Pendidikan Kritis, Itu Apa?

Akhir-akhir ini kosa kata Pendidikan Kritis terasa menggema, namun tak jelas apa yang dimaksudkan dengan yang dilontarkannya. Maka kali ini coba dinukilkan dari Buku Pendidikan Popular yang disunting oleh Roem Topatimasang, Toto Rahardjo dan almarhum Mansour Fakih. Bahwa pendidikan kritis merupakan salah satu paham dalam pendidikan yang mengutamakan pemberdayaan dan pembebasan. Perdebatan mengenai peran pendidikan di lingkungan praktisi pendidikan kritis, tidak berbeda dengan para penganut gerakan sosial untuk keadilan dan para penganut teori kritik lainnya. Mereka memiliki tradisi kritis terhadap sistem kapitalisme dan mencita-citakan perubahan sosial menuju masyarakat yang adil dan demokratis. Namun, ketika sampai pada pembahasan tentang kaitan antara pendidikan dan peranannya dalam perubahan sosial, mereka terbagi menjadi dua golongan yaitu:

Golongan pertama adalah penganut paham “reproduksi”. Golongan

ini sangat pesimis bahwa pendidikan memiliki peran untuk proses perubahan sosial menuju transformasi sosial—Golongan inimenganggap bahwa pendidikan dalam sistem kapitalisme memang berperan mereproduksi sistem itu sendiri. Maka pendidikan akan melahirkan peserta didik yang akan memperkuat sistem tersebut dalam masyarakat.

Golongan kedua adalah penganut paham “produksi”. Golongan ini meyakini bahwa pendidikan mampu menciptakan ruang untuk menumbuhkan resistensi dan subversi terhadap sistem yang dominan.

Bukankah pada saat itu sebagian besar tokoh nasional memimpin bangsa untuk melawan penjajahan, kolonialisme dan imperialisme—mereka justru lahir dari hasil sistem pendidikan yang dimaksudkan untuk mempertahankan dan melanggengkan kolonialisme? Bagi penganut paham ini, pendidikan senantiasa mempunyai aspek pembebasan dan pemberdayaan, jika dilakukan melalui proses yang membebaskan serta dilaksanakan dalam kerangka membangkitkan kesadaran kritis. Pandangan pendidikan seperti itulah yang akan melahirkan aliran pendidikan yang kita sebut sebagai pendidikan kritis.

Pijakan dasar tradisi pendidikan kritis adalah pemikiran dan paradigma yang secara ideologis melakukan kritik terhadap sistem dan struktur sosial, ekonomi dan politik yang tidak adil. Pendidikan dalam paham ini merupakan media untuk resistensi dan aksi sosial yang tidak dapat dipisahkan dan merupakan bagian dari proses transformasi sosial. Pendidikan kritis merupakan proses perjuangan politik. Bagi penganut pendidikan kritis, ketidakadilan kelas, diskriminasi gender, serta berbagai bentuk ketidakadilan sosial lainnya seperti hegemoni kultural dan politik serta dominasi melalui diskursus pengetahuan yang merasuk di masyarakat, akan terefleksi dalam proses pendidikan. Refleksi ini harus menjadi cermin kondisi sosial dalam dunia pendidikan.

Proses pendidikan merupakan proses refleksi dan aksi (praksis) dari seluruh tatanan dan relasi sosial. Pendidikan juga merupakan proses refleksi dari peran dan cara kerja sistem dan struktur sosial yang menyumbangkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan sosial. Tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang untuk mengembangkan sikap kritis terhadap sistem dan struktur yang diskriminatif terhadap kaum tertindas dan kaum yang tersingkirkan seperti kaum miskin, kaum buruh, para penyandang cacat atau mereka yang memiliki kemampuan berbeda, kaum perempuan, dan anak-anak. Pendidikan juga memiliki tugas lain untuk melakukan proses dekonstruksi dan aksi praktis maupun strategis menuju sistem sosial yang sensitif dan nondiskrimiatif.

Pendidikan kritis sangat memerlukan perspektif kelas dalam kegiatan analisis. Analisis kelas merupakan perangkat dalam memahami sistem ketidakadilan sosial. Hampir semua golongan masyarakat menjadi korban dari sistem ketidakadilan kelas, namun karena mayoritas korban ketidakadilan kelas adalah masyarakat bawah, maka seolah-olah analisis kelas hanya menjadi alat perjuangan golongan miskin.

Analisis kelas mestinya bisa menjadi media untuk memahami dan membongkar sistem ketidakadilan sosial secara luas. Tanpa analisis kelas, perubahan sosial akan mengalami reduksi, dan hanya memusatkan perhatian pada perubahan manusianya saja. Proses berikutnya analisis kelas membantu untuk memahami bahwa laki-laki dan perempuan menjadi korban dan mengalami dehumanisasi, kaum buruh mengalami dehumanisasi yang disebabkan oleh eksploitasi, sementara kelas menengah sebagai penyelenggara eksploitasi juga mengalami dehumanisasi karena melanggengkan eksploitasi.

Baik penyelenggara eksploitasi maupun yang dieksploitasi, memerlukan proses yang membebaskan mereka dari sistem yang tidak adil tersebut. Maka proses pendidikan yang mengabaikan realitas kelas sosial akan kehilangan makna pemberdayaan dan pembebasannya. Analisis kelas dalam proses pendidikan difokuskan pada relasi struktur sosial ketimbang pada korban eksploitasi. Sehingga agenda utama pendidikan kritis tidak sekadar menjawab ‘kebutuhan praktis’ untuk mengubah kondisi golongan miskin, melainkan juga menjawab

kebutuhan strategis golongan miskin, yakni memperjuangkan perubahan posisi golongan miskin. Agenda tersebut termasuk melakukan counter hegemoni dan counter wacana terhadap ideologi sosial yang telah mengakar dalam keyakinan.

Hegemoni terjadi apabila golongan masyarakat yang tertindas dan tereksploitasi, secara suka rela mengabdi kepada penindasannya. Konsep hegemoni merupakan proses penjinakan ideologi dan budaya kaum tertindas dan tereksploitasi untuk ‘concent’ dan mengabdi secara sukarela kepada penindas. Dalam proses tersebut para pendidik secara tidak sadar justru berperan sebagai pelaksana hegemoni dari penguasa sehingga proses pendidikan tidak bisa lagi dilihat sekadar sebagai proses pengajaran yang netral dan bebas nilai. Apalagi rezim penguasa ekonomi dan modal banyak sekali mengeluarkan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan dalam rangka membangun kepentingan—sejak dari penjinakan ideologi hingga usaha untuk melariskan dagangannya. Oleh karena itu pendidikan senantiasa menjadi arena yang menarik untuk diperebutkan. Pertanyaan maupun pernyataan bahwa pendidikan tanpa kesadaran kritis terhadap hegemoni dominan, pada dasarnya mengelabui kenyataan.[]