Mengapa Gerakan Tidak Masuk Sekolah Tumbuh Pesat?

Membebaskan anak di rumah untuk menentukan sendiri proses belajar, kini tengah marak, dan menarik untuk dipelajari.

Hari minggu di pelosok kota New Hampshire, keempat anak Dayne dan  Joe Martin berada di rumah, Devin 16 tahun, memukul dengan palu sebuah besi di bengkel pandai besi yang dibangun dia dan ayahnya di halaman belakang. Tiffani 14, memutar dengan cekatan menaiki skateboard, menghindari meja dan lemari di ruang keluarga. Ivi 10 tahun dan Orion 7 tahun, duduk bersebelahan menggunakan dua computer keluarga sedang asyik bermain minecraft.

Pemandangan seperti itu terlihat seperti liburan sekolah diakhir minggu. Namun hal seperti itu tidak berlaku bagi anak anak Martin. Lebih tepatnya kejadian, suasana seperti itu hanya bisa didapatkan bagi ank-anak yang memilih proses belajar bebas di rumah (unschooling), yakni proses belajar yang mengajak anak untuk mengikuti ketertarikan mereka sendiri, tanpa gangguan, beban sekolah serta kurikulum pendidikan serta tetek bengek lainnya. Pilihan tersebut merupakan cara paling baik bagi mereka yang ingin belajar dan tumbuh secara alamiah.

“Saya bahkan tidak tahu kelas/tingkatan di sekolah itu apa”, kata Orion, yang tidak pernah pergi ke sekolah seharipun, tidak pernah mengikuti alur perencanaan belajar, dan tidak pernah mengikuti ujian. Karena, kata ibunya, “ujian dapat dikategorikan sebagai penghinaan untuk anak-anak, ujian merupakan sebuah invasi dari pemikiran. Orang-orang benar-benar dicuci otaknya dalam melihat bentuk sekolah, hidup ini tidak dipecah belah menjadi seperti mata pelajaran. Mustinya hidup ini justru untuk membangun kemerdekaan. Hal ini berhubungan dengan mempercayai anak-anak Anda, karena yang mereka lakukan sungguh sangatlah menakjubkan, pernyataan Bu Martin.

Tarik Tali
Tarik Tali

Membiarkan anak-anak mengikuti ketertarikan mereka, janganlah merasa kuatir, anak-anak itu pasti akan belajar pada semua hal, sejak dari sejarah dan budi pekerti sampai memupuk kemampuan berdagang, juga dengan sendirinya akan berurusan dengan kalkulasi, matematika. Tetapi apa yang mereka pelajari tidak menjadi perhatiannya, jangan terlalu peduli jika anaknya baru bisa membaca setelah umur 8 tahun. Dia percaya bahwa anaknya akan bisa membaca saat dia sudah siap membaca. Peran orang tua bukan menjadi guru apalagi semacam hakim bagi anak-anaknya, tetapi sebagai fasilitator dan bahkan partner dalam membantu anak-anaknya mengikuti kegemaran, passion serta gairah sendiri.

Martin yang pertama mengakui bahwa pendekatan keluarganya dalam membesarkan anak mungkin akan terlihat aneh bagi kebanyakan keluarga. Sejak awal harus disadari bahwa memilih tidak mainstream suatu waktu akan merasa kesepian, terputus dari keluarga yang aktif berpusar di lingkungan sekolah,  maupun dari para homeschooling yang konvensional. Tetapi, belum lama ini dia baru menyadari sesuatu bahwa: dia dan keluarganya   justru jauh lebih dekat daripada sebelumnya.

Dalam dekade akhir-akhir ini, jumlah anak-anak yang berhomeschooling meningkat  tajam, bersamaan dengan jumlah keluarga yang berpatisipasi dalam bentuk “unschooling. Menurut National Center for Education Statistics jumlah anak-anak yang belajar di rumah melonjak dari lebih satu juta pada tahun 2003 mejadi 1,7 juta pada tahun 2012. Tetapi karena tidak ada catatatan resmi dari anak-anak homeschooling, dan banyak juga dari mereka terhitung menyesuaikan dengan system sekolah umum/formal, banyak peneliti yakin jumlah sebenarnya ada sekitar 2 – 3 juta, bahkan bisa lebih tinggi. Karena menurut US Department and Education memperkirakan 2,3 juta anak terdaftar pada anggaran dasar sekolah pada 2012-2013.

Sementara itu, walaupun data yang kurang lengkap, beberapa penelitian menemukan bahwa 50 persent anak homeschooling menganut beberapa variasi unschooling – sebuah kategori yang mungkin berjarak dari pemikiran ekstrim. Misalnya Martin melakukan pendekatan seperti orang tua lainnya yang menggabungkan banyak gagasan tentang proses belajar mandiri, menentukan dan merencanakan serta melakukan proses belajar  secara mandiri tetapi masih menentukan batasan dan tujuan untuk proses pendidikan anak-anaknya.

Bangkitnya unshooling bersamaan dengan meningkatnya ketidakpuasaan para orangtua di Amerika terhadap system pendidikan umum di negaranya yang lebih memfokuskan pada ujian dan standarisasi. Juga perkembangan mengikuti meningkatnya filosofi pendidikan alternatif, seperti Montessori atau teori Reggio Emilia yang popular, keduanya berdasarkan gagasan bahwa anak-anak sebagai keseluruhan, makhluk ingin tahu bahwa dalam proses pendidikan memerlukan bimbingan agar lahir ketertarikan alami dan mampu mengenali kecenderungan diri mereka sendiri. Dalam perkembangannya unschooling justru menggambarkan sesuatu yang lebih. Walaupun unschooling juga masih dianggap sebagai kehidupan yang aneh, melawan kultur kebiasaan. Namun para ahli justru mengakui dan menyatakan bahwa sekarang unschooling membuka jalan dalam mengubah cara pandang, nilai-nilai mainstream dalam urusan kepengasuhan anak, institusi dan individualitas, dan merupakan jalan terbaik untuk mencapai the American dream, ”mimpi Amerika”.

Menanam Padi
Menanam Padi

Menurut Michael Apple, seorang professor di Universitas Wisconsin-Madison, membuka jalan pada tumbuhnya gerakan kepekaan nasional yang menciptakan rasa aman dan bertanggung jawab, maka sudah selayaknya seluruh kelompok masyarakat, institusi formal maupun swasta yang kedudukannya lebih baik dari sekolah Negri yang terkadang bisa menimbulkan persaingan. Walaupun banyak yang mengkritik unschooling, karena dengan dalih mereka khawatir akan filosofi pendidikan dibalik itu,   mereka yang khawatir tentang hal itu menggambarkan kultur narsistik yang gila dengan pemenuhan diri, mereka yang melihat hal itu menambah segmentasi gangguan dari masyarakat Amerika-hal ini dapat dilihat dari fenomena meningkatnya penerimaan sebagai pilihan pendidikan yang bisa berjalan terus menerus bagi semua orang sejak dari perkumpulan soccer ibu ibu dan urban hipster sampai evangelicals pedalaman dan suburbanite. Saya melihat pergeseran jenis orang yang menghubungi saya, kata Martin. “Saya mendapat telpon dari dokter, pengacara. Saya sudah berbicara dengan pemain rugby professional, dan orang dengan penghasilan rendah yang hidup di trailers. Ini bukanlan cabang kebudayaan yang kecil. Ini adalah pergerakan”.

Gagasan tentang unschooling sebenarnya tidaklah baru. Penulis Massachusetts dan John holt menciptakan istilah tersebut pada tahun 1970-an sebagai sebuah pertunjukan pada kampanye iklan popular 7-up Uncola. Holt percaya bahwa anak-anak belajar paling baik saat diberikan waktu dan kesempatan untuk mengikutiketertarikan mereka di luar sekolah, yang dia lihat sebagai institusi seperti penjara yang berjalan utuk menghentikan keingintahuan dan menghasilkan kekuatan untuk menggerakkan  industri yang homogen.

Sebagai alternative, dia menyarankan para orang tua untuk mundur dan membiarkan anaknya memilih apa yang ingin mereka pelajari. Hal ini berarti akan ada anak yang mungkin tidak pernah belajar Aljabar, dan dia percaya akan baik-baik saja; anak-anak tersebut mungkin menemukan ketertarikan mereka pada seni dan memasak. Anak lain mungkin senang dengan matematika, atau biologi marine, atau arsitektur, pertanian. Walaupun para unschooling mengikuti ajaran Holt secara berbeda tingkatan kesetiaan, mereka berbagi ide tentang membiarkan anaknya mengambil peran sentral dalam menata kehidupannya. Mereka biasanya bangun secara alami, hari yang tidak terstruktur, dan mempelajari/menggali topik yang telah mereka pilih. Orangtua hanya berperan sebagai pemandu-membantu anaknya mencari informasi yang dibutuhkan, misalnya, perawatan dokter hewan dan kemudian mengatur kegiatan magang di klinik hewan terdekat-tetapi mereka biasanya adalah pengikut daripada pemimpin ketika berhubungan dengan mata pelajaran.

Unschooling membawa pembelajaran keluar dari dunia sekolah, kata Patrick Farenga of HoltGWS LLC, yang bekerja meneruskan misi pendidik sebelumnya. Hal ini adalah apa yang ingin kamu pelajari hari ini? Bagaimana kamu akan melakukannya? Pendidik masih belum memahaminya. Mereka telah membawa masuk gagasan bahwa pendidikan  hanya dipahami yang berhubungan dengan belajar yang bisa mereka nilai di sekolah.

sejak awal, unschooling menarik sedikit tetapi pengikut yang tetap. Unschooling Mempunyai gaya berkehidupan bebas yang elok selama 40 tahun, kata Stanford University sociologist Mitchell Stevens, yang menulis buku 2001 “Kingdom of Children: Culture and Controversy in the Homeschooling Movement.” (Kerajaan anak anak : budaya dan kontroversi dalam pergerakan homechooling). Sangat keren pada waktu itu Ketika john holt memenangkannya pada tahun 1970-an. Hal ini selalu berulang dan ditemukan kembali.

Tetapi makin bertambah para Ahli, dan pihak lain yang telah mempelajari unschooling berkata, pada prakteknya unschooling terasa kehilangan roh pemberontakannya, ethos alternative. Walaupun, regulasinya berbeda pada setiap keadaan (satu alasan Kenapa keakuratan statistik pada pergerakan ini sulit untuk dijabarkan), unschooling dalam beberapa bentuk dianggap sah dimanapun di Amerika. Dan keluarga yang menganut unschooling mainstream, biasanya adalah kelas menengah, dan berpendidikan.

Survey yang dilakukan pada 5500 keluarga homeschooling, pembuat film Dustin dan Jeremy, yang membuat dokumenter tentang unschooling, class dismissed, muncul tahun 2914, ditemukan bahwa mayoritas orangtua anak unshooling (hampir 89%)sudah menikah, dan 91 % masuk perguruan tinggi. Hampir separuh hidup di pinggiran kota, sisanya terbagi secara merata antara kota dan desa. Hampir semua mengataakan mereka puas atau sangat puas dengan pilihan mereka dengan unschooling anak anaknya. Karena mereka punya waktu lebih sebagai sebuah keluarga, bisa sering berjalan-jalan, atau melihat Anaknya sukses dalam belajar.

Pakar pendidikan mengatakan bahwa unschooling menjadi pilihan dengan resiko kecil untuk orang tua dan makin menggambarkan sebuah alternatif yang bersemangat daripada sistem  sekolah negri yang banyak mendapatkan tekanan buruk akhir akhir ini.

Membuat Bata
Membuat Bata

Dorongan untuk melakukan unschooling adalah bagian dari keprihatinan pada sekolah formal yang menjadi terlalu terstandarisasi, kata kevin Welner, director of the National Education Policy Center, a Colorado-based research center. “orangtua yang mencari dan memilih mengirim anaknya ke sekolah umum sekarang lebih peduli daripada tahun tahun yang lalu”.

Sementara beberapa kritikan menuding anak anak unschooling dan homesholing meruntuhkan system sekolah formal dengan meninggalkannya daripada bekerja untuk pembaruan, banyak orangtua mengatakan, mereka sama sekali tidak bisa menunggu untuk perubahan sekolah yang lebih baik. Mereka ingin melakukan apa yang benar untuk anaknya sekarang.

Hal ini sangatlah benar, Cheryl Fields-Smith of the University of Georgia College of Education, diantara tumbuhnya jumlah keluarga minoritas. Walaupun homeschooling memiliki reputasi menjadi didominasi pengusaha kulit putih, statistik yang baru menunjukkan bahwa keluarga Afrika-Amerika dan Latin membuat pertumbuhan jumlah yang sangat cepat sebagai keluarga unschooling.

Dalam penelitiannya tentang keluarga homeschooling di seputaran daerah Atlanta, Professor Fields-Smith menemukan bahwa banyak keluarga berkulit hitam telah memutuskan bahwa resikonya lebih besar untuk tetap menyekolahkan anaknya-khususnya anak lali-laki di sekolah umum daripada membawanya keluar.

Sebagai alasan yang menggolongkan dari persepsi administrator yang memberi label  anak laki-laki kulit hitam sebagai pembuat masalah, kemungkinan adanya kekerasan di sekolah,  keinginan untuk mencapai pendidikan yang lebih holistik di rumah, keluarga kulit hitam memandang homeschooling sebagai jalan untuk melindungi anak-anaknya dan memberi mereka masa depan yang lebih baik. Dan juga banyak keluarga kulit hitam memulai dengan rencana kurikulum yang lebih ketat—tidak banyak kebebasan dalam keluarga kulit hitam, karena mereka tahu keanehannya menumpuk pada anak-anaknya secepat mereka keluar dari rumah, mereka lebih memilih untuk berpindah dalam unschooling ketika mereka pergi bersama.

Fields-Smith berkata, adanya  sejarah panjang perjuangan Afrika – Amerika untuk kualitas pendidikan publik. “tetapi ketika anda menggali, anda akan melihat bahwa kami selalu ditentukan untuk belajar otodidak,” dia berkata. “ketika kesempatan kami ditolak untuk bersekolah, kami melakukannya sendiri, sesungguhnya saya menyadari bahwa melihat ini semua sebagai perulangan baru dari sejarah panjang (Afrika – Amerika) berjuang untuk pendidikan.

Mr. Stuart mengatakan bahwa banyak orangtua yang dia wawancarai- baik kulit hitam, putih, dan Latin- sama sekali sudah tidak percaya pada persamaan tentang sekolah umum yang akan menuntun pada gelar sarjana yang akan menuntun pada pekerjaan dan menuntun pada hidup yang baik. Mereka melihat keputusan yang kurang stabil datang dari rute pekerjaan yang tradisional, yang biasanya pekerjaan untuk kelas menengah, masyarakat sosial ekonomi yang mayoritas termasuk unschooler. Unschooling, mereka percaya, bisa lebih baik memberikan anak-anak mereka keuntungan dalam ekonomi yang terasa lebihbermanfaat, pemikir independen.

Pendirian seperti itu muncul di workshop unschooling bersamaDiane Flynn Keith di Silicon Valley. Ms Keith, yang mengunschoolingkan anaknya, mengatakan bahwa sesinya dipenuhi dengan para pekerja industri teknologi dan enterprener, semuanya sangat tertarik untuk melakukan pendekatan yang berbeda dalam pendidikan.

Orang orang yang terlibat dalam industri teknologi sekarang ini sedang utuk berpikir di luar kebiasaan, Keith berkata. ‘Mereka melawan aturan-aturan kuno. Pada saat anda menantang satu tradisi anda akan memulai menantang semuanya, kemudian mereka mempunyai anak dan kemudian mereka mulai berpikir, baiklah, dan what is this school thing? Apa sih sesungguhnya sekolah ini? Kenapa kita tetap melakukannya dengan cara yang sama?

Dengan lebih banyak orangtua yang terjun dalam unschooling, bisnis telah tumbuh untuk mendukung mereka. Ada kunjungan pembelajaran internasional yang dibuat untuk unschooler, not back to school, jangan kembali lagi ke sekolah. Adalah sebuah kemah popular untuk para remaja unschooling, dan koperasi belajar secara langsung dan bermacam organisasi seperti sekolah, misalnya the busy Parts and Crafts Center untuk Semiconducted Learning in Somerville, Mass. Disana anak-anak berusia 7 – 13 tahun dapat bermain dan mengikuti kelas pemula dari animasi computer, debat, atau geografi fantasi.

Lihatlah ini” kata anak berusia 9 tahun, Verity Gould, duduk dengan laptopnya di suatu pagi di perpustakaan eklektik di area Parts and Crafts. Dia mampu membagikan beberapa animasi kartun yang dibuatnya dengan program scratch Bahasa. Hal ini jauh lebih baik dari sekolah.

Tetapi jika persepsi tentang manfaat pendidikan dari unschooling salah satunya didapat untuk orangtua, biasanya ada sesuatu yang lain. Banyak orangtua yang memutuskan untuk berhomeschooling menginginkan kehidupan yang berbeda, salah satunya tidak hanya kebebasan yang didiskripsikan oleh Holt sebagai factory school, krena sekolah dirasakan bagaikan sebuah pabrik, dan kekurangan yang dirasakan, tetapi salah satu yang menolak semua 9-5 (jam sekolah) kewajiban yang membuat hidup menjadi kurang menyenangkan, dan orang-orang yang memilih unschooler bahkan beranggapan sama sekali kurang berarti.

Hal ini yang dirasakan oleh Jamie macKenzie tak lama setelah anak laki-lakinya lahir, Noah. Dia ingat saat melihat orangtua lain di Andover, tergesa-gesa dari satu aktivitas ke aktivitas selanjutnya, acara demi acara, dengan menyadari bahwa ini bukanlah hal yang ingin saya lakukan, dia berkata. “setelah perjalanan kami sebagai orangtua berlanjut , saya menyadari bahwa banyak dari keputusan kami tentang nilai-nilai, kesehatan, aliran hidup kami, tidak sesuai dengan rutinitas normal hari senin sampai hari Jum’at”.

Dia memutuskan untuk tidak kembali pada pekerjaan yang bergaji tinggi di bidang pendidikan, dan malah memulai bisnis rumahan dengan jadwal yang fleksibe, menjual minyak essential. Dia juga memutuskan untuk menjauhkan Noah, sekarang 7th, dan dua anaknya yang lain dari sekolah, walaupun ada sekolah umum di daerahnya yang termasuk salah satu sekolah terbaik. Dia mengatakan bahwa keluarganya condong pada unschooling.

Semua ini telah memberikan keluarganya bebas untuk bepergian , menjadi semakin aktif , dan bersosialisasi dengan orang-orang yang mereka percaya berbagi nilai-nilai mereka. “Kehidupan kami sekarang ini dengan sadar sengaja dibangun . Ini bukanlah kecelakaan”, katanya .  Dan hal ini berjalan baik untuk kita, saya tidak akan pernah menghakimi siapapun untuk pilihan yang berbeda. Meskipun jika orang lain ingin makan di McDonald dan pergi ke sekolah umum dan melakukan pekerjaan pada umumnya , itu adalah pilihan, jalan mereka . Kami menyadari, dengan sengaja membuat keputusan yang telah kami buat . kami menjalani hidup ini dengan perencanaan yang kami inginkan.

Keinginan untuk hidup dengan perencanaan bukanlah hal sederhana. Sejumlah sarjana telah menunjukkan bagaimana , selama setengah abad terakhir , aktualisasi diri telah meningkat menjadi salah satu nilai yang paling dihormati di negara itu . Orang Amerika melihatnya sebagai hal yang tepat untuk menemukan “jati diri” mereka dan mengikuti impian mereka.

“Secara umum, orang mencari cara untuk benar-benar mengklaim otoritas atas hidup mereka dalam banyak cara,” kata Stuart . Tidak hanya di dunia pendidikan, namun bagaimana cara untuk menghindari belenggu rutinitas. Sekarang ini banyak orang mulai mempertanyakan cara-cara kehidupan yang dilembagakan pada semua tingkatan.

Mereka juga mulai mempertanyakan arus utama yang mempengaruhi Kenapa masyarakat bekerja nonstop untuk mengumpulkan sebanyak banyaknya barang yang mereka bisa . Hal ini hanyalah masalah pilihan nilai yang Anda buat ketika Anda melakukan unschool , kata Amy Espinosa , yang mengajar anak-anaknya di rumah di pedesaan Georgia dan menulis The Little Farm Diary,  sebuah blog tentang gaya hidup, homeschooling , parenting , resep dan anak-anak.

Membuat Bata
Membuat Bata

Sejujurnya saya lebih tertarik pada apakah anak saya adalah orang yang baik – moralnya baik, layak, semua hal yang berhubungan dengan itu — sebagai lawan dari  Dapatkah dia bisa membaca pada usia 6 tahun? Apakah dia tahu tabel perkalian saat kelas dua? Hal itu bukanlah hal penting untuk saya saja . saya lebih peduli pada, Ketika dia berumur 7 tahun, dapat berbicara dengan orang dewasa? Apakah dia mampu memanggang kue untuk tetangga di hari Natal karena kata hatinya bilang begitu?

Blake Boles, Pendiri Unschool Adventures , yang mengadakan perjalanan internasional untuk remaja unschooled, setuju. Sepertinya ada yang tumpang tindih dengan orang-orang yang bergaya hidup minimalis, orang-orang secara sukarela – kesederhanaan, katanya. “Siapa saja yang tertarik pada sebuah rumah kecil tertarik unschooling.”

Ini adalah jawaban untuk salah satu kritik umum tentang unschooling secara keseluruhan – yang tampaknya tidak mungkin bagi kedua orang tua bekerja untuk mencapainya.Unschooling tidak cocok untuk semua orang,” kata Stuart. Namun, saya akan mengatakan bahwa lebih banyak orang yang mampu melakukan itu daripada yang mereka pikir.

Bahkan bagi mereka yang telah memutuskan untuk menukar pekerjaan dan konsumerisme untuk kesederhanaan dan gaya hidup kembali ke keluarga, hal ini bisa dipahami. Dibutuhkan banyak sekali pekerjaan untuk memfasilitasi semua aktualisasi diri ini.

Ketika Devin Martin tertarik pada pandai besi, satu- satunya orang yang membatu dia adalah orang tuanya untuk mengubah ruang penyimpanan mereka menjadi bengkel pandai besi, membantu anaknya berhubungan dengan pandai besi lokal untuk menjadi mentor, dan bekerja agar membantu dia barter untuk memenuhi persediaannya. Mereka semua setuju bahwa Devin belajar sendiri bagaimana menjadi seorang pandai besi. Tapi mereka juga mengakui bahwa bahkan sampai ke titik yang diperlukan keluarga untuk sebaik-baiknya mengatur sendiri sekitar kepentingannya dan saudara-saudaranya.

Saya melihat bahwa ibu akan berbicara tentang semua cara itu sebagai orangtua yang unggul, katanya .

Mereka juga berbicara tentang bagaimana mereka kelelahan. mengasuh aktif untuk mereka sekarang tanpa henti, semua pekerjaan rumah tangga lainnya yang masih jauh secara tidak proporsional untuk perempuan. Secara keseluruhan, Profesor Lois menemukan bahwa para ibu tampak merangkul sebagian ajaran apa University of Southern California sosiolog Sharon Hays dijelaskan di pertengahan 1990-an sebagai “mothering intensif—sebuah kumpulan keyakinan budaya yang telah dikembangkan dan didefinisikan kepengasuhan yang baik good parenting, berpusat pada anak, dipandu-ahli, menyerap emosional, padat karya, dan finansial mahal. Mereka, dengan kata lain, merupakan orang-orang di garda depan bagi orangtua dan anak-anak yang telah menjadi diterima secara luas selama dua dekade terakhir.

Salah satu warisan dari gerakan aktualisasi diri dari tahun 60-an merupakan elaborasi dari idealisasi masa kanak-kanak, salah satu yang nampaknya sangat optimis dan utopis, tetapi juga sangat mahal untuk orangtua, kata Stevens. Karena pada akhirnya anak-anak juga tidak akan mampu melakukan semuanya sendiri. Anda harus memungkinkan mereka untuk melakukan hal-hal sendiri. Itulah rahasia gelap pada inti pedagogi progresif. Dibutuhkan banyak kerja untuk menciptakan dan memelihara kondisi di mana anak-anak dapat menjadi diri khas,unik mereka. Sementara itu, sejumlah kritikus sosial bertanya-tanya tentang hasil yang lebih gelap dari semua pemenuhan individu ini. Menolak lembaga-lembaga seperti sekolah-sekolah umum, yang  secara teori, seharusnya mengembangkan rasa bersama budaya dan demokrasi, tampaknya bermain dalam masalah yang lebih luas dari rasa, situasi yang semakin memburuk di masyarakat.

Saya pikir sekarang ini ada ancaman yang lebih luas terkait kohesi sosial pada hidup yang kita semua sudah dilalui, kata Mr Welner dari Pusat Kebijakan Pendidikan Nasional. Orang melihat orang lain yang berbeda atau yang tidak setuju dengan mereka karena beberapa ancaman eksistensial. Ancaman ini lebih besar daripada ancaman sekelompok kecil memilih keluar dari pendidikan formal. Tapi sekolah publik yang kuat bisa menjadi benteng pertahanan terhadap ancaman yang lebih luas untuk kohesi sosial.