MENYAMBUT LAHIRNYA RUANG BELAJAR BARU

Pagi itu (16/05), Canda, Siswa kelas X SMA, tampak gelisah. Ia mondar mandir di kelas sambil memegang spidol, mengacungkannya ke dekat mulut layaknya mic dan merapal beberapa kalimat. Kegelisahan serupa juga dialami oleh siswa kelas 3 SD, yang di lain hari akan mempresentasikan riset Lele mereka menggunakan medium drama. Secara bergantian dan berdekatan, mereka bertanya kepada fasilitatornya, “Mbak, ini jam berapa?” dan “Mbak, Kapan kita akan tampil?”. Kegelisahan mereka semakin menjadi ketika MC mulai bicara dan membacakan susunan acara. Wajah anak-anak menjadi semakin lucu. Namun jangan heran, ketika mereka didepan penonton, segera kegugupan mereka hilang dan berganti dengan tatapan kepercayaan diri. Peristiwa-peristiwa semacam ini terjadi di Bulan Presentasi.

Cara Anak SALAM Presentasi di depan khalayak. Foto by. Anang Febe

Bulan Presentasi. Satu ruang yang secara eksperimental baru saja diciptakan di Sanggar Anak Alam (SALAM) semakin lebar kesempatan pada setiap anak dari tingkat PAUD sampai SMA—untuk mempresentasikan proses dan hasil belajar mereka selama satu semester dihadapan khalayak luas. Acara ini berlangsung selama hampir 1 bulan penuh, dari 2 Mei 2019 hingga 24 Mei 2019. Ruang ini dirancang, dengan tujuan untuk memfasilitasi forum pertukaran ilmu pengetahuan antar siswa di SALAM. Meskipun dalam prakteknya, ruang ini tidak hanya menjadi milik warga belajar SALAM saja, namun juga orang-orang yang datang dari luar, baik untuk sekadar menyaksikan ataupun ikut belajar. Bersama-sama kami menikmati cerita-cerita dibalik riset yang sudah dilakukan anak.

Keragaman anak yang presentasi turut mempengaruhi keragaman tema riset yang dipresentasikan. Ada sekitar 62 Riset yang dipresentasikan. Riset-riset ini kemudian kami kelompokkan berdasarkan kecendrungannya. Ada riset tentang Makanan (16), Binatang (5), Kerajinan (14), Seni Rupa (11), Seni Tulis (6), Musik (3), dan juga Kelas Minat (7).

Grafik Presentasi Anak SALAM

Sebenarnya, pengalaman berpresentasi di depan khalayak umum bagi kebanyakan dari mereka adalah satu lompatan baru. Sebelumnya mereka hanya mempresentasikan proses dan hasil belajarnya di kelasnya saja. Dihadiri oleh teman sekelas dan orang tua. Namun kali ini, tidak hanya teman kelas dan orang tua, namun juga kakak-adik mereka di SALAM serta siapaun yang tertarik untuk datang melihat presentasi mereka. Dan meskipun malu atau takut, mereka tetap jalan terus. Mereka bercerita, menunjukkan karyanya, menjawab pertanyaan di forum. Tak ada anak yang tak melakukannya, sekalipun itu adalah anak paling pemalu.

Satu hal yang menarik adalah, kemampuan berbicara di depan publik ini ternyata tak berbanding lurus dengan rendah-tingginya jenjang pendidikan anak. Satu contoh adalah ketika ada presentasi Riset Rumah Limasan dari Cita kelas 5 SD. Anak-anak kelas X SMA, yang sebelumnya merasa lebih lancar untuk urusan berbicara di depan public, akhirnya juga mendapati, bahwa dalam presentasi adik kelasnya ini, ternyata kemampuan Cita berbicara dan menyusun argumentasi tak kalah jago dibandingkan mereka, beberapa mungkin malah dibawahnya. Hal ini cukup mengubah pandangan mereka tentang keunikan masing-masing temannya. Dan di dalam presentasi yang sama ini pula, anak-anak kelas 4 SD bisa belajar bagaimana menghitung bangun kubus. Satu hal yang belum terjamah oleh riset mereka di kelas.

Kisah haru biru mempersipkan presentasi diceritakan oleh Devi siswi kelas 8 SMP. Ia bercerita tentang perjuangannya menulis cerita, belajar melayout hingga mencetaknya. Ia harus menyelesaikan risetnya tentang Cerita Pendek dan Dongeng di tengah aktivitas yang tengah menggila di Bulan Ramadhan. Ia harus membagi waktu antara sekolah, memberikan les privat, mengajar TPA dan rangkaian kegiatan Ramadhan yang baru usai pukul 11 malam. Ia baru bisa mengerjakan bahan presentasinya tengah malam atau setelah sahur. Ia bercerita bagaimana ia menjadi kurang tidur karena ia merasa harus menyelesaikan apa yang sudah ia kerjakan. Tanggung jawab atas proses yang sudah dilakukan selama ini ia pegang betul. Ia juga belajar digital layout dari nol, satu hal yang tak pernah ia tulis sebagai capaian di semester ini. Untungnya pula ia berkolaborasi dengan Rachel, siswi kelas X SMA yang punya riset Ilustrasi. Devi bikin cerita dan Rachel bikin Ilustrasinya. Rachel juga berkolaborasi dengan Imung, rekannya di kelas X SMA yang punya riset menulis cerpen. Mereka yang berkolaborasi belajar banyak hal baru, terutama tentang bekerja dalam tim.

Kolaborasi dilakukan tidak hanya antar anak. Tapi juga antara anak, fasilitator dan orang tua. Salah satu contohnya adalah presentasi siswa jenjang Kelompok Bermain (KB) setara PAUD dan Taman Anak (TA) setara TK—Bersama para orang tua, anak-anak membangun karya yang akan mereka presentasikan. Anak-anak KB tampil dengan karya pameran berupa hasil olahan barang bekas. Kemudian, dengan dipandu oleh fasilitator, mereka bercerita tantang karya mereka. Anak-anak TA, mendokumentasikan gambar buatan mereka dalam bentuk buku. Ketika presentasi, didampingi orang tua masing-masing, mereka bercerita tentang gambar yang mereka buat. Suasana menjadi begitu hangat, orang tua juga turut sumringah karena dilibatkan dalam proses pembelajaran si anak.

Kondisi serupa juga nampak di jenjang SD sampai SMP, meskipun dengan intensitas yang berbeda. Banyak orang tua yang terlibat dalam proses presentasi. Baik dalam proses penyiapannya, maupun dalam proses presentasinya. Bagi saya pribadi, ini adalah hal yang mengagumkan, bagaimana orang tua masuk dalam proses pembelajaran. Orang tua tidak hanya menjadi juru antar dan juru bayar sekolah anak. Salah satu oarang tua siswa yang akrab dipanggil Pak Cling mengatakan, “Saya memiliki peta yang jelas, tentang bagaimana teman-teman telah tumbuh. Dalam proses ini, Bulan Presentasi mendorong kesadaran bagi orang tua tentang kerja-kerja kolaboratif”. Dilihat bagaimanpun, semangat kolaborasi benar benar timbul.

Eksperimen

We make the road by walking. Kita membuat jalan sambil berjalan. Kalimat ini rasanya pas sekali dengan apa yang sedang kami kerjakan. Sejujurnya, Ini adalah pertama kalinya kami menyelenggarakan Bulan Presentasi. Bisa dibilang, ini adalah experimen kami dalam mengelola proses belajar di SALAM. Di rapat pertama, kami benar-benar tidak tahu bagaimana caranya harus memulai. Yang kami pegang hanyalah, bahwa kami ditantang untuk menciptakan ruang bersama untuk saling bertukar ilmu. Maka, dengan tertatih, kami mencoba, mentok, kami coba lagi sampai beres. Pun begitu, tetap saja sampai acara ini ditutup kemarin (24/05), masih banyak kekuranga disana-sini.

Misalnya saja, kami luput untuk melakukan pembacaan terhadap psikologi audiens. Setiap warga belajar SALAM, tak peduli dari jenjang apa, dianjurkan untuk menonton presentasi dari kelas berapapun. Dalam bayangan kamu ini bukan masalah, tapi ketika di lapangan, ketika kelas-kelas besar presentasi dan berbicara hal-hal yang lebih ‘sukar dimengerti’, anak-anak dari kelas kecil tidak tahan untuk duduk diam dan mendengarkan. Sikap mereka yang selalu ingin bergerak, aktif dan tak bisa diam sukar untuk disesuaikan dengan format presentasi ceramah. Misalnya saja ketika Kelas 6 SD dan 9 SMP bercerita tentang pengalaman mereka mengikuti UN, anak-anak kecil harus berusaha sangat keras untuk tetap diam di tempat. Kondisinya berbeda ketika format presentasinya adalah workshop atau drama, biasanya anak-anak dari kelas kecil cendrung bisa mengikuti.

Kami juga punya kecurigaan, jangan-jangan, label ‘Bulan Presentasi’ bisa menjadi beban bagi anak. Presentasi adalah buah dari proses yang ada, jadi bukan seremoni. Konsekuensi adalah kecenderungan untuk beroriesntasi pada karya saja, namun minim perhatian pada proses. Apalagi kami juga tidak punya dokumentasi apa yang mereka lakukan di rumah. Tentu ini adalah catatan bagi kami. Dari celah-celah ini kami belajar, bahwa kami belum sempurna dan harus tetap belajar untuk memperbaiki diri. Kedepan, semoga Bulan Presentasi bisa menjadi ruang pertemuan ilmiah yang menggembirakan. []