Upaya Merintis Kelas Mandiri

“Berjalan sambil membuat jalan”, ini dapat menggambarkan proses yang dilakukan Sanggar Anak Alam (SALAM) dalam upaya membangun Laboratorium pendidikan dengan mewujudkan ekosistem belajar yang terdiri dari anak, orangtua, fasilitator, penyelenggara serta masyarakat.

Foto: Yanuar Surya.

Upaya ini mensyaratkan kelompok belajar dengan jumlah terbatas. Kami bersepakat setiap kelompok maksimal 15 orang/ keluarga. Jumlah yang sedikit dimaksudkan supaya relasi satu dengan yang lain lebih dekat sehingga komunikasi dan relasi bisa lebih intens dan terjaga. Sejumlah 15 keluarga yang lengkap berarti kelompok belajar ini akan berjumlah 45 orang aggota ditambah fasilitatonya.

Tentunya ada konsekuensi dari pembatasan jumlah ini.Kesempatan keluarga yang dapat bergabung di SALAM menjadi terbatas. Tidak menjadi besar juga berarti tidak membuka cabang di tempat lain.

Jika ada yang ingin menerapkan sistem belajar seperti di SALAM, maka kami terbuka untuk berbagi. tentunya diolah sesuai dengan konteks kehidupan lingkungan masing-masing.

Foto: Yanuar Surya.

Salah satu unsur penting untuk membangun ekosistem belajar seperti di SALAM adalah keluarga (orangtua dan anak). Pada Festival Sekolah Keluarga 2015, Pak Toto Rahardjo salah satu dari pendiri SALAM pernah memprediksi, bahwa ke depan orangtua akan menjadi penggerak utama sekaligus pengelola proses belajar, berarti ada kemungkinan bagi keluarga untuk menerapkan sistem belajar SALAM baik secara mandiri.

Ternyata prediksi itu benar, gayung bersambut tak selang lama ada keluarga yang dengan berani menyampaikan keinginan untuk menggunakan sistem belajar SALAM secara mandiri. Pak Rona yang semula bermaksud mendaftarkan anaknya di kelas 1 SD tidak dapat diterima karena kapasitas sudah terpenuhi. Namun, semangat dan keberaniannya membuatnya bertanya ”apakah memungkinkan kalau kami menerapkan sistem belajar SALAM sendiri?, kalau ada 2, 3 keluarga yang berminat apakah SALAM bersedia memfasilitasi kami untuk memulai?”.

Foto: Yanuar Surya.

Pada bulan Februari 2017, kami mengundang semua keluarga untuk mendiskusikan gagasan untuk mendirikan Kelas Belajar Mandiri. Dari 20 keluarga, ada 5 keluarga yang datang untuk berdiskusi. Lima keluarga yang bersepakat untuk mengabarkan pada keluarga yang lain. Kemudian, bertambahlah keluarga yang bergabung dan sampai saat ini ada 9 keluarga.

Beberapa kali pertemuan dilakukan untuk mempertajam gagasan, mendiskusikan hal prinsip dan teknis, serta melakukan persiapan-persiapan. Pembentukan pengurus, pembagian peran pun dilakukan untuk memudahkan koordinasi dan pengelolaan. Kelas mandiri pun siap untuk memulai proses belajar pada smester awal.

Berjalan Sambil Membuat jalan.