negative ini memang aneh, terjadi disaat pasar kelapa global mulai bangkit dan bersamaan dengan serangan gencar terhadap minyak kelapa—Dampak kampanye negatif tahun 80an masih terasa kini, sektor kelapa kita hancur, petani kelapa yang sempat berjaya jadi miskin, kebun terbengkalai dan luasnya terus berkurang. Industri pengolah kelapa banyak bangkrut.

Mungkin Anda memiliki anggapan bahwa dengan mengkonsumsi produk atau olahan dari minyak kelapa dapat membuat kesehatan kita memburuk. Banyak sekali yang beranggapan, mungkin karena beberapa informasi yang di serat tidak di manfaatkan dengan baik.

Tidak sedikit orang beranggapan bahwa mengkonsumsi minyak kelapa dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, baik minyak kelapa karena bahan untuk menggoreng gorengan atau juga minyak kelapa yang digunakan untuk bahan makanan seperti penggunaan santan.

Apakah benar minyak kelapa yang kita konsumsi sebagai penyebab kolesterol dan penyakit jantung, masih ingetkan anda pada saat dahulu guru kimia atau guru biologi pada saat sekolah seringkali menerangkan bahwa asam lemak jenus selalu dijadikan sebagai simber kolesterol yang menyebabkan penyakit – penyait berat.

Penyakit berat tersebu seperti halnya penyakit jantung koroner yaitu salah satu contohnya. Jika kita tidak menghindari minyak kelapa telah dengan sengaja dapat dituduh terhadap suatu pandangan yang keliru.

Minyak kelapa merupakan bahan konsumsi yang sangat luar biasa. Di dalam tubuh asam lemak jenuh langsung dapat diubah menjadi sebuah energi pada tubuh, bukan lemak. Oleh karena itu, dengan mengkonsumsi minyak kelapa tidak akan menyebabkan masalah kegemukan atau obesitas yang terjadi adalah sebaliknya, serta tidak akan membuat jantung kita menjadi tidak sehat, justru juga sebaliknya akan membuat jantung kita terasa sehat sepanjang hari.

Minyak kelapa akan mendorong peningkatan kolesterol baik (HDL) yang akan berperan sebagai pelindung jantung kita. Bahkan, orang Asia dan Polinesia menyebutkan minyak kelapa sebagai minyak kehidupan.

Minyak kelapa murni dapat menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah karena adanya hubungan penyakit jantung dan pembuluh darah serta infeksi virus atau bakteri yang akan menyebabkan pembentukan plak di pembuluh darah.

Kenapa harus memilih minyak kelapa murni, hal tersebut karena bersifat antibakteri atau virus oleh sebab itu dapat membantu mencegah pembentukan plak dengan cara membunuh mikroorganisme pencentus dari timbulnya plak. Selain itu juga salah satu dari penyebab penyakit jantung adalah karena kadar kolesterol darah yang tinggi.

Hal tersebut sudah banyak yang menggunakannya dan selain itu juga dengan mengkonsumsi secara rutin minyak kelapa murni juga dapat mencegah terjadinya pengentalan darah akibat dari agregasi trombosit dan dapat mencegah terjadinya penyempitan pembuluh data atau aterosklerosis.

Mulai saat ini jangan ragu untuk mengkonsumsi minyak kelapa murni, karena tidak akan mebuat jantung kita menjadi tidak sehat, justru akan membuat jantung kita menjadi lebih sehat.

1963 – 1965, USA—Negara Adidaya ini terus mempropaganda minyak kelapa sebagai minyak jahat. Procter dan Gambler menyarankan American Heart Association untuk menghindari minyak kelapa dari daftar diet

1984, National Cholestrol Education Program mengeluarkan pernyataan, “Minyak kelapa harus dihindari.” Kampanye terus berlanjut sampai 3 Juni 1987. Koran The New York Times yang berpengaruh membuat editorial:minyak kelapa diimpor dari Indonesia dan Malaysia memang murah, tapi menyebabkan pembuluh darah.

1987 publikasi terus berlanjut. Kini giliran American Soybean Association yang berkampanye anti minyak tropis seperti minyak kelapa. Lembaga itu mendesak agar Food and Drugs Association untuk memberi label “Minyak Tropis” di setiap kemasan minyak kelapa.

1989 American Soybean Association menyelenggarakan konfrensi pers di ibukota Washington DC. Lembaga itu mengutip pernyataan Institut Jantung, Paru-paru, dan Darah Nasional serta Badan Riset Nasional. “Konsumen harus menghindari minyak kelapa, minyak kernel kelapa, dan kelapa.”

1990 riset oleh Mendis dan Kumarasunderam tentang minyak kelapa dan minyak kedelai. Kesimpulannya:minyak kelapa memicu tingginya kolesterol jahat. Sedang minyak kedelai justru menurunkan kadar lipo protein yang tak perlu.

1992 Kaunitz dan Dayrit menemukan data empiris yang fenomenal. Mereka mengamati masyarakat yang mengkonsumsi minyak kelapa. Ternyata minyak kelapa bukan penyebab penyakit jantung dan penyakit kematian. Ini sesuai dengan hasil riset oleh Dr Dan Erington, ahli ekonomi pertanian Universitas Australia. Masyarakat Tuvalu di Pasifik yang menjadi obyek riset.

1995 hasil riset oleh Dr. Mary G Enig, ahli biokimia dan nutrisi, virgin coconut oil oleh tubuh diubah menjadi monolaurin. Asam lemak itu dikenal antivirus yang bermanfaat dalam penyembuhan Acquired Immuno Deficiency syndrome (AIDS). Hasil riset itu juga diterbitkan oleh Hindu, Koran nasional yang terbit di India. Negeri anak benua itu salah satu produsen kelapa terbesar di dunia.

1999 tepatnya 17 April di Hote, Renaisans Washington berlangsung konferensi pers. VCO mengandung asam lemak sebagai sumber energi dan antimikroba. Sekitar 50% asam lemak dalam VCO merupakan asam laurat. Dalam tubuh asam itu diubah menjadi monolaurin yang berfaedah sebagai antivirus, antibakteri, dan antiprotozoa. Dengan begitu ia potensial untuk mengobati beragam penyakit dari influenza hingga AIDS.

2002 istilah virgin coconut oil belum popular, di Indonesia berdiri sebuah perusahaan yang memproduksi VCO. Dengan mesin mutakhir, perusahaan it uterus memproduksi minyak murni untuk memasok pasar Jerman. Ekspor di tempuh melalui Singapura dengan label minyak kelapa.

2004 Dr Bambang Setiaji dari Universitas Gadjah Mada mempopulerkan istiah virgin coconut oil di Indonesia melalui pameran dan publikasi. Pada penghujung tahun 2004 komoditas itu banyak ditawarkan sebagai obat meski belum melewti serangkaian uji ilmiah. Toh secara empiris banyak penderita penyakit berat seperti jantung koroner, diabetes mellitus dan hipertensi yang sembuh antara lain erkat VCO.

2005 di seluruh tanah air bermunculan produsen minyak dara. Sitem dan cara kerja beragam seperti dengan teknologi sentrifugal, enzimatis, teknologi dingin, dan mekanisasi canggih. Selain pasar local, pasar luar pun di pasok VCO

Maret 2015, National Geographip menurunkan tulisan:

Minyak kelapa sangat bermanfaat untuk mengurangi kadar kolestrol dan memberikan banyak manfaat lain untuk tubuh, studi membuktikan.

Dr. Walter C. Willett dari Harvard School of Public Health mengatakan: “Selama ini kebanyakan penelitian tentang minyak kelapa adalah efeknya terhadap kadar kolestrol dalam tubuh.”

“Kami tidak mengetahui secara pasti bagaimana minyak kelapa dapat menyebabkan kolestrol hingga penyakit jantung, pun dengan penelitian bahwa minyak kelapa tidak sesehat minyak sayur lain seperti minyak zaitun dan minyak kedelai yang mengandung banyak lemak jenuh penyebab LDL (low-density lipoprotein) atau yang lebih dikenal sebagai lemak/kolestrol jahat, dan juga HDL (high density lipoprotein) atau lemak baik,” tambahnya.

Kandungan minyak kelapa yang dapat meningkatkan HDL menjadi keunggulan minyak ini dibanding jenis minyak lain.

Dr.Thomas Brenan, profesor ilmu nutrisi di Cornell University telah menemukan mengapa minyak kelapa selama ini dianggap buruk.

“Kebanyakan penelitian minyak kelapa sebelumnya dilakukan dengan minyak kelapa berhidrogen karena para peneliti ingin membuktikan peningkatan kolestrol yang diujicoba pada tubuh kelinci sebagai upaya pengumpulan data. Minyak kelapa murni, yakni yang belum diberikan atau dicampur dengan beberapa zat kimia lain, bukan sebuah ancaman bagi kesehatan tubuh manusia.”

Dalam makanan terkandung tiga jenis lemak yang berbeda, yakni:

Lemak Jenuh

Makanan yang berasal dari hewan dan beberapa tumbuhan mengandung lemak jenuh. Makanan yang berasal dari hewan, daging dan produk olahan susu. Makanan yang berasal dari tumbuhan yang mengandung lemak jenuh, termasuk diantaranya adalah minyak kelapa, minyak kelapa sawit, dan mentega coklat. Lemak jenuh nantinya akan menghasilkan kolestrol baik dan kolestrol jahat.

Lemak Tak Jenuh

Lemak  tak jenuh jamak (polyunsaturated fat) dan lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fat) merupakan dua jenis lemak tak jenuh yang ditemukan dalam ikan, kacang-kacangan, biji-bijian, bibit dan beberapa minyak dari tanaman. Contoh makanan yang mengandung lemak tak jenuh adalah: ikan salmon, jenis ikan trout (ikan yang tumbuh di air tawar), alpukat, zaitun, kenari, dan jenis minyak sayur lain seperti kacang kedelai, jagung, kanola, dan bunga matahari.

Penelitian membuktikan bahwa makan makanan yang mengandung banyak lemak tidak jenuh dapat mengurangi LDL (kolestrol jahat) dan meningkatkan kadar HDL (kolestrol baik).

Lemak Trans

Lemak trans dihasilkan dengan menambahkan hidrogen ke dalam minyak sayuran melalui proses yang dinamakan hidrogenasi.

Menambahkan lemak trans ke dalam makanan dapat membuat kesegarannya bertahan lama, awet dalam suhu ruangan, dan membuat makanan tidak terasa berminyak. (Sumber: Live Science)

Tanaman Kelapa di Maluku

Kondisi tanaman kelapa di Maluku saat ini sebagian sudah tua karena umur tanaman serta sebagian yang rusak, sehingga mengganggu produktivitas tanaman Kelapa.

Jika dilihat dari produksi tanaman kelapa yang ada saat ini buahnya bisa dijual langsung di pasar dengan harga perbuah cukup meningkat, bisa diolah menjadi minyak kelapa dan atau bisa dijadikan kopra.

Kopra kalau diasapi biasa kualitasnya hitam namun jika dipakai mesin pengasapan kualitasnya berwarna putih, sehingga ada perbedaan pada harga. Untuk kopra hitam harganya rendah sedangkan kopra putih harganya meningkat karena kualitas dan mutu kopra tersebut.

Selama ini petani kelapa selalu mengeluh dan rugi karena harga kopra yang tidak menentu.

Itu cerita perjalanan saya sekitar tahun 90-an sampai ke ujung Maluku di Tual, sambil menengok kawan saya Roem Topatimasang yang untuk sementara waktu tinggal di situ, saya hanya ingin menunjukkan bahwa sebuah kebijakan nun jauh di sana, yang senyatanya “Perang Dagang” dan urusan dominasi pemilik modal dan negara raksasa, mampu mempengaruhi bahkan memporak porandakan para petani di belantara dunia. sepulang dari Tual, sampai di Yogya saya membagi cerita dengan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). ***

Tanaman Kelapa di Maluku kala itu

Sunyi Kopra di Pulau Kei

 SEJAK dulu di tempat kami tanaman kelapa sudah menjadi tanaman perdagangan utama rakyat. Namun anehnya, saat ini justru sangat berkurang perhatian orang terhadap peremajaan tanaman kelapa, sehingga lama-lama produksi kopra menurun. Saya heran. Semula saya menyangka para petani kopra ini pemalas, tetapi kemudian saya ketahui tidak…,” tulis seorang sahabat dari Pulau Kei, Maluku, yang kemudian menuturkan hasil riset kecil-kecilan yang dilakukannya terhadap alasan sikap para petani di sana.

Kata “kopra” membuat saya terasing. Saya kenal kata itu terutama ketika belajar Ilmu Bumi di Sekolah Dasar. Selebihnya saya “buta huruf”. Apa itu kopra? Kalau kopral saya lebih kenal dan terkadang berurusan. Kalau keproh itu kea- daan badan hasil mandi setahun sekali pada awal Suro. Kalau koprol itu kebiasaan saya sejak kecil sebagai olahragawan, juga ketika rakyat dilatih perang menjelang revolusi ‘65 dan saya ikut latihan tiarap dan teknik koprol.

Akan tetapi, mungkin kita bisa bicara dulu tentang “rakyat malas”.

Saya punya teman penyair yang langsung naik pitam kalau mendengar atau membaca tulisan yang menuduh rakyat kita malas. Terutama orang Jawa: itu yang paling sering dituduh malas. Utamanya lagi Jawa Tengah. Kerja memperbaiki jalan, datang pukul sepuluh pagi, kerja lamban beberapa jam, diselingi duduk berjongkok sambil merokok baas buus, meskipun kalau ditanya ternyata punya enam anak.

Para kaum progresif yang mendambakan efektivitas dan percepatan tinggi pembangunan selalu getol menuduh rakyat malas. Golongan intelektual juga memberi stabilo untuk menegaskan penilaian tentang kemalasan rakyat. Pokoknya, rakyat itu—di mata pendekar-pendekar modernisme—tampak malas, bodoh, statis, naif, dan tidak potensial terhadap kemajuan dan lepas landas.

Maka, televisi mengajari cara bercocok tanam atau mengurus apotek hidup. Pokoknya, ahli pertanian mengajari petani. Dan, koran-koran juga kalau membutuhkan pendapat tentang pertanian, tidak pernah mewawancarai petani karena hanya percaya kepada pakar pertanian. Kasihan rakyat, tubuh penuh lumpur, keringat terperas selaut, ratusan tahun lamanya, tidak pernah dianggap sebagai subjek pertanian. Pendek kata, dalam alam modernisasi ini rakyat tidak dipercayai, dianggap bodoh, tidak mampu, lemah, malas, dan sebagainya.

“Siapa omong bahwa rakyat kita malas?” penyair saya itu berang. “Sejak pukul satu lewat tengah malam, ibu-ibu di Srandakan, Bantul, sudah menyiapkan dagangannya yang kemudian mereka panggul di punggung lalu jalan kaki dua puluh kilometer ke Pasar Kota Yogya, berjualan sampai jauh siang untuk memperoleh seribu-dua ribu rupiah. Orang-orang perkasa semacam ini dituduh malas oleh orang-orang yang kerjanya duduk di kursi menghadapi meja, memangku sekretaris, dan mengetik satu jam dalam sehari dan memperoleh ratusan juta rupiah…”

Tentu saja saya yang bagian ngerem-erem hatinya.

Ya, pokoknya manusia itu ada yang rajin, ada yang malas. Kalau yang terjadi adalah gejala kemalasan sosiologis, barangkali ada mekanisme atau pola sistem yang menjadi sumbernya. Para penyembuh korban narkotika di pesantren lama-lama bisa malas menangani pasien-pasiennya dari kota dan menggerutu, “Mereka merusak generasi muda, kita yang harus menyembuhkannya, sambil mereka menuding-nuding bahwa kita ini orang tradisional, orang kuno, tidak modern!”

Kaum petani kopra di Pulau Kei, Maluku, juga menjadi malas meremajakan usaha ekonomi kopranya karena suatu alasan yang berasal dari sistem makro, ketika lokus kegiatan ekonomi mereka hanya terletak sebagai pelengkap penderita.

Sahabat kita itu mendapatkan jawabannya dari sejumlah petani: “Untuk apa saya meremajakan kelapa kalau hanya akan merugi? Mekanisme pasaran kopra tidak menentu dan selalu cenderung merugikan petani. Untuk menanam kelapa butuh waktu sangat lama, perawatannya makan biaya. Jadi, untuk apa kami bengong menunggu saat-saat rugi? Jadi, lebih baik kami menanam jenis tanaman lain yang mungkin menguntungkan, sementara tenaga kami bisa juga dihemat untuk mengerjakan usaha-usaha sampingan yang lain…”

Tidak usah menjadi sarjana ekonomi untuk memiliki kesanggupan mengantisipasi komoditas apa yang sebenarnya nanti menguntungkan. Secara alamiah mereka juga mengerti bahwa semestinya mereka bertanya kepada Badan Tata Niaga Kopra yang seharusnya berkewajiban melindungi para petani. Sederhana saja: petani itu rakyat, rakyat itu pemegang kewenangan tertinggi atas Tanah Air, sehingga kepada kepentingan merekalah segala langkah pembangunan ini sepantasnya diarahkan.

Akan tetapi, sudahkah, atau akankah, badan tata niaga yang terdiri atas unsur pemerintah dan asosiasi pengusaha kopra itu mengorientasikan diri kepada kaum petani?

Saudara-Saudara, inilah jenis pertanyaan naif seorang manusia agraris bodoh macam saya kepada manusia-manusia modern kapitalis yang tidak bodoh dalam menyerap dan mengisap

apa saja untuk keuntungan primordial dagangnya. “Kepintaran manusia adalah kebodohan dalam memproses diri menjadi manusia.”

Akan tetapi, kebodohan petani kopra adalah apabila mereka menanam kopra. Berbeda dengan sarjana pertanian yang tidak akan bercocok tanam, melainkan menjadi raja-raja atau punggawa dari kaveling-kaveling kerajaan pertanian tempat petani menjadi kawula.

Petani adalah objek pertanian, pakar pertanian adalah subjek utama pertanian, meskipun mereka tidak bisa membedakan antara nangka dan cempedak. Sarjana pertanian adalah aktor utama urusan pertanian, meskipun tangan mereka belum pernah memegang ani-ani atau sabit.

Sudahkah badan atau lembaga kopra itu mewakili suara petani? Adakah kepentingan petani hadir sebagai bagian dari negosiasi tatkala harga dan mekanisme pasar kopra ditentukan?

Akan tetapi, para petani kopra di Pulau Kei, Maluku, tidak bisa menunggu datangnya jawaban atas pertanyaan semacam itu baru kemudian makan siang bersama sanak familinya. Sekarang juga mereka harus makan, beli sabun cuci, dan membersihkan WC. Tak bisa menunggu hasil perjuangan nasional. Maka, mereka harus kerja keras sekarang juga: berangkat kerja ke ladang dari pukul enam pagi hingga senja menjelang. Supaya, dalam seminar-seminar nasional dan internasional mereka dituduh bodoh dan pemalas. Sementara, sebagian diberi kostum sebagai pemberontak atau anggota bekas partai terlarang—yakni ketika mereka melakukan hal kecil yang hukumnya agak “haram” secara politik, yakni “mempertanyakan kebijakan”.

Oleh: Emha Ainun Nadjib

Harian Surya, Senin 11 Januari 1993
Gelandangan di Kampung Sendiri (1995)