Obrolan Meja Bundar

Beberapa hari ini meja bundar tempat favorit saya untuk ngobrol dengan teman-teman lumayan ramai, selain teman-teman yang sedang menyiapkan workshop, Pak Arifin praktisi pendidikan dari Cimahi Bandung, mas Bambang Wisudo yang sedang mengampu teman-teman SALAM menulis buku, teman-teman yang sedang uji coba bikin kompor briket, jamaah yang sedang menekuli ternak lebah dan memproduksi madu—bahkan mba Sylvia Tiwon dari Berkelay menyempatkan berkunjung—meja bundar ini tepatnya di dekat dapur supaya lebih hangat karena ada kopi dan makanan alakadarnya.

Doa Orang Samaria

Tentu saja apa yang diobrolin selalu nyerempet ke urusan pendidikan; dari pembahasan pengalaman bedah buku sekolah Biasa Saja, literasi, darurat matematika, Fakultas Kelapa Sawit yang sedang diusulkan presiden. Ada juga tema yang terkait dengan fenomena yang membuncah dan menarik untuk diikuti dan dipelajari; misalnya sekarang mulai ramai anak-anak muda kreatif yang tertarik kembali ke desa, tentang gerakan kopi yang marak di mana-mana, sampai juga membicarakan fenomena politik identitas yang semakin memuakkan, Kuasa paham neoliberal yang semakin akut. dll.

Satu-persatu kawan-kawan saya pamit, seperti hari-hari biasa saya meneruskan duduk sendiri di meja bundar itu sambil memandangi bulir-bulir padi yang sudah mulai dikunjungi burung-burung kecil yang sangat memusingkan petani disekitarku—dan saya bergeser pindah di depan computer pelan-pelan mensarikan obrolan meja bundar menjadi tetes untuk kewajibanku menulis pendek di caknundotcom:

  1. Membuka Catatan lama di tahun 1980-an ; “Perselisihan yang dipicu oleh masalah agama kini mengancam kehidupan kita. Sejarah peradaban dan kemanusiaan hancur ketika kobaran kebencian merasuki perasaan masing-masing aliran di setiap agama maupun antar pemeluk agama. Teologi Pembebasan menantang ketertaklukan lembaga-lembaga agama oleh hegemoni kekuasaan politik dan ekonomi yang amat serakah itu. Gerakan agama yang radikal dan revolusioner ini, terutama di Amerika Latin, membuktikan bahwa agama bisa dan seharusnya menjadi ‘bara api’ melawan kezaliman, ketidakadilan, dan ketidakmanusiawian.” Saat itu saya tidak terlalu percaya, ternyata sekarang terjadi di sekeliling kita.
  2. Kearifan lokal terdiri dari dua kata, yaitu kearifan (wisdom) atau kebijaksanaan, dan lokal (local) atau setempat. Jadi arti kearifan lokal secara sederhana dapat dipahami sebagai gagasan setempat yang bersifat genuin, bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Kearifan lokal sepadan dengan identitas budaya bangsa, yang dapat menjadikan suatu bangsa mampu memiliki jati diri dan berpengaruh terhadap watak dan karakter masyarakatnya. Kearifan lokal juga dapat dibagi menjadi dua, yaitu segala nilai, konsep dan teknologi yang telah dimiliki sebelum mendapat pengaruh asing; serta daya yang dimiliki suatu bangsa untuk menyerap, menafsirkan, mengubah dan mencipta sepanjang terjadinya “pengaruh asing”. Maka, kearifan lokal merupakan karakter yang berlandaskan dan bernapaskan gagasan, atau pandangan hidup yang berasal dari budaya lokal. Karena itu, kearifan lokal sesungguhnya mengandung banyak sekali keteladanan dan kebijaksanaan hidup. Masih adakah itu?
  3. Kaum neoliberal meyakini bahwa negara yang merdeka pasca perang tidak akan mampu bertahan lama, karena dunia saat ini telah dikuasai modal yang terus bergerak dan kuatnya persaingan ekonomi antar-negara. Untuk itu negara fokus saja untuk membuat kebijakan. Sebaiknya negara menarik diri dari pelayanan, serahkan saja pelayanan publik kepada swasta. Kaum neolib menganggap bahwa mesin birokrasi telah rusak, bangkrut, harus diganti “pemerintahan kewirausahaan” berdasarkan persaingan, pasar, pelanggan, dan pengukuran hasil.
  4. Sertifikasi profesional, kadang hanya disebut dengan sertifikasi atau kualifikasi saja, adalah suatu penetapan yang diberikan oleh suatu organisasi profesional terhadap seseorang untuk menunjukkan bahwa orang tersebut mampu untuk melakukan suatu pekerjaan atau tugas spesifik. Sertifikasi biasanya harus diperbaharui secara berkala, atau dapat pula hanya berlaku untuk suatu periode tertentu. Sebagai bagian dari pembaharuan sertifikasi, umumnya diterapkan bahwa seorang individu harus menunjukkan bukti pelaksanaan pendidikan berkelanjutan atau memperoleh nilai CEU (continuing education unit).Tentu saja kita harus waspada dengan segala urusan yang berbau sertifikasi dan profesional, karena dua makhluk itu juga bisa berperan menyingkirkan kedaulatan seseorang yang tidak memiliki syarat administratif, bahkan bisa jadi berlawanan dengan kualitas.
  5. Bukan rahasia bahwa Indonesia sejak masa Orde Baru sampai sekarang mengalami pralaya: politik, ekonomi, semangat kebangsaan luntur, moral publik merosot, boleh dikata tidak punya malu, harga diri runtuh, terjebak kepicikan agama dan etnis, merebak demokrasi prosedural dengan ekspresi gaya preman, kedaulatan pangan hancur, pendidikan remuk redam, marak proyek rente ekonomi, kesehatan jeblok jadi bagian pasar pabrik obat, hukum kehilangan wibawa serta penuh dengan penegak yang menjadi koruptor, maling, perampok.Ini semua akibat dari pilihan politik ekonomi yang menjilat “penjajah korporasi lintas negara”
  6. Pendidikan menurut almarhum Soedjatmoko, merupakan ranah untuk berbagi pengalaman batin dengan sesama anggota masyarakat. Tidak ada satu pun persoalan bangsa yang lepas dari perhatian, telaah, dan tawaran jalan keluarnya. Soedjatmoko menunjukkan betapa rapuhnya struktur sosial masyarakat majemuk. Maka dari sana lahir keyakinan tentang kebutuhan mekanisme efektif bagi resolusi konflik dan ketangguhan sosial, tepatnya daya lenting (resilience) masyarakat. Daya lenting membuat sebuah bangsa bertahan bukan karena paksaan stabilitas dari luar diri, melainkan bersumber dari dalam dirinya. Sosok Soedjatmoko (Koko) melalui karya-karyanya, satu di antaranya harapan pak Koko terhadap peranan agama untuk mengatasi berbagai persoalan dunia. Tentu ini hanya salah satu proses belajar, saat ia menyaksikan persoalan keprihatinan yang membelit dunia.

Ternyata dari seluruh pembicaraan itu, ujung persoalannya ada dicara berfikir, dan cara berfikir merupakan produk dari pendidikan []