Cinta Tak Bersyarat

Teman fasilitator menyampaikan ke saya, bahwa ada dua teman kelas saya yang diduga mencuci entah tangan atau kaki yang penuh lumpur di wastafel sekolah, hingga wastafel ditemukan dalam kondisi teramat kotor. Sesuai tradisi di SALAM, bahwa setiap peristiwa adalah sarana belajar, maka siang itu di sesi ke dua saya mengajak teman-teman kelasku berdiskusi.

Foto: Yanuar Surya.

Saya mengawali menanyakan siapa saja yang hari itu bertugas piket, baik membersihkan kelas, membersihkan halaman, membersihkan kamar mandi, dan wastafel. Saya mulai dari topik itu karena “kebetulan” hari itu beberapa anak tidak langsung mengerjakan piket sesuai kesepakatan yang dibuat bersama, harus diingatkan berulang-ulang. Saya menanyakan kepada semua yang bertugas hari itu apakah sudah menjalankan tanggungjawabnya menjaga dan membersihkan lingkungan sekolah. Tiba-tiba saja kami sudah terlibat dalam obrolan seru seperti,

“Aku sudah nyapu tadi pagi sebelum doa pagi!”

Atau, “Kamar mandinya tadi udah bersih kok, enggak bau, jadi aku tinggal guyur-guyur sedikit aja pakai air, trus udah.”

Yang lainnya berkomentar, “Aku piketnya siang, pas istirahat, soalnya aku tadi datangnya telat”.

Sementara temannya berujar, “Mbak, Mbak, aku udah mbersihin wastafel. Kotoooooor buangeeeeeeet lo Mbak wastafelnya itu. Mosok ada lumpurnya.”

“Wah, ada lumpurnya? Kok bisa ya?”, tanya saya.

“Itu paling ada yang main lumpur, trus cuci kaki di wastafel!”, anak lain berusaha memberikan pendapatnya.

Foto: Yanuar Surya.

Jangan heran kenapa ada lumpur?, karena sekolah kami memang ada di tengah sawah. Halaman sekolah kami juga masih berupa tanah. Kalau musim hujan, terkadang becek. Namun entah kenapa tak menyurutkan anak-anak SALAM untuk tetap bermain di halaman, bahkan tanpa menggunakan sandal. Terpeleset berkali-kali, baju kotor di sana-sini, jatuh – belepotan namun kemudian bangkit dan berlari lagi sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

“Cuci kaki di wastafel ya? Mungkin sih, soalnya kotorannya lumpur. Tapi sebenarnya kalau cuci kaki di wastafel itu tepat enggak sih?”, saya memancing lagi dengan bertanya.

Enggak lah, cuci kaki ya di kamar mandi. Nanti wastafelnya bisa rusak kalau kemasukan lumpur, bisa bumpet.”

“Waaaah, iya ya, itu sebabnya ya kenapa kalau kita cuci kaki harus di kamar mandi. Emmmm teman-teman, kira-kira itu terjadinya kapan ya, ada yang cuci kaki di wastafel, soalnya siang kemarin waktu Mbak Tyas cuci piring wastafelnya belum kotor kayak hari ini tu…”

“Palingan tadi pagi, Mbak!”, kata seorang anak nyeletuk.

Tapi temannya buru-buru menimpali, “Weh enggak yo, aku datang paling pagi tadi, nggak ada yang mainan lumpur trus ke wastafel kok…”

“Ooooo, jadi sepertinya nggak mungkin pagi ini ya? Berarti kapan?”, tanya saya.

“Yo berarti mungkin kemarin siang itu, ada yang main lumpur gitu Mbak..”

“Hmmmm ya…ya…”

Foto: Yanuar Surya.

Di saat saya sendiri sebenarnya masih kebingungan membawa arah perbincangan, tiba-tiba dua teman yang sedari tadi tidak berkomentar mengacungkan tangannya, “Mbak, mbak, yang cuci di wastafel itu aku sama Adnan”

“Oya? Gimana ceritanya?”, tanya saya.

“Kemarin tu kan nganu to, aku, Adnan, sama Mas Agam tu main perang-perangan pakai lumpur. Trus udah selesai to, trus aku sama Adnan cuci tangan di wastafel. Wastafelnya kotor sih soalnya banyak banget lumpurnya, tapi dah langsung tak guyur air. Ya mungkin nggak bersih-bersih banget sih, Mbak. Trus to, Mas Agam itu masih nyerang-nyerang gitu, padahal kan dah selesai, dia tu ambil lumpur pake tangan to, trus dilemparkan ke wastafel gitu, trus ditinggal.”

Sebetulnya saya cukup kaget dengan inisiatif mereka bercerita ini, sungguh di luarperhitungan saya. Keberanian mereka untuk bercerita tanpa diminta, bahkan ketika di depan-teman-temannya patut saya apresiasi. Bahkan dalam pergaulan orang dewasa sehari-hari sulit rasanya menemukan orang-orang yang berani bercerita jujur, lugas apa adanya, apalagi di hadapan banyak orang. Singkat cerita pengakuan jujur itu kemudian kami olah sebagai bahan diskusi untuk mengingat kembali salah satu kesepakatan bersama di SALAM, yaitu tentang menjaga lingkungan dan sekolah.

Setelah peristiwa itu saya kebetulan bertemu dengan Ibunya, lalu saya menceritakan diskusi yang baru saja terjadi. Saya mengapresiasi kejujuran putranya untuk bercerita siang itu. Kamipun terlibat dalam obrolan panjang yang hangat. Dari beliau saya mendapat cerita bahwa proses untuk menumbuhkan karakter jujur pada putranya ternyata tidak mudah. Dulu, kalau melakukan kesalahan putranya ini jarang mau bercerita. Si Ibu yang kadang-kadang sudah tahu (inilah hebatnya seorang Ibu ya, kayak ahli nujum, tahu saja apa yang dilakukan anak-anaknya) mencoba menahan diri. Alih-alih memaksa anaknya untuk bercerita atau “mengakui kesalahannya”, Ibu ini justru mengajak anaknya untuk berdiskusi tentang yang dirasakan ketika menyimpan atau menyembunyikan sesuatu (kesalahan).

Foto: Yanuar Surya.

Entah pada sesi diskusi yang keberapa saya lupa, akhirnya si anak ini mendapat pemahaman bahwa menyimpan kesalahan itu rasanya tidak enak, jadi harus diceritakan. Tapi si anak terlihat masih ragu-ragu, lalu mengajukan syarat supaya Ibunya tidak marah kalau dia menceritakan “rahasianya”. Ibunyapun mengiyakan permintaannya. Sejak itu si anak tidak lagi menyembunyikan cerita-cerita tentang kesalahan yang telah dilakukan, sebaliknya selalu bercerita apa adanya.

Ya, anak-anak kadang memilih untuk tidak bercerita atau bahkan memilih mengarang cerita bohong karena takut atau tidak nyaman pada respon orangtuanya, respon marah biasanya. Padahal dalam situasi seperti itu – menyimpan kesalahan yang sama dengan mengalami masalah — anak justru butuh dukungan kita, orangtuanya. Memang kadang sulit untuk bisa menerima, sulit untuk bisa “tenang saja” mendengar ceritanya. Yah, kalaupun kita menerima sulit untuk bisa menerima tanpa drama (apalagi untuk yang terlahir sebagai simbok-simbok drama queen, hahahaha). Pak, Buk, pada saat anak-anak kita, ataupun siapa anggota keluarga kita mengalami masalah (salah satunya mungkin karena melakukan kesalahan), maka sebenarnya dia sudah sibuk dengan dramanya, dengan masalahnya (kesalahannya) sendiri, sehingga yang dibutuhkan adalah cinta tak bersyarat, yang menerima apapun juga mereka. Bukan berarti kita melakukan pembiaran-pembiaran pada kesalahan, namun penerimaan adalah syarat utama untuk dapat membuka “kran” bercerita. Selanjutnya tentu saja kita dapat mengolah cerita-cerita tersebut menjadi diskusi-diskusi bersama anak yang dapat menumbuhkan perilaku baiknya. Jadi, sudahkah kita menjadi orang dewasa yang siap menerima cerita anak-anak kita. ***