“Pasar Ilang Kumandange”

Drama yang dialami 1.400 pedagang Pasar Dinoyo dan ratusan lain pedagang Pasar Blimbing oleh rencana Pemerintah Kota Malang bakal memberi dampak sosial mencemaskan. Tak terlalu sulit untuk menyadari bakal muncul lapisan masyarat miskin baru di kedua kawasan oleh sebuah proses yang disebut marjinalisasi.

20160719-pasar-02

Mereka yang oleh para ahli ilmu sosial disebut the looser, kaum yang kalah, bukan karena malas, melainkan karena dikalahkan. “Padahal, semula pedagang tradisional ini tergolong masyarakat yang mandiri secara sosial ekonomi. Mereka bisa cari makan sendiri, selama ini tanpa bantuan dari pemerintah. Lantas melalui logika modernisasi yang disebut revitalisasi pasar, mereka harus menyingkir ke belakang pasar,” kata Guru Besar Sosiologi Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya Prof Dr Hotman Siahaan.

Sulit menerima penjelasan bahwa pedagang akan tetap mendapat tempat. Sebab, tidak pernah ada ceritanya pedagang empon-empon dan sayur diizinkan berdagang di dalam mal dan apartemen. Penolakan pedagang, yang semula membawa konsep peremajaan seperti halnya Pasar Besar Malang, dimana di lantai atas untuk pasar modern dan di bawah untuk pedagang tradisional, menunjukkan bukti keputusasaan pedagang.

20160719-pasar-03

Interaksi ini tentu sangat berbeda dengan konsep hubungan sosial di kota urban yang pernah diteliti antropolog tentang Indonesia di Kecamatan Pare, Kediri, dan Tabanan, Bali, di tahun 1950-an, Clifford Geertz dalam bukunya Penjaja dan Raja dari judul asli Peddlers and Princess.

Hubungan Sosial

Clifford yang mengkaji perubahan sosial di Jawa menyebut pasar (tradisional) sebagai economic bazaar, atau bazar ekonomi. Konsep yang sangat berbeda dengan mal, plasa, department store, atau dikategorikan dengan istilah yang sebenarnya membingungkan, pasar modern.

Ini karena dalam ekonomi bazar, kata Hotman saat menjelaskan penelitian Geertz, yang terjadi dalam pertemuan antara pedagang dan pembeli sebenarnya bukan transaksi bisnis murni, melainkan hubungan sosial. Maka di kalangan pedagang ada ungkapan bijaksana yang dinyatakan “tuna satak bathi sanak”.

20160719-pasar-04

Artinya, kadang-kadang dalam sebuah transaksi seorang pedagang tidak mendapatkan keuntungan besar (satak), melainkan mendapat untung (bathi) berupa hubungan persaudaraan (sanak). Jadi bisa jadi meski terjadi transaksi, pedagang rela hanya kembali modal, namun terpenting mendapat pelanggan.

“Konsep dol tinuku pada pedagang pasar tradisional bukan dalam arti volume penjualan, melainkan pelanggan,” kata Guru Besar Studi Kebudayaan Prof Dr Henricus Supriyanto yang dihubungi terpisah. Pada pasar tradisional tidak ada kompetisi yang cukup tajam karena meski semuanya penjual beras, masing-masing sudah memiliki pelanggan pembelinya sendiri-sendiri. “Kabeh wis ono rejekine dhewe dhewe (masing-masing sudah memiliki pelanggan sendiri-sendiri). Konsep yang dalam bahasa pasar modern disebut bargain market,” tuturnya.

Berdimensi Spiritual

Ini tentu bertolak belakang dengan konsep transaksi dalam mal, plaza, dan departement store, karena tidak ada interaksi sosial dalam konsep ini. Hubungan pedagang dan pembeli dibatasi oleh label harga. Tidak ada pertanyaan mengenai “bagaimana kesehatan si anu” atau “bagaimana kabar si itu yang masuk kuliah di Yogyakarta”.

20160719-pasar-05

Bahkan, dalam temuan Geertz, perdagangan komoditas di pasar Jawa dan Bali juga berdimensi spiritual. Sebab, para pedagang atau disebut penjaja itu, sebenarnya adalah para agamawan. Konsep yang senada dengan, misalnya, tumbuhnya organisasi sosial berbasis keagamaan Muhammadiyah yang didirikan oleh para juragan (pedagang) tekstil dan batik di Kauman, Yogyakarta.

Pendirian mal akan memutus semua mata rantai sosial itu. Sementara sebenarnya, tambah Hotman, pasarlah yang selama ini berperan sebagai bumper tegangan sosial terhadap jurang kaya miskin. Ini karena pasar tradisional satu-satunya yang bisa menerima pedagang modal kecil tetap berdagang, sementara hanya pemodal besar yang bisa berdagang di mal karena sewa kiosnya mahal.

Jika pedagang modal kecil ini terpaksa keluar dari sistem ekonomi, terjadilah marjinalisasi, penyingkiran, dan pemiskinan. Potensi ketegangan sosial yang baru, yang akan memperlebar jurang kaya miskin di Kota Malang.

Ramalan Prabu Jayabaya yang disebut Jangka Jayabaya yang ditulis Raden Ngabehi Ranggawarsito mengemukakan tanda-tanda ini, yang disebut dengan jaman kalabendhu (zaman bencana) yang dilukiskan dengan gambaran gunung jugrug segara asat (gunung runtuh dan laut mengering) ditandai oleh kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange.

20160719-pasar-06

Sungai hilang palung kedalamannya, yang berarti terjadi sedimentasi dan pendangkalan. Pasar hilang gaungnya karena pasar bukan lagi wilayah relasi sosial. Sungguh gambaran yang amat dekat dengan masa depan Pasar Dinoyo dan Pasar Blimbing. Sejarah yang akan mencatat hubungan zaman ini dan siapa penguasanya.

(Kompas, Senin, 4 Oktober 2010 | 17:16 WIB)

Foto-foto di atas ADALAH Pasar SALAM yang diselenggarakan setiap hari Senin Legi. Tujuannya selain untuk mengenalkan penyelenggaraan PASAR, juga mengenalkan hubungan sosial, bentuk-bentuk transaksi, kemampuan menghitung, peran pasar. Dalam penyelenggarakan pasar ini yang terpenting diketahui kecenderungan anak, serta secara langsung anak belajar menentukan kebutuhan dan keinginan, bersikap dan jujur.