PERAHU KERTAS SINBAD

Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad

yang tak takluk pada gelombang, menjelma burung

yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan;

di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.

“Tuan, jangan kau ganggu permainanku ini.”

 (Sapardi Djoko Damono; 1982)

Saya mencintai puisi berjudul “Di Tangan Anak-Anak” itu, juga sastrawan besar dibaliknya. Alm. Eyang Sapardi pernah bilang, katanya puisi itu multi-interpretasi. Jadi, interpretasi singkat ini, saya anggap sahih bagi diri saya sendiri heuheu… Dulu ketika masih kanak-kanak, saya senang menyulap kertas menjadi perahu, meskipun bukan perahu Sinbad yang ada dalam bayangan. Tiap jengkal lipatannya harus presisi, karena saya tahu, kalau tidak, maka perahu saya akan karam. Saya sangat serius ketika mulai melayarkannya di parit depan rumah. Jadi, puisi itu berbicara tentang keajaiban yang saya lakukan 12 tahun lalu di depan rumah tohh...

Bapak, Ibukk… anak-anak selalu serius dalam permainan dan percobaannya. Mereka membangun ruang-ruang imajinasi sembari bermain dengan barang-barang yang ia temui di sekitarnya. Ada sederet impian yang mereka coba raih dengan permainan yang mereka ciptakan. Untuk itu, jangan redam imajinasinya. Bila anak-anak memainkan ampas kelapa parut, maka biarlah. Begitulah caranya mengetahui, bahwa kelapa parut dapat mengeluarkan sari yang disebut dengan santan. Tumpahan tepung di dapur dapat disapu, bercak noda di baju dapat disamarkan, tetapi impian yang mati tidak mudah direngkuh kembali.

Erikson dalam teorinya mengenai tahapan perkembangan psikoanalisis mengelompokan anak-anak (0-12 tahun) dalam empat tahapan berbeda. Pada tahapan ketiga dan keempat, anak-anak (3-12 tahun) melalui fase yang disebut “Initiative vs Guilt” dan “Industry vs Inferiority”. Pada fase ketiga, anak-anak akan mulai mencoba dan melakukan observasi terhadap berbagai hal baru dari benda-benda yang ditemuinya. Membuat percobaan adalah juga penerimaan akan kegagalan. Pada fase ini, anak-anak membutuhkan dukungan untuk terus mencoba, walau ia juga harus gagal. Dukungan orangtua membangkitkan gairah anak-anak.

Pada fase keempat, anak-anak mulai menyadari bahwa, terkadang imajinasi dan impiannya berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Maka, anak-anak butuh dihargai dan diterima. Jadi dokter boleh, jadi seniman boleh, jadi guru boleh, jadi apapun boleh… Jangan tuntut anak untuk menjadi sama dengan anak yang lain.

Di tangan anak-anak, kertas dapat menjelma perahu Sinbad,

Di tangan anak-anak, kertas juga dapat menjelma topi perawat.