Menyaksikan Presentasi Kakak Kelas SMA SALAM

Pada hari Jumat tanggal 17 Mei 2019, saya menyaksikan presentasi dari teman-teman SMA SALAM yaitu Rico, Mbak Foni, Bang Satria, Mbak Vena, dan Mbak Rere. Presentasi tersebut dilakukan bersama-sama ke panggung dengan membawa alat dan mengajak modelnya. Contohnya Mbak Rere membawa alat menjahit, dan Mbak Vena yang mengajak modelnya, yaitu Cadas (siswi SMP Sanggar Anak Alam(SALAM)

PRESENTASI SISWA SMA SALAM

Pak Budi, sering dipanggil Pak Gemak (fasilitator kelas 11/SMA), membuka presentasi—menceritakan hasil pembelajaran kelas 11 semester 2. Diawali dengan memutar 2 video. Yang pertama video tentang workshop kopi dan membuat klepon, yang dipandu oleh Pak Aji (fasilitator SALAM). Kemudian video ke dua tentang workshop jamu yang dipandu oleh Mbak Ismi Rinjani (Narasumber dari Yayasan Kampung Halaman).    

 Disusul Rico yang mempresentasikan hasil riset fotografi. Di risetnya tersebut, dia memilih untuk memotret tema lingkungan. Namun saat presentasi dan pameran, Rico juga menampilkan foto lain, seperti foto produk Mbak Rere, dan riset Mbak Vena tentang make-up dengan model Farela (siswi SMP SALAM). Ada juga foto wiwitan beberapa minggu lalu, pawai tentang sampah yang diadakan di ISI Jogja, dan ada juga foto kegiatan anak-anak SALAM saat jam istirahat. Rico sendiri tidak mempunyai narasumber, tetapi dia didampingi Pak Aji, Pak Gemak, dan Mbak April (fasilitator SALAM)

Di urutan kedua, giliran Mbak Foni presentasi. Dalam presentasinya, dia menceritakan tentang blog hasil kolaborasi dengan Mbak Kenar yang bernama Blisszine. Di Blisszine, Mbak Foni menulis 4 tema blog yang berbeda. Yang pertama ada Book Nerd Pice yang mengulas atau me-review buku-buku yang berjudul The Heroes Of Olympus, Bumi (2014), dan De Journal (2010). Yang kedua ada Screen Univers yang berisi tentang ulasan film, contohnya ada Voltron Legendary Defender (2016). Kemudian yang ketiga ada Blissday yang menceritakan kegiatan mbak Foni saat di Salam atau hal-hal penting yang ingin Mbak Foni tulis. Yang terakhir ditulis oleh Mbak Foni adalah Get Teens yang menceritakan tentang masalah-masalah anak remaja, seperti salah satu tulisan berjudul “Salahkah Gaya Pacaran Jaman Now?”.

Pertama Mbak Foni bikin blog tersebut bersama mbak Kenar, karena Mbak Foni dan Mbak Kenar memiliki hobi yang sama, yaitu suka membaca dan menulis. Mbak Foni juga cerita kalau selama proses pembuatan blog tersebut berjalan kurang baik, contohnya ketika Mbak Foni malas dan berhenti menulis. Selain itu, juga karena Mbak Foni dan Mbak Kenar kurang berkomunikasi sehingga menghambat penulisan cerita untuk blog mereka.

Pada riset ini Mbak Foni dan Mbak Kenar tidak memiliki narasumber, mereka hanya menulis kegiatan sehari-sehari yang mereka lakukan. Kalau baru mood menulis, Mbak Foni dan Mbak Kenar bisa membuat satu tulisan untuk blognya hanya dalam waktu satu hari saja, tapi jika tidak ada mood menulis dan tak ada bahan yang ingin ditulis, bisa berminggu-minggu mereka tidak menulis.

Presentasi dilanjutkan oleh Bang Satria yang menceritakan risetnya, yaitu menyablon baju atau kaos. Bang Satria memilih riset ini karena dia ingin mempunyai produknya sendiri, jadi kalau dijual bisa menghasilkan uang dan menguntungkan.

Bang Satria hanya bercerita sekilas, lalu langsung dilanjutkan oleh Mbak  Vena, beserta modelnya yaitu Cadas—Mbak Vena bercerita kalau dulunya dia ingin riset make-up di dalam dan di luar ruangan, tetapi karena make-up yang dipunyai Mbak Vena kurang dan kalau beli terlalu mahal, jadi Mbak April mengusulkan bagaimana kalau Mbak Vena riset cara membuat make-up dari bahan-bahan alami, dan Mbak Vena pun setuju.

Mbak Vena pun mencoba 4 macam make-up, ada lip tint (pemulas atau pewarna bibir) yang terbuat dari air, madu, dan pewarna makanan merah. Juga ada bedak yang terbuat dari beras yang sudah dihaluskan, lalu dicampur dengan kayu manis yang sudah disangrai. Lalu ada eyeliner dan eye shadow, tetapi yang dua itu saya tidak tahu cara membuatnya karena sewaktu presentasi tidak diceritakan oleh Mbak Vena. Mbak Vena melakukan praktek cara membuat bedak dan lip tint di sekolah dan didampingi oleh Mbak April.

Narasumber yang dipilih oleh Mbak Vena adalah internet karena semua ada dan pendamping yang dia pilih adalah Mbak April, fasilitatornya sendiri. Karena Mbak Vena hanya bercerita sedikit, jadi langsung bergantian dengan Mbak Rere yang ingin bercerita tentang risetnya yaitu branding (mengenalkan merek).

Awal di kelas sebelas semester satu dulu mbak Rere riset tentang mengelola barang bekas menjadi kerajinan tangan. Sampai akhirnya di semester dua ini Mbak Rere memilih riset tentang kerajinan tekstil dengan narasumber Bu Tami (orangtua Salam) dan Bu Mila (kerabat Salam). Sebenarnya narasumber Mbak Rere ada banyak, tetapi khusus menjahit Mbak Rere hanya dua itu. Mbak Rere juga bercerita kalau dia sedang kerja paruh waktu di tempat Bu Mila yang produknya bernama Morisdiak. Di Morisdiak menjual asesoris seperti gelang, kalung, dan anting.

Semester ini Mbak Rere ingin belajar tentang bagaimana mengenalkan merek (branding). Kata Mbak Rere kalau ingin riset tentang branding harus mempunyai produk. Di dalam branding, kata Mbak Rere juga harus mempunyai ciri khas dalam produknya.

Beberapa waktu lalu Mbak Rere mengetahui kalau riset Mbak Fafa (siswi SMP Salam) tentang ecoprint, dan Mbak Rere berpikiran bakal bagus kalau ecoprint dikombinasi dengan kain goni. jadi Mbak Rere memutuskan untuk berkolaborasi dengan Mbak Fafa dan sekarang brand itu bernama “birong” dan sudah banyak dipesan oleh kerabat Salam.

Selesai bercerita tentang risetnya, Mbak Rere bercerita tentang live in kunjungan ke Delanggu, cerita tersebut dipandu oleh Pak Aji. Mbak Rere bercerita dari Jogja mereka menaiki bus dari Terminal Giwangan sampai Pasar Delanggu. Dari Pasar Delanggu ke desa tempat live in mereka jalan kaki.

“Lumayan capek sih,” kata Mbak Rere.

Selama di sana, mereka ikut kegiatan keluarga sehari-hari. Teman-teman SMA juga membagi pengetahuan dengan workshop ecoprint. Selain ikut kegiatan oleh keluarga di sana, hal yang menarik bagi mereka juga adalah tidak diperbolehkan membawa atau menggunakan handphone (telephone genggam). Setelah bercerita tentang Delanggu, presentasi anak SMA ditutup oleh pemutaran viideo saat workshop ecoprint bersama warga di Delanggu. (*)