UANG SEBAGAI ALAT BELAJAR

Suatu hari, si gadis cilik bertanya: apa itu Van Gogh? Matanya mengintip dari balik buku berjudul ‘Judy Moody’ yang sedang ia baca. Jika ia menanyakan sesuatu di sela-sela membaca, pastilah hal tersebut menarik minatnya.

Ini peluang yang bagus dan sayang dilewatkan. Maka sebagaimana dengan rasa ingin tahunya pada hal-hal lain, saya pun merespon pertanyaan kali ini dengan gegap gempita. Lebih dari si penanya itu sendiri.

Kebiasaan orang tua yang beranggapan jika semakin lama menjelaskan akan semakin baik, membuat si gadis cilik cepat bosan. Kupandangi wajahnya, dan kutanya apa ia tahu berapa harga lukisan-lukisan itu. Matanya berbinar, pertanyaan itu menghilangkan rasa bosannya.

Trik ini mengkonfirmasi apa yang selama ini sekadar asumsi belaka. Benar bahwa gadis kecil ini begitu tertarik dengan uang: senang menghitung uang, senang dengan ide memiliki banyak uang dan gencar melakukan usaha-usaha untuk mengumpulkan uang.

Banyaknya deretan angka pada harga lukisan-lukisan itu membangkitkan rasa penasarannya, dan menjaga antusiasmenya selama diskusi berlanjut. Ia segera suka pada lukisan-lukisan Van Gogh, Starry Night jadi favoritnya. Ia mengambil buku gambar dan dengan pulpennya, segera menggambar langit berbintangnya sendiri. Gagasan yang semula hanya ada dalam buku, telah memantik rasa ingin tahunya dan mengantarkannya melakukan tindakan baru.

Awalnya mengakui lalu menggunakan gagasan ‘uang’ sebagai motivasi, bagi saya agak mengganggu. Entah kenapa, meski saya lebih dari tahu kalau sampai sekarang uang masih jadi alat tukar paling dominan (kalau tidak bisa dikatakan satu-satunya), rasanya agak berlebihan menggunakan uang sebagai motivasi. Apalagi pada anak-anak.

Ada ketakutan kalau-kalau dengan motivasi itu, akan timbul sikap tamak pada anak. Juga ketakutan kalau anak akan menjadikan uang sebagai alat ukur pada setiap hal yang ia temui.

Sampai kemudian saya teringat waktu mengikuti workshop Charlotte Mason bersama Ellen Kristi. Waktu itu mbak Ellen bertanya: kelak, Anda ingin anak menjadi apa? Kebanyakan peserta, termasuk saya, menjawab ingin anak menjadi dokter, peneliti, guru, presiden. Pendeknya, kami para orangtua ingin anak kami menjadi orang yang berbudi dan berguna.

Sambil memandangi kami, mbak Ellen bertanya kenapa tidak ada yang ingin anaknya menjadi orang yang sejahtera dan berkecukupan secara materi. Apakah memiliki uang yang cukup adalah sebuah hal yang memalukan? Kami semua tahu jawabannya tidak. Tapi entah, pikiran itu tidak terlintas di kepala. Saya berasumsi, mungkin pikiran-pikiran kami ini mencerminkan pikiran masyarakat pada umumnya: tabu jika bicara soal uang. Kesan tabu inilah yang membuat kita jadi jarang membicarakan uang, dan perlunya kebijaksanaan dalam mendapatkan, menggunakan dan mengelolanya.

Uang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi uang mampu memberikan kita akses pada kesehatan, tempat tinggal bahkan pendidikan, yang menjadi salah satu indikator penentu kebahagiaan. Benar uang bisa membuat lupa diri, lupa kawan bahkan lupa daratan. Tapi benar juga bahwa ada banyak orang yang kehilangan tujuan dan gairah hidup karena tak punya keterampilan yang cukup untuk ditukar dengan uang.

Mengingat hal itu, terpikir bahwa tidak apa-apa menggunakan uang sebagai penyemangat. Ketertarikan anak pada sesuatu bisa kita gali lebih dalam dan ‘dimanfaatkan’ untuk membantunya mempelajari keterampilan-keterampilan tertentu.

Tidak lama ini misalnya, si gadis cilik tiba-tiba punya gagasan untuk menghasilkan uang dari menjual stiker. Ia memang senang menggambar. Waktu itu kertas gambarnya habis, jadi ia menggambar di buku bergaris. Kami lalu sepakat akan membeli kertas gambar dan spidol baru, dan ia akan menggambar dengan sungguh-sungguh.

Berawal dengan uang sebagai gagasan, si gadis cilik kemudian belajar membuat kesepakatan dan berusaha menepatinya. Ia juga belajar mengetahui bahwa ternyata butuh hitungan untuk menentukan harga jual. Ia juga baru tahu bahwa harga jual tak bisa ia tentukan secara asal. Yang tidak kalah penting, ia belajar bersabar pada penolakan.

Di sisi lain, obrolan tentang cara-cara mendapatkan uang membawa si gadis cilik pada pemahaman untuk menggunakan uang secara hati-hati. Uang saku mingguan yang ia dapatkan pernah ia kumpulkan selama beberapa waktu sampai cukup untuk membeli satu set mainan dokter-dokteran.

Adakalanya ketertarikannya pada uang membuat kami kewalahan. Tapi, ingatan akan banyaknya orang dewasa yang mudah terpedaya atau justru menghamba pada uang, membantu memanjangkan kesabaran kami. Jika si gadis cilik bisa mengumpulkan dan lalu membelanjakan uang, maka saya juga berharap kelak ia akan memahami bahwa dengan segala kekuatan dan kelemahan yang uang miliki, fungsi uang hanyalah alat. Tidak kurang dan tidak lebih.

Adalah tamak menjadikan uang sebagai tujuan, tapi sebagai sarana, uang -seperti sarana lain- bisa digunakan untuk menarik hal-hal bermanfaat lainnya.