Blog

Pendidikan Alternatif Kian Relevan dengan Perkembangan Zaman

Pendidikan alternatif menggeser paradigma pendidikan formal yang kaku ke arah pendidikan demokratis yang menekankan hubungan, kesetaraan, dan otonom.

Dok.SALAM Yogyakarta

Dalam dunia yang gemar menyusun barisan dan membagikan nilai rapor sebagai ukuran kebajikan hidup, pendidikan alternatif datang seperti anak bandel yang menolak ikut upacara bendera. Ia bukan tidak cinta tanah air—ia hanya ingin bertanya kenapa bendera harus selalu dikibarkan pukul 07.00 tepat, kenapa anak harus duduk diam mendengarkan guru yang kadang mengantuk, dan kenapa ujian nasional menjadi lebih penting dari pertanyaan anak tentang kenapa langit biru.

Asia Pacific Democratic Education Conference (APDEC) 2025 yang digelar di Bogor bukan sekadar pertemuan pelaku pendidikan alternatif dari berbagai negara. Ia seperti ruang tamu yang luas, tempat para tamu dari Jepang, Nepal, sampai Selandia Baru duduk lesehan bersama pendidik dari Yogyakarta yang sudah lama merasa bahwa sekolah bukanlah pabrik murid, melainkan ladang tumbuh manusia.

Monika Irayati, penyelenggara APDEC, mengatakan bahwa pendidikan seharusnya bukan petunjuk arah menuju pekerjaan, melainkan petualangan hidup. Kalimat yang akan terdengar berlebihan di telinga birokrat, tetapi justru menjadi makanan pokok bagi anak-anak yang muak menjadi produk massal. Pendidikan, dalam versi yang mereka bawa, bukan daftar mata pelajaran, tetapi daftar pertanyaan yang ingin dijawab dengan segenap tubuh dan rasa ingin tahu.

Dalam kerumunan jargon “transformasi pendidikan,” istilah “alternatif” tampak seperti jalan kecil yang menyimpang dari jalan tol nasional. Namun, jalan kecil itu justru menawarkan pemandangan yang lebih segar. Di Sanggar Anak Alam (SALAM), misalnya, anak-anak tidak disuruh belajar ilmu alam, tetapi belajar dari lingkungan di sekitarnya. Kurikulum tidak diturunkan dari kementerian, tetapi tumbuh dari tanah—dari keingintahuan anak yang berbeda-beda dan tidak bisa diseragamkan, seperti wajah mereka.

Pendidikan alternatif menjadi kata yang mencurigakan di tengah sistem yang sangat percaya pada angka, standar, dan seragam. Di Taiwan, kecurigaan itu mulai mencair. Pemerintahnya mendanai eksperimen pendidikan, membiarkan anak-anak belajar di luar sistem, tetapi tetap diakui oleh negara. Bahkan ijazah pun disediakan. Di Australia dan Thailand, jalan serupa sedang dirintis. Barangkali mereka tahu, anak-anak bukan robot yang bisa diprogram, melainkan makhluk hidup yang tumbuh dengan irama berbeda.

Tapi Indonesia masih berdiri ragu. Pemerintah tahu ada 3,5 juta anak putus sekolah. Tahu juga bahwa sekolah gratis belum cukup memanusiakan anak. Tapi tetap saja sistem lebih suka mencatat angka ketimbang mendengarkan suara bocah yang bilang, “Aku ingin belajar cara membuat roket, bukan menghafal planet.”

Dalam dunia pendidikan alternatif, orangtua tidak bisa bersikap seperti pelanggan sekolah. Mereka tidak bisa sekadar menitipkan anak ke sistem. Mereka harus turun tangan, belajar kembali bersama anak. Mungkin karena itulah pendidikan demokratis terdengar melelahkan: ia menuntut keterlibatan, bukan sekadar kepercayaan.

Namun, barangkali itu memang harga dari pendidikan yang benar: bukan menyuruh anak ikut sistem, tetapi menciptakan sistem yang bisa ikut tumbuh bersama anak. Dan di sini kita belajar bahwa pendidikan yang sungguh-sungguh demokratis tidak dibangun di atas papan tulis, melainkan di atas keberanian untuk mengakui bahwa tidak ada satu pun cara belajar yang cocok untuk semua anak.

Sementara sistem pendidikan formal masih mencari cara agar seluruh anak bisa duduk tenang dalam barisan yang sama, pendidikan alternatif sibuk menyiapkan kursi yang bisa diubah menjadi ayunan, meja yang bisa digambar sesuka hati, dan halaman belakang yang bisa menjadi laboratorium kehidupan. Karena dalam dunia anak-anak, pelajaran paling penting bukanlah tentang mengerjakan soal, tapi tentang bertanya tanpa takut salah.

Dan dalam dunia seperti itu, mungkin kita akan menemukan bahwa alternatif bukan jalan memutar, tetapi jalan yang justru lebih dekat menuju manusia yang utuh.

Kita perlu mengakui bahwa sistem pendidikan kita selama ini terlalu sibuk menyiapkan anak-anak menghadapi masa depan, sampai lupa membiarkan mereka hidup di masa kini. Pendidikan alternatif bukan solusi ajaib, bukan juga pelarian dari sistem formal—ia adalah upaya serius untuk mengembalikan makna belajar kepada yang paling berhak, yakni anak-anak itu sendiri.

Di tengah rutinitas sekolah yang sibuk mencetak ijazah dan memupuk kompetisi, pendidikan alternatif mengajukan tawaran sederhana: bagaimana jika belajar itu dinikmati, bukan ditakuti? Bagaimana jika setiap anak tumbuh sesuai iramanya sendiri, dan bukan hasil penyeragaman nasional?

Mungkin sudah waktunya kita berhenti menanyakan: “Anak ini nanti jadi apa?” dan mulai bertanya, “Anak ini sekarang sedang ingin jadi siapa?” Sebab dalam tanya yang jujur itulah, pendidikan bisa kembali menjadi taman bermain, bukan ruang ujian. Dan bangsa yang baik, barangkali, dimulai dari anak-anak yang dibiarkan tumbuh utuh, bukan sekadar lulus.

Sumber: https://www.kompas.id/artikel/pendidikan-alternatif-kian-relevan-dengan-perkembangan-zaman.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *