Mereka Baik-Baik Saja

Musim terima rapor tiba. Saatnya kabar baik berdatangan dari anak-anak SALAM (yang enggan disebut alumni SALAM), mereka kini melanjutkan sekolah formal: bahwa mereka baik-baik saja, yang artinya nilai rapor mereka ternyata tidak mengecewakan.

Bagi kami orangtua yang bergabung di Komunitas SALAM, kabar seperti itu selalu membuat kami menarik napas lega. Artinya, kelak ketika anak-anak kami dengan berbagai alasan harus melanjutkan ke sekolah formal maka kemungkinan besar nasib anak-anak kami tentunya akan tidak jauh berbeda.

Tetapi, apakah mereka sungguh baik-baik saja? Apakah beberapa lembar rapor bisa benar-benar menjelaskan kondisi mereka? Bagaimana mereka menghadapi perubahan pola pembelajaran yang berbeda antara saat mereka belajar di SALAM yang notabene sebuah sekolah yang sama sekali berbeda dengan pola pembelajaran di sekolah mereka yang sekarang ini?

Kelas 6 Angkatan 2006
Kelas 6 Angkatan 2006

Tentu saja pertanyaan-pertanyaan tadi tidak bisa dijawab begitu saja tanpa saya berbincang dengan mereka. Maka dengan sebuah dalih ‘riset kecil’, saya mencoba menghubungi beberapa Anak SALAM tersebut.

Lang-Lang

Anak yang pertama saya temui adalah Langlang. Gadis 13 tahun ini lumayan saya kenal baik. Ibunya, bu Endah, adalah kawan ‘seperguruan’ yoga. Sebelum perbincangan saya dengan pemilik nama lengkap Segaralange Wunga Paramahita ini terjadwal, saya tahu bahwa kesempatan ini akan menjadi perbincangan menarik karena saya pernah mendengar gaya bicaranya yang lugas saat ia angkat bicara dalam sebuah diskusi di Festival Sekolah Keluarga pada Mei silam.

Begitu tahu bahwa akhir semester ini Langlang mendapat rangking satu, saya bergegas menghubungi bu Endah untuk mencari waktu berbincang.

Langlang adalah murid kelas7 di SMP Stela Duce 2. Sejak awal bergabung di sekolah formal, Langlang banyak mempertanyakan banyak hal. Mulai dari seragam, pembagian pelajaran ke dalam beberapa mata pelajaran, hingga nilai sikap, sebuah point nilai dalam rapor. Baginya pola belajar yang diterapkan dalam kerangka sekolah formal adalah aneh.

Langlang bergabung di SALAM sejak umur 4 tahun. Tumbuh dalam sistem belajar berbasis riset yang meruntuhkan tembok pemisah mata pelajaran, cukup membuat Langlang gagap menghadapi sistem belajar di sekolah formal.  Pertanyaan yang bermunculan dalam ‘proses gagap’ tersebut hampir tidak pernah bertemu dengan logika berpikirnya.

Seperti ketika dia mempertanyakan apa fungsi seragam sekolah, dan gurunya menjelaskan bahwa itu adalah sebagai identitas dan untuk menyetarakan kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Dalam logika Langlang, identitas sekolah itu cukup dipakai saat murid melakukan study tour agar ketahuan jika terpisah jauh dari rombongan. Soal kesenjangan, ujarnya: “Memang kenapa kalau kita tau mana yang kaya dan mana yang miskin? bukankah justru disitu kita bisa belajar toleransi dan saling menghargai?”

Ledakan Langlang ini cukup membuat saya penasaran. Saya sempat berkunjung tanpa membuat perjanjian terlebih dahulu ke sekolah Langlang untuk mencari pendapat dari pihak guru yang mengenal Langlang cukup baik. Namun situasi birokrasi tidak menyambut baik rasa penasaran saya.

Rowang

Remaja kedua yang menjadi ‘sasaran’ riset saya adalah Rowang. Tidak terlalu sulit untuk bertemu Rowang karena bukan kebetulan, ibunya, bu Hesti adalah salah satu fasilitator di SALAM. Dalam perbincangan singkat via whatsapp, bu Hesti sedikit memberi clue bahwa Rowang anak yang unik dan pendiam.

Benar saja. Pembicaraan saya dengan laki-laki kelahiran 21 Desember 2001 ini hampir tidak menuai komentar apapun selain: Biasa saja. Tidak ada protes yang menggebu, tidak ada pernyataan yang spektakuler, tidak ada kendala dalam proses belajar. Prestasinya yang peringkat 3 di semester terdahulu pun hampir tidak membuatnya tampak bangga sedikitpun. Saat ini Rowang akan menuju ke kelas 9 di SMP BOPKRI 5, Yogyakarta.

Obrolan kami hampir ciut sampai saya menemukan minatnya yang luar biasa tentang dunia desain grafis. Sambil menunjukkan beberapa ilustrasi grafis yang dia unggah di akun instagramnya, @row4n6, Rowang pun mulai berkisah.

Rowang mulai aktif bermedia sosial di Instagram sejak Oktober tahun lalu. Semua unggahannya adalah ilustrasi hasil belajar otodidak dengan Adobe Illustrator, sebuah software grafis yang cukup sulit dikuasai. Proses belajar yang digunakan adalah berbasis kasus dan menyelesaikannya lewat browsing tutorial melalui youtube. Menurut saya yang pernah menjadi desainer partikelir, cara belajar itu cukup unik: individual dan kekinian.

Lang-Lang dan Biola
Lang-Lang dan Biola

Hingga saat ini Daniel Rowang Pramudito seorang remaja yang kerap dipanggil Robot oleh kawan-kawannya di sekolahnya belum tergabung dalam komunitas desainer grafis atau illustrator manapun. Tapi kedekatannya dengan sang Ayah, pelukis yang juga aktif berinstagram, itu cukup menjadi stimulus kreatif bagi Rowang.

Caca

Berikutnya, Caca. Anak ketiga dari tiga bersaudara ini belum pernah saya lihat sebelumnya meskipun ayahnya, pak Oni aktif mengajar musik di SALAM. Seperti Rowang, saya hampir tidak menemukan gejolak dalam transisi dari sekolah alternatif ke sekolah formal dalam diri gadis bernama lengkap Cipta Dewi Adicandra ini.

Alasannya memilih Taman Siswa sebagai jenjang SMP nya pun sederhana: ingin mencoba bersekolah di sekolah formal dan merasakan pergi sekolah dalam balutan seragam. Sebelumnya Caca bergabung di SALAM sejak Kelompok Bermain hingga Sekolah Dasar. Pun tidak ada protes ketika bakat bermusiknya sama sekali tidak tersalur lewat mata pelajaran seni budaya di sekolah karena gurunya lebih menguasai seni lukis daripada seni musik.

Tapi prestasinya tidak sesederhana sikapnya: selalu berada diperingkat pertama sejak kelas 7 semester 1. Bahkan gadis kelahiran 21 Februari 2002 ini cukup tertarik dengan pelajaran Bahasa Inggris yang baginya merupakan sebuah mata pelajaran baru karena belum pernah dipelajari sebelumnya.

Nandha

Tak lama berselang saat saya berbincang dengan Caca, gadis ini muncul dari dalam rumah. Nandha adalah kakak Caca. Berbeda dengan Caca, Nandha masih kerap saya lihat berseliweran di SALAM dalam balutan seragam putih abu-abu (yang masih saja terasa aneh dimata saya).

Dari gadis kelahiran 21 Januari 2000 ini, saya mendapat sebuah perspektif baru. Rekam jejak pendidikannya yang bersekolah dasar di SD Kanisius Wirobrajan, melanjutkan SMP di SALAM dan kini memasuki tahun kedua di SMKI membuatnya bisa merangkum dengan jelas dalam perpektif: sekolah formal, sekolah alternatif dan sekolah kejuruan.

Dengan lancar, gadis bernama lengkap Nandhani Mulaning Luga ini bisa menjelaskan apa yang ia alami dalam tiap masa transisi dan kendala-kendala yang ia hadapi dalam kaitannya dengan pencarian minat. Saat duduk di bangku sekolah dasar, Nandha merasa bahwa waktunya sangat tersita dengan pekerjaan rumah, ulangan dan tugas sekolah yang menumpuk sehingga ia sama sekali tidak memiliki waktu untuk mencari tahu apa sesungguhnya minat dan bakatnya.

Bergabung di SALAM pada jenjang SMP sangat memberi ruang bagi Nandha untuk benar-benar menemukan minatnya, yaitu karawitan. Meskipun tidak ada satupun fasilitator yang menguasai musik atau karawitan, tapi Nandha menemukan sebuah ruang belajar yang akhirnya memantapkan pilihannya untuk melanjutkan ke jenjang sekolah kejuruan karawitan.

Berbekal beberapa kali latihan dan pengalaman bermain karawitan di gereja semasa SD, gadis yang menggemari alat musik rebab ini berhasil memasuki gerbang SMKI. Hal baru yang menarik bagi Nandha pada jenjang ini adalah kerja tim dan bahwa belajar bermusik bisa dari siapa saja, baik itu guru maupun teman.

Caca dan Nandha adalah anak-anak yang tumbuh dalam suasana bermusik yang kental dalam ‘ruang’ keluarganya. Orangtuanya menganggap bahwa proses belajar anak-anak mereka adalah sebuah proses panjang. Peran orangtua ada pada esensi pedampingan yang bersifat memfasilitasi.

Dinda

Anak SALAM terakhir yang saya temui untuk riset kecil-kecilan ini adalah Dinda Kamila yang saat ini naik ke kelas 9 SMP Taman Siswa. Bersekolah di SALAM pada jenjang Kelompok Bermain dan Sekolah Dasar. Alasan orangtua Dinda mendaftarkan kembali Dinda ke Salam karena merasa prihatin melihat kakak Dinda, Anand, yang ketika Dinda lulus TK sedang bersekolah di SD Muhamadiyah. Anand selalu mengeluh kecapekan setiap pulang sekolah.

Pertama bergabung di SMP Taman Siswa Dinda sempat khawatir tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik. tapi kekhawatirannya tidak menjadi kenyataan karena wataknya yang supel membuat ia lekas menyesuaikan diri.

Selain masuk dalam jajaran 10 besar, gadis yang mahir bermain biola dan gitar ini juga kerap mewakili sekolah dalam beberapa acara pentas lintas sekolah. Tentu saja hal ini tidak lepas dari ketekunan berlatih bersama orangtuanya, pak Andi, yang menganggap mengasah  bakat ini sebagai bekal.

Meskipun begitu Dinda lebih menyukai cara belajar di SALAM yang banyak menggunakan praktek langsung dalam kehidupan sehari-hari dalam menerapkan ilmunya. Seperti belajar matematika di angkringan, misalnya.

Dari kelima anak yang saya temui, tidak ada satupun dari mereka yang belajar di sekolah formal dengan metode menghafal. Sebuah cara, mungkin satu-satunya cara, yang saya pakai dulu saat menghadapi ulangan. Membaca, membaca lagi, memahami dan menyimpulkan dengan bahasanya sendiri. Itulah “kunci sukses” prestasi akademik mereka.

Langlang, misalnya,  hanya belajar untuk persiapan ujian saat di rumah saja. Sibuk menghapal materi pelajaran mendekati jam ulangan adalah satu hal yang tidak biasa ia lakukan. “Seperti berbicara dengan tembok” adalah komentarnya tentang teman-temannya yang selalu sibuk membaca dan menghafal di menit-menit menjelang ujian.

Dinda, Rowang, Caca, Nandha
Dinda, Rowang, Caca, Nandha

Bahkan Rowang sempat harus mengulang ujian mata pelajaran IPA karena saat ujian tiba, dia lupa hapalan rumus. Saya kira itu wajar, karena pada rumus IPA (fisika, kimia) memang satu-satunya cara belajar paling umum adalah dengan menghafal. Siswa hampir tidak pernah diajak memahami rumus melalui praktek dalam kehidupan nyata. Sementara selama ini mereka tumbuh dalam proses belajar: melakukan saya paham.

Dari mereka saya juga menemukan benang merah, bahwa kemandirian belajar telah tumbuh. Seperti Rowang yang tidak pernah berharap jika mata pelajaran seni budaya dan muatan lokal teknologi informasi mewadahi bakat grafisnya. Dia lebih suka belajar sendiri tentang hal-hal yang disukainya.

Begitu juga Nandha yang menemukan ketertarikan pada digital audio editing dengan mempelajari sendiri Adobe Audition dengan bimbingan ayahnya.

Mengenai rapor naratif yang diterapkan kurikulum 2013, baik Langlang maupun Rowang yang telah ‘mengenyam’ kurikulum 2013 menganggap bahwa rapor naratif tersebut bukan rapor. Ketika saya bertanya: mengapa, apakah rapor tersebut tidak menjelaskan tentang hasil belajar kalian? Jawaban Rowang cukup singkat: “menjelaskan, tapi salah”.

Bagi mereka, rapor tersebut terbaca sangat sistemik seperti dibuat dengan rumus, karena sama sekali tidak menjelaskan capaian masing-masing siswa sebagai pribadi yang menerapkan pemahaman akan suatu mata pelajaran.

Bertemu dan berbincang dengan remaja-remaja belia ini membuat saya merangkum sesuatu: bahwa jika anak telah menguasai cara belajar yang pas dengan dirinya sendiri, dimanapun dia bersekolah nantinya, dengan metode apapun gurunya mengajar, maka ia pasti akan berhasil. SALAM yang lebih seperti panti asuh daripada sekolah, ini adalah sebuah Sanggar tempat anak-anak itu menemukan cara belajar yang tepat untuk dirinya sendiri. Sebuah Sanggar yang meyakini adagium; Mendengar Saya Lupa, Melihat Saya Ingat, Melakukan Saya Paham dan Menemukan Sendiri Saya Kuasai. Saya juga merasakan bahwa SALAM tidak jumawa, sangat mengakui bahwa sekolah bukanlah pemeran tunggal yang mampu mencerdaskan dan memanusiakan seseorang.

Lalu,terjawabkah pertanyaan awal saya: apakah mereka baik-baik saja?

Saya pikir: Ya. Mereka baik-baik saja.