Ide-Ide Mengapa Engkau Pergi Meninggalkan Aku?

Satu-satunya kendala terberat dengan bersekolah di SALAM dalam kondisi pandemi ini adalah perkara kehabisan ide. Hal ini menjadi sesuatu yang miris, mengingat konsep belajar di SALAM adalah bisa belajar di mana saja, kapan saja. Bagaimana bisa dalam keadaan yang tak terbatasi oleh kekangan-kekangan, kok mengalami kondisi kehabisan ide?

Pemikiran tersebut muncul beberapa hari setelah Bapak Toto mengirim sebuah pesan, pengingat untuk membuat catatan, tulisan untuk Website Salam . Saya sempat mengeluhkan pikiran saya tentang kehabisan ide pada Angger, anak saya, saat ia sudah merebahkan tubuhnya di kasur.

“Ngger, tolong dong kasih Ibuk ide, mumet mau nulis apa. Apa Ibuk cerita soal kengeyelanmu aja? Apa soal kita berantem? Apa soal Ibuk galak?”

“Ibuk berisik! Angger kaget, udah tidur kok diajak ngomong lagi, sih!” Angger menyahut, kesal.

Malam itu, saya merasa sedang menatap kaca. Ceritanya, beberapa jam sebelumnya, seperti biasa saya mengingatkan Angger untuk menuliskan jurnal hariannya. Angger pun mengeluh bahwa ia tak punya ide mau menuliskan apa di jurnalnya. Hari-hari sedang dilalui dengan biasa saja. Pada bulan ini, tak ada peristiwa yang istimewa di keluarga kami, tak ada perayaan ulang tahun, tak ada juga  jalan-jalan ke tempat wisata sesuai anjuran pemerintah dengan agenda PPKM-nya.

Keseharian kami diisi dengan tidur – bangun – mandi – makan – cek pesan dari fasilitator, kerabat, dan lainnya – ke toko tempat usaha kami dan berkegiatan di sana hingga sore – pulang – mandi – makan – tidur. Rutinitas yang sebenarnya sama saja dengan sebelum pandemi, hanya bedanya, saya dan anak saya kehilangan sesuatu yang asik, yaitu berinteraksi langsung dengan orang lain.

Setiap hari, waktu berjalan dengan cepat, namun seakan saya hanya jalan di tempat, dalam putaran waktu yang cepat itu. Muncul hari-hari di mana saya hanya ingin melayang menikmati putaran waktu. Dan mungkin saja, kebiasaan melayang tadi sudah terlanjur terjadi. Maka hari-hari membosankan itu menjadi semakin membosankan akibat kebiasaan baru yang muncul, yaitu menjalani hari-hari tanpa berkesadaran alias melayang.

Bisa jadi, anak saya pun sudah mengalami hal yang sama, yakni menjalani hari tanpa berkesadaran. Saat menyadari hal tersebut, saya bergidik ngeri. Hidup di dunia yang tidak sedang baik-baik saja, menjadi orang tua dari tiga anak dalam dunia yang sedang tidak nyaman, dan saya justru secara tak sadar  memilih mode melayang, oh astaga, ini sungguh kombinasi yang buruk dalam peran saya sebagai seorang ibu.

Satu hal yang saya lupa, meski punya kemiripan-kemiripan, anak saya adalah individu merdeka yang punya daya lentingnya sendiri. Ini baru saya sadari saat suatu malam, anak saya mengajak saya berpetualangan. Hal yang sudah tidak pernah kami agendakan, toh setiap menit memang kami sudah menghabiskan waktu bersama-sama.

“Ibuk, besok Minggu, apa Ibuk mau menemani Angger nyari ikan aligator di kalen dekat RT 5?”

“Hah? Ikan Aligator? Yo, nggak ada. Nek ada mesti dah rame dibasmi bapak-bapak petani. Lagian kan bahaya to ikan itu nek nyokot?”

Ya, saya maido. Entah karena saya tak percaya atau sebenarnya saya malas membayangkan diajak berpanas-panas di sawah mencari sesuatu yang mustahil. Namun, saya teringat pesan fasilitator Angger, Bu Wiwin, saat Angger masih kelas 1. Anak yang sangat aktif seperti Angger tidak butuh dilarang-larang. Daripada melarang tanpa alasan yang jelas, lebih baik mendampinginya dengan penuh.

Waktu itu Bu Wiwin menceritakan bagaimana ia dengan sukarela menuruti permintaan putranya untuk menemani mancing padahal sedang rewang di rumah tetangga. Berkat contoh dari Bu Wiwin, saya segera memperbaiki kalimat maido tadi. Ini adalah momen yang dimaksud Bu Wiwin, batin saya.

“Ok, Ngger, tapi setelah Ibuk masak. Setelah memastikan semua beres, baru kita jalan ke sana ya. Kita berdua tok, nggak usah sama adik-adik.”

“Jam 11, Buk? Apa jam berapa?”

“Belum tahu jamnya, pokoknya pasti jadi.”

Angger pun puas mendengar janji saya. Lalu ia pun tertidur.

Minggu siang, kami berangkat ke kalen. Dari perjalanan siang itu, saya jadi tahu kalau anak laki-laki saya yang masih kelas dua SD ini, sudah malu digandeng ibunya di hadapan teman mainnya. Tangan saya sempat dihempas saat kami melewati kerumunan teman Angger yang sedang bermain di tumpukan material milik tetangga kami. Wah, anak saya sudah besar, pikir saya.

Saya biarkan anak saya memimpin di depan. Kami blusukan ke saluran irigasi (kalen). Angger mengajak ke kalen yang memisahkan dua petak sawah, kalen ini adalah cabang dari kalen yang terbentang di depan rumah-rumah penduduk. Angger menunjukkan sisi kalen yang bersih, saya lihat banyak tumbuhan bisa tumbuh dalam kalen yang bersih. Selain itu, terlihat beberapa yuyu (kepiting kecil di sungai) malu-malu keluar masuk ke balik batu dan tumbuhan dalam kalen.

Angger juga menunjukkan kepada saya, bagian kalen yang kotor, airnya buthek (keruh) yang terlihat di sana, hanya sampah dan beberapa yuyu mati. Angger juga mengajak saya ke sisi kalen yang lain, berbuih, dan terkontaminasi minyak. Di bagian paling parah ini, bahkan ikan cethul pun tak nampak.

Kami tak menemukan ikan aligator. Kata Vading, teman main Angger, ikan aligator adanya di kali dekat Kampung Mataram, agak jauh dari tempat tinggal kami. Angger hanya mengambil beberapa ekor ikan cethul. Itu pun sebagian dibantu Vading. Saat melihat Angger enggan nyemplung, Vading menawarkan diri untuk mengambilkan cethul. Tak ragu-ragu, byur!

“Vading, mengko ibumu marah, lho.” kata saya padanya.

“Ora, ra po po, kok. Mengko garing. Aku mung ngewangi Angger.” -Tidak, tidak mengapa, kok. Nanti kering, saya hanya membantu Angger- begitu sahut Vading.

Sungguh Minggu siang nan hangat yang saya dapatkan hanya dengan tidak terlambat merespon permintaan sederhana Angger. Andaikan saya bersikukuh enggan berpanasan dan membuat alasan sibuk memasak atau mencuci atau membersihkan rumah, jelas saya tak akan menemukan penyegaran pikiran hari itu.

Lalu, pikiran tentang kehabisan ide perlahan larut bersama dengan berlalunya peristiwa belajar merespon permintaan anak. Lantas saya pun berpikir, dengan sumber daya pembelajaran tanpa batas yang bahkan bisa muncul melalui keputusan untuk merespon permintaan anak, saya rasa alasan-alasan kehabisan ide sangat mungkin diruntuhkan.

Syarat untuk menggali ide kini menjadi jelas untuk saya, yaitu dengan memaksimalkan penggunaan indera yang kita miliki. Pertama dengan mendengarkan suara di sekitar, selanjutnya dengan aktif merespon aneka peristiwa yang terjadi di sekitar. Tentunya hal tersebut sulit dilakukan jika saya terus berada dalam mode melayang.

Artinya, meski sempat berada dalam mode melayang karena mulai masuk batas lelah sebagai manusia, namun sebagai orang tua, saya harus mampu mengembalikan kesadaran diri secara penuh untuk hadir di rumah, tempat saya dibutuhkan oleh keluarga. Sungguh alangkah beruntungnya saya, Angger telah menjadi fasilitator, yang kemudian membantu saya menemukan cara untuk menemukan kembali ide-ide yang sudah saya tuduh pergi meninggalkan saya pada judul. []