Blog

“Mendidik Anak-Anak untuk Tidak Bergantung”

Di sebuah pagi yang dingin di kaki Pegunungan Alborz, anak-anak berbaris menuju kelas. Kita bisa membayangkan bunyi sepatu mereka yang beradu dengan lantai semen—bunyi yang sederhana, hampir sepele. Tapi dari bunyi-bunyi kecil itu, sebuah bangsa sering memulai cerita besarnya.

Seorang penyair Polandia, Czesław Miłosz, pernah menulis bahwa sejarah tidak hanya terjadi dalam pertempuran atau pidato kenegaraan; sejarah juga hidup dalam kebiasaan sehari-hari yang diulang dengan sabar. Mungkin itu yang sedang berlangsung di sekolah-sekolah negeri Iran: sejarah yang tidak gaduh, tetapi tekun.

Di dinding kelas, foto seorang ilmuwan dan seorang ulama tergantung berdampingan. Bagi mata modern yang terbiasa dengan pemisahan yang tegas antara agama dan sains—warisan dari Pencerahan Eropa sejak René Descartes—pemandangan itu mungkin terasa janggal. Namun bagi masyarakat Iran, keduanya bukan musuh. Mereka adalah dua bahasa yang dipakai untuk menjawab satu pertanyaan yang sama: bagaimana manusia bisa bertahan.

Kita sering lupa bahwa pendidikan, dalam sejarah banyak bangsa, bukan sekadar alat mobilitas sosial. Ia adalah alat bertahan hidup. Jepang membangun sekolah modern setelah Restorasi Meiji; Korea Selatan mengubah universitas menjadi pabrik insinyur setelah Perang Korea. Iran melakukan hal yang sama setelah sebuah peristiwa yang mengguncang dunia: Revolusi Iran 1979.

Revolusi itu bukan hanya pergantian rezim. Ia adalah pengalaman keterasingan. Sanksi ekonomi, embargo teknologi, dan kecurigaan internasional menciptakan satu kesadaran kolektif: dunia bisa menutup pintu sewaktu-waktu. Dari situ lahir sebuah doktrin diam-diam—bahwa ketergantungan adalah kerentanan.

Maka pendidikan di Iran menjadi sesuatu yang lebih dari kurikulum. Ia menjadi semacam benteng. Seorang guru fisika menulis di papan tulis: Ilmu adalah bentuk lain dari kemerdekaan. Kalimat itu terdengar seperti slogan. Tapi dalam sejarah bangsa yang pernah merasa sendirian, slogan sering kali adalah ringkasan dari trauma.

Ahli sejarah Prancis, Fernand Braudel, pernah mengingatkan bahwa peradaban bergerak lambat, seperti arus laut yang tidak terlihat di permukaan. Jika kita mengikuti nasihatnya, kita akan melihat bahwa perubahan di Iran tidak terjadi dalam pidato presiden atau laporan statistik, melainkan dalam rutinitas: seorang mahasiswa yang membaca sebelum kelas, seorang ibu yang bangga karena anak perempuannya menjadi ilmuwan, seorang pelatih yang meniup peluit di lapangan sekolah.

Perempuan, misalnya. Di banyak negara Timur Tengah, pendidikan perempuan sering menjadi medan perdebatan ideologis. Namun di Iran, paradoks terjadi: negara yang dianggap konservatif justru menghasilkan jumlah mahasiswi sains yang tinggi. Ini bukan kebetulan. Ini adalah strategi.

Sosiolog Amerika, Immanuel Wallerstein, menyebut bahwa negara di pinggiran sistem dunia sering dipaksa mencari kekuatan internal ketika akses eksternal dibatasi. Dalam bahasa yang lebih sederhana: ketika pintu luar tertutup, rumah harus diperkuat dari dalam. Pendidikan perempuan menjadi salah satu cara memperluas tenaga intelektual nasional tanpa harus mengimpor manusia dari luar. Namun strategi selalu memiliki harga. Setiap keberhasilan membawa beban moral. Setiap kemajuan menuntut disiplin. Setiap kebebasan disertai kewajiban. Di lapangan sekolah, anak-anak berlari mengelilingi trek. Napas mereka membentuk kabut tipis di udara. Olahraga di sini bukan sekadar aktivitas fisik. Ia adalah latihan mental—latihan untuk menahan lelah, menunda kenyamanan, dan menerima batas.

Filsuf Yunani kuno, Aristotle, pernah menulis bahwa kebajikan adalah kebiasaan yang diulang. Bukan teori, bukan pidato, melainkan praktik yang dilakukan setiap hari. Dalam pengertian itu, pendidikan fisik di Iran adalah pelajaran etika yang disamarkan sebagai olahraga. Ada sesuatu yang menarik dalam cara bangsa ini memandang pengetahuan. Pengetahuan bukan sekadar alat untuk mendapatkan pekerjaan. Pengetahuan adalah alat untuk mempertahankan martabat.

Kata martabat sering terdengar abstrak. Tapi dalam politik internasional, martabat memiliki bentuk yang sangat konkret: kemampuan memproduksi teknologi sendiri, kemampuan merawat kesehatan sendiri, kemampuan memberi makan rakyat sendiri. Negara yang tidak memiliki kemampuan itu akan selalu menunggu bantuan—dan menunggu, dalam sejarah, sering berarti tunduk.

Karena itu, universitas di Iran mempercepat produksi doktor. Bukan karena gelar akademik memiliki nilai simbolik, tetapi karena gelar itu adalah tanda kemandirian teknologis. Kita bisa menyebut ini nasionalisme. Kita juga bisa menyebutnya ketakutan. Sejarawan Israel, Yuval Noah Harari, menulis bahwa identitas kolektif sering dibangun dari memori penderitaan. Bangsa Yahudi memiliki memori diaspora; bangsa Polandia memiliki memori penjajahan; bangsa Korea memiliki memori perang. Iran memiliki memori embargo. Trauma nasional tidak selalu berteriak. Kadang ia berbisik dalam kebijakan pendidikan. Kadang ia bersembunyi dalam jadwal sekolah.

Menjelang sore, lonceng berbunyi. Anak-anak keluar kelas dengan wajah lelah tetapi mata yang masih terang. Mereka membawa buku matematika, sepatu olahraga, dan mimpi yang belum sepenuhnya mereka pahami. Di halaman sekolah, mereka tampak biasa saja—anak-anak yang pulang setelah belajar. Tapi sebenarnya mereka sedang menjalankan sebuah proyek sejarah yang panjang: proyek untuk berdiri sendiri. Barangkali di situlah pelajaran yang paling sunyi dari Iran. Bahwa kedaulatan tidak selalu dimulai dari senjata. Ia sering dimulai dari ruang kelas. Dari buku yang dibuka sebelum pelajaran dimulai. Dari keyakinan sederhana—bahwa ilmu, pada akhirnya, adalah bentuk lain dari kemerdekaan.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *